rsa trotoarian liput

SAAT menerima undangan dari Koalisi Pejalan Kaki, saya bergegas mengajak relawan Road Safety Indonesia (RSA) untuk bergabung. Undangannya tidak tanggung-tanggung, deklarasi ‘Hari Pejalan Kaki Nasional.’

Tak butuh waktu lama, undangan yang diterima Senin (21/1/2013) sore, langsung direspons para relawan RSA. Secara organisasi, RSA pun menyiapkan pernyataan sikap dan dukungan material serta sumber daya manusia.

Ketika langit Jakarta masih dirudung mendung, sejumlah relawan bergerak dari tempat tinggal masing-masing ke Tugu Tani, Jakarta Pusat. Lokasi itu dipilih karena tepat setahun lalu, 22 Januari 2012, terjadi tragedi anak negeri. Sembilan pejalan kaki tewas diseruduk pengendara mobil pribadi. Kasusnya pun menjadi topik hangat. Sang penabrak dibui dan divonis 15 tahun penjara.

Selain saya, hadir sejumlah pengurus dan relawan RSA. Mereka adalah bro Lucky Subiakto, Nursal, Rio Octaviano, Wisnu, Soediandoro, dan Ayank Bunbun. Bahkan, bro Rio pada Selasa pagi pontang-panting mencari tempat mencetak spanduk secara instan. Akhirnya, dua spanduk besar pun bisa dibawa ke lokasi.

rsa trotorian nursal

Ketika saya tiba, teman-teman dari Koalisi Pejalan Kaki, seperti bro Anthony, bro Pudpud, dan sist Fitri, sudah ada di lokasi. Mereka juga kedatangan tamu dari Filipina dan Pakistan yang peduli kepada nasib pejalan kaki. Sejumlah awak media juga sudah tampak hadir. Kami pun bergabung.

“Hari Pejalan Kaki Nasional adalah monument waktu untuk mengingatkan kita tentang budaya jalan kaki,” ujar bro Anthony.

Menurut bro Pudpud, sudah selayaknya negara menyediakan fasilitas yang aman dan nyaman bagi pejalan kaki.
Sontak, “Tingkat kenyamanan dan keamanan dalam berjalan kaki di Jakarta, sangat tidak aman dan nyaman,” kata dia.

Tak heran jika kemudian pejalan kaki menjadi rentan dari kecelakaan lalu lintas jalan. Fakta, tiap hari, sekitar 18 pejalan kaki tewas akibat kecelakaan lalu lintas jalan di Indonesia. “Butuh penegakan hukum yang tegas dan konsisten agar pejalan kaki tidak dizalimi,” ujar bro Rio.

rsa trotoarian halte

Bagi saya, selain itu semua, edukasi kepada pejalan kaki juga penting. Berjalan kaki yang aman dan selamat. Tetap waspada, tidak lengah berjalan kaki di trotoar atau di jalan raya. Bahkan, perlu mengajak seluruh pengguna jalan untuk menghormati hak pejalan kaki. Tidak merampas trotoar sebagai hak pejalan kaki.

rsa trotoarian kedubes as

Menurut Anthony, fakta di Jakarta yang memiliki jalan sepanjang 7.200 kilometer (km), ternyata hanya 900 km yang dilengkapi dengan trotoar jalan. “Namun, hanya 10% dari seluruh trotoar yang dapat dikatagorikan ramah bagi pejalan kaki,” tegas dia.

Koalisi Pejalan Kaki mengingatkan kepada para pengendara tentang pentingnya berbagi jalan, pentingnya keselamatan bersama termasuk keselamatan pejalan kaki. Kelompok ini juga berharap tidak ada lagi perampasan zebra cross dan trotoar oleh pihak lain di luar pejalan kaki.

BBL5LWFCUAE4blF

Aksi sempat diguyur hujan deras. Para penggiat keselamatan jalan berteduh di halte bus Tugu Tani dan sebagian di halte lainnya. Ketika hujan mereda dan menyisakan gerimis, para relawan bergerak ke Balaikota DKI Jakarta. Berjalan kaki dari halte Tugu Tani menuju kantor Gubernur Djoko Widodo. Gerimis mengiringi perjalanan.

BBLrcEwCAAEbG2T

Namun, ketika melintas di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat (Kedubes AS), rombongan peserta aksi yang berjumlah belasan orang, dilarang melintas di trotoar jalan yang ada di depan kedubes. Trotoar ternyata hanya dipakai untuk pegawai kedubes dan para tamu. “Mohon maaf pak, harus berjalan kaki di jalan raya, kami hanya menjalankan tugas,” kata seorang petugas di depan kedubes.

rsa trotoarian lucky

Rombongan pun mengalah. Berjalan kaki di pinggir jalan raya dengan segenap risiko. Gerimis masih belum reda. Sekitar satu jam aksi usai, kami membubarkan diri. Perut sudah keroncongan minta diisi. (edo rusyanto)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *