SORE digayuti mendung. Jakarta lazimnya hari-hari kerja, dipadati arus kendaraan. Perjalanan saya dari Cibubur ke Rawamangun membutuhkan waktu hampir 50 menit.

Kampus Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Jumat (23/12/2011) sore masih ramai oleh mahasiswa yang lalu lalang. Tampak ada aktifitas pembangunan di kompleks kampus yang terletak di Jl Pemuda, Jakarta Timur itu. Usai membayar karcis parkir Rp 1.000, saya mencari lokasi parkir. Ratusan sepeda motor memadati jalan di sekitar gedung fakultas ilmu budaya (FIB) dan fakultas ilmu sosial (FIS). Bro Azdi, mahasiswa UNJ memandu saya memarkirkan motor. “Motor menjadi favorit mahasiswa,” kata bro Wahyu, mahasiswa UNJ lainnya.
Sore itu, kami dari Road Safety Association (RSA) diundang komunitas Socio Bikers untuk berbagi dalam soal keselamatan jalan dalam ajang Diskusi Kamis Sore (DKS). Selain saya, ada bro Roky, bro Lucky, dan bro Rio, sang ketua umum RSA. Belakangan, setelah diskusi berlangsung sekitar dua jam, datang bro Joan.
Ajang seperti ini kerap kami lakukan. Berbagi soal keselamatan jalan dengan para intelektual muda.
“DKS agenda rutin kami, kali ini kami ingin membahas soal road safety,” tutur bro Paceng, aktifis DKS yang juga mahasiswa sosiologi UNJ.

Sedangkan Socio Bikers adalah komunitas pengguna sepeda motor para mahasiswa Sosiologi UNJ yang berdiri sejak 8 Desember 2006. “Kami juga ada kegiatan touring,” jelas bro Bram.
Soal keselamatan jalan, bro Paceng berpendapat, implementasi keselamatan jalan harus dimulai dari diri sendiri. Maklum, problem mendasar adalah seputar perilaku pengendaranya.
“Ada kultur yang membentuk perilaku individualis. Bahkan ada motto bahwa peraturan ada untuk dilanggar. Masyarakat lebih peduli diri sendiri,” ujar bro Pak De, antusias.

Bro Rio menimpali bahwa soal kecelakaan lalu lintas jalan titik beratnya ada pada faktor manusia. “Motornya tidak salah, tapi bagaimana the man behind the gun,” tukasnya.
Dia menyoroti ekses dari kecelakaan. Pendekatan yang dibutuhkan saat ini adalah sejauhmana kecelakaan bakal berdampak pada korban, keluarga, dan orang sekitar. “Kita beritahu soal dampak sosial dan ekonomi, selain kerugian jiwa,” seloroh Rio.
Bro Ega senada. Bahkan, dia berharap penjelasan regulasi keselamatan jalan memakai kerangka pendekatan psikologis.

Tak urung saya sodorkan fakta soal dampak sosial dan ekonomi tahun 2010. Saat itu, akibat kecelakaan lalu lintas jalan, setiap hari ada 86 korban jiwa. Sedangkan ekses ekonominya, secara langsung dan tidak langsung, menimbulkan kerugian hingga Rp 200 triliun. Artinya, jika kecelakaan bisa dicegah kerugian itu bisa diperkecil.
DKS menempati bangunan mirip pendopo di sudut Gedung K, FIS UNJ. Kami duduk melingkar beralaskan lantai plesteran semen. Di sekitarnya lalu lalang mahasiswa dan civitas akademika. Sebagian lagi asyik masyuk bercengkerama dan aksi unjuk kesenian bermusik di tepi jalan. “Mereka adalah mahasiswa FIB,” tutur bro Azdi.

Aksi Konkret

Diskusi terus mengalir. Mulai soal rendahnya sinergi para stakeholder keselamatan jalan, teknis keselamatan jalan bagi pemotor, hingga rendahnya kemauan politik pemerintah. “Sudah terlalu banyak teori, tapi praktiknya minim,” sergah bro Rio.

Karena itu, menurut bro Ega, pihaknya berharap ada tindak lanjut dari diskusi kali ini. Dia berharap, tindak lanjut itu merupakan aksi konkret bagi lingkungan.
Sontak bro Rio menyodorkan gagasan soal gerakan sadar keselamatan jalan di lingkungan kampus. Ajak rektorat agar peduli soal keselamatan jalan dengan menjadikan kampus sebagai kawasan percontohan keselamatan jalan.

Saya juga sodorkan soal pemanfaatan moment sebagai ajang penularan virus keselamatan jalan. Mulai dari komunitas mahasiswa hingga ajang penerimaan mahasiswa baru. Tentu dibarengi dengan reward dan punishment-nya.
“Kami berharap juga bisa menggelar seminar untuk warga kampus untuk menjangkau lebih luas lagi,” tukas bro Ega.
Ya. Kegiatan diskusi seperti DKS di UNJ adalah ajang berbagi dan menanamkan kesadaran keselamatan jalan. Setelah itu yang tak kalah penting adalah implementasinya. Banyak aspek untuk mencegah dan mengurangi kecelakaan lalu lintas jalan.
“Salah satunya yang penting adalah mewujudkan transportasi massal yang aman dan nyaman,” tegas bro Rio.
RSA sudah sejak empat tahun belakangan meneriakan soal pentingnya transportasi massal yang aman, nyaman, selamat, tepat waktu, dan terjangkau. Walau, kami juga menyadari pentingnya aspek lain seperti pengubahan perilaku menjadi lebih mau berbagi ruas jalan. Lalu, penegakan hukum yang tegas dan konsisten, serta kelengkapan rambu dan marka jalan. Dan, yang tak kalah penting, mengajak para produsen otomotif untuk lebih giat mengedukasi konsumennya.
“Sekarang kan kendaraan banyak sehingga terjadi pelanggaran,” kata bro
Bram, wakil ketua Socio Bikers.
Diskusi yang bergulir sejak sekitar pukul16.44 hingga 19.45 WIB memang sudah semestinya dituntaskan dengan aksi nyata. Mulai dari diri sendiri.

About RSA Admin

RSA memfokuskan diri pada isu-isu pentingnya keselamatan jalan dengan menekankan ketaatan kepada peraturan lalu lintas, perilaku berkendara yang tepat dan standar minimum keterampilan berkendara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *