Seorang mantan Menteri Perhubungan mengakui, pada 1999, sempat dilontarkan ide lampu utama sepeda motor langsung menyala saat mesin dihidupkan, layaknya motor-motor di Eropa saat ini.

Tapi, kata dia, ide itu ‘dilumpuhkan’ para politisi di Senayan sana. “Sang Menteri didomplengi para produsen aki, sehingga kalau lampu nyala terus akinya harus sering gonta -ganti,” ujar sang mantan petinggi itu, mengutip pergunjingan para politisi di parlemen.
Sekarang, 10 tahun kemudian, RUU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) yang disahkan 26 Mei 2009, dengan tegas menyebutkan, setiap sepeda motor wajib menyalakan lampu utama saat berjalan di siang maupun malam hari. Kalau tidak dijalankan, sanksinya denda sebanyak-banyaknya Rp 250 ribu atau kurungan badan paling lama satu bulan.
Banyak faedah bagi pengendara sepeda motor jika menyalakan lampu di siang hari. Terutama bagi pengendara di kota-kota besar yang lalinnya crowded. Soal aki? banyak testimoni yang mengaku tak tergangu oleh menyalakan lampu saat siang hari. “Biayanya tidak sebanding dengan risiko jika harus kecelakaan,” ujar lady bikers pengguna skutik.
Yah…ide yang tersimpan selama 10 tahun itu harus menelan banyak korban. brp banyak korban bikers akibat kecelakaan di jalan karena posisinya yg tidak terlihat karena tidak menyalakan lampu di siang hari? ribuan nyawa melayang sia-sia dan tersungkur menderita luka-luka bahkan cacat fisik.
Semestinya kita menanggalkan praduga yang tidak produktif untuk menciptakan terobosan mengurangi risiko kecelakaan di jalan. Jangan sampai harus menunggu 10 tahun, baru kita sadar manfaatnya. (edo rusyanto)

About RSA Admin

RSA memfokuskan diri pada isu-isu pentingnya keselamatan jalan dengan menekankan ketaatan kepada peraturan lalu lintas, perilaku berkendara yang tepat dan standar minimum keterampilan berkendara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *