Solo, Kota Dengan Transportasi Publik Ideal
Melihat tayangan acara “Catatan Si Moda” di stasiun televisi ANTV menjadikan saya bermimpi apakah Jakarta bisa seperti itu, namun sepertinya hanya bisa menjadi mimpi.
Acara tersebut mengulas sistem transportasi publik di kota Solo, mulai dari adanya bus Batik Trans Solo, sejenis bus Trans Jakarta, namun dengan dimensi lebih kecil. Bus Batik Trans Solo saat ini baru memiliki 15 armada dengan jumlah 1 (satu) koridor dan rencananya akan ada 7 koridor. Transportasi Batik Trans Solo ini menganut sistem “bus priority” dimana traffic light akan otomatis menyala hijau jika bus ini melintasi traffic light.

Kondisi lalu lintas di Kota Solo dipantau menggunakan perangkat GPS yang terpusat di ITS (Intelligent Traffic System) yang bertempat di kantor Dishub Kota Solo, yang bertugas memantau kondisi lalu lintas kota Solo selama 24 jam.

Di Solo juga membuat jalur lambat yang khusus dibuat untuk kendaraan non bermotor seperti : becak dan sepeda, menurut pengamat transportasi, Joko Setyowarno, kota Solo memiliki jalur lambat terpanjang di Indonesia, yakni sepanjang 30km. “Sistem transportasi publik sebaik ini juga karena adanya kepedulian dari pemimpin kota, dan Solo sudah menjadi kota percontohan penerapan transportasi publik yang ideal” ujar Joko.

Seperti kita ketahui, Solo memiliki pemimpin yang sangat disegani oleh masyarakat karena ide-ide briliannya dalam mewujudkan kota Solo yang modern dengan tanpa menghilangkan ciri khas kota Solo yang asri dan nyaman. “Jangan menunggu macet dulu baru mengambil tindakan, gak akan bisa” tambah Joko.

Acara yang diawal sesi juga mengulas tentang bus Trans Jakarta dan juga menanyakan beberapa pengguna jalan mengapa lebih memilih kendaraan pribadi dibandingkan menggunakan kendaraan umum seperti bus Trans Jakarta. Jawaban yang hampir seragam didapat dari pengguna jalan tersebut, “ya kalo transportasi publik nya sudah nyaman dan aman, kami mau naik”
Selesainya acara ada satu pertanyaan besar mengganjal, “Bisakah kota Jakarta mencontoh kota Solo?” (lucky subiakto)
Penulis adalah Kadiv. Humas RSA

Belum ada komentar
Jadilah yang pertama tinggalkan komentar!