BANYAK hal yang bisa dilakukan kalau kita mau. Walau, kemauan sudah ada, kadang tindakan masih belepotan. Jauh dari sasaran yang ingin dicapai.

Soal upaya mengurangi fatalitas kecelakaan hingga 50% pada 2020, semua pihak punya andil. Semua lini punya peran.

Seingat saya, pemerintah Indonesia baru pertamakali menggelar ajang World Day of Remembrance (WDOR) bagi korban kecelakaan lalu lintas jalan pada 2012. Sekalipun, World Health Organization (WHO) menetapkan sejak lama, setiap 18 November sebagai hari Perenungan Bagi Korban Kecelakaan Lalu Lintas Dunia.

Momentum merenung semestinya juga bagian dari introspeksi kita. Apa yang sudah dilakukan. Apa faedahnya. Apa yang belum dilakukan. Semua lini.

Pemerintah bisa berbuat banyak sesuai tugasnya. Kementerian Pekerjaan Umum misalnya, memastikan kondisi jalan dalam keadaan baik. Aman dan layak dilintasi para pengguna jalan. Tentu, mesti bersinergi dengan pemerintah daerah.

Begitu juga kementerian perhubungan yang bertanggung jawab atas terciptanya moda transportasi yang aman, nyaman, dan selamat. Lalu, kementerian perindustrian yang mendorong industri otomotif menjadi lebih safety.

Demikian juga dengan kementerian ristek dan para pejabat pemerintah daerah. Apalagi pihak Kepolisian RI. Andilnya besar untuk meningkatkan kedisiplinan berkendara. Termasuk melegalkan kompetensi seseorang untuk bisa mengemudi kendaraan.

Para stakeholder yang sudah melaksanakan fungsinya, kita dorong agar lebih sinergis. Menjalankan program yang berkesinambungan dan saling menopang. Sinergi bisa terbentuk jika ada kemauan bekerjasama. Termasuk, ada sosok yang mau tampil sebagai pemimpin.

Ketika para stakeholder jalan sendiri-sendiri, bukan mustahil apa yang ditargetkan hanya jadi harapan. Ibarat mimpi di tengah siang bolong. (edo rusyanto)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *