PERBINCANGAN bergulir cukup hangat. Bro Humto, penyiar Radio Pelita Kasih (RPK), Jakarta memandu dengan apik. Saya dan bro Nursal dari Road Safety Association (RSA) Indonesia, larut dalam pembahasan bertajuk selamatkan pejalan kaki (save pedestrians) di acara ‘Obsesi’ RPK 96,3 FM, Kamis (9/5/2013) pagi.
Para penanya melalui pesan singkat (SMS) maupun telepon interaktif, menitikberatkan, bagaimana upaya agar pejalan kaki mendapat rasa aman dan selamat saat di jalan. Maklum, kita disodori fakta, rata-rata 18 pejalan kaki tewas setiap hari akibat kecelakaan lalu lintas jalan.

“Bagaimana peran negara untuk melindungi pejalan kaki?” Tanya Ibu Surya dari Jakarta, dalam dialog interaktif.

Sontak saya jawab dengan fakta saat ini yang menunjukan bahwa pedestrian atau pejalan kaki yang belum sepenuhnya mendapat rasa aman di jalan. Walau, ada sejumlah upaya pemerintah daerah dengan membuat trotoar jalan yang cukup aman dengan meninggikan permukaan trotoar. Faktanya, trotoar di terabas oleh para pengendara sepeda motor. Atau, trotoar di jadikan tempat berjualan para pedagang kaki lima. Bahkan, di sejumlah pasar di Jakarta, tidak ada ruang bagi pejalan kaki karena lahannya dipakai para pemilik took memajang barang dagangannya.

Negara wajib memberi rasa aman bagi seluruh pengguna jalan. Terkait dengan hak pejalan kaki, selain harus disediakan trotoar, juga harus tersedia marka dan rambu jalan untuk menyeberang. Di sisi lain, perlu jembatan penyeberangan orang (JPO).

“Program apa yang dilakukan RSA untuk mengurangi kecelakaan bagi pejalan kaki?” Tanya Pagar Sianipar, dari Bekasi dalam tanya jawab dan pesan singkatnya.

signboard-save

Kami di RSA melihat bahwa para pejalan kaki juga berkontribusi untuk terciptanya lalu lintas jalan yang aman dan selamat. Berjalan yang aman dan selamat salah satunya adalah dengan tetap fokus dan waspada. Jalan kaki tidak direcoki dengan aktifitas lain seperti berponsel atau melamun. Selain itu, menyeberang pada tempatnya dan selalu memperhatikan sekitar untuk memastikan situasi cukup aman untuk menyeberang.
Ajakan tersebut dilontarkan dalam ajang program rutin kopi darat keliling (kopdarling) yang digelar RSA tiap bulan. Pada kesempatan tertentu, seperti pada ‘Sepekan Aksi Selamatkan Pejalan Kaki’ yang digelar RSA pada 6-12 Mei 2013, aksi dilakukan dengan turun ke jalan. Menutup trotoar sesaat agar tidak dijarah pesepeda motor atau menjaga zebra cross agar aman dilintasi pejalan kaki.

Lalu, terhadap para pengguna jalan yang lain, khususnya para pengendara kendaraan bermotor, diajak untuk mesti memberi prioritas kepada pedestrian. Terlebih, jika pedestrian hendak menyeberang jalan. “Intinya, mesti saling toleransi dan mau berbagi ruas jalan,” kata bro Nursal.
Seorang pendengar dari Kelapa Gading, Jakarta Utara melontarkan pertanyaan cukup tajam. “Mengapa tidak ada larangan pejalan kaki yang melewati underpass?” Tanya dia.

Sang penanya mengaku pernah melihat seorang pejalan kaki yang melewati underpass di Pasar Senen, Jakarta Pusat. Dia sempat berpikiran, jangan-jangan sang penyeberang hendak bunuh diri.

Aturan yang berlaku saat ini sebenarnya cukup jelas. Dalam Undang Undang (UU) No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) ditegaskan, menyeberang harus pada tempatnya. Sedangkan bagi pelanggar marka dan rambu jalan bisa dikenai sanksi denda maksimal Rp 500 ribu. Atau, penjara maksimal dua bulan.
Nah, untuk memperluas pengetahuan masyarakat tentang aturan tersebut, Maunel dari Pasar Rebo, Jakarta Timur mengusulkan agar pemerintah memperbanyak cetakan buku UU. “Setiap orang yang mau bikin atau memperpanjang SIM harus memiliki buku undang-undang berlalu lintas. Jadi, tidak ada lagi alasan bahwa saya tidak tahu aturan yang ada,” kata dia.

signboard-jarahtrotoar_lsw rsa 2013

Karena itu, kata bro Nursal, RSA melakukan pendekatan ketaatan pada aturan (rules), perilaku berkendara yang beradab (attitude), dan berkendara yang terampil (skill). Ketaatan pada aturan tentu bermakna juga memahami dan mengetahui aturan yang berlaku saat ini.

Sekitar satu jam berbincang dalam ‘Obsesi’ memberi warna lain kampanye RSA untuk keselamatan para pejalan kaki. Bro Humto pun menutup siaran persis menjelang pukul 10.00 WIB. Kami pun berpamitan meninggalkan studio yang terletak di Jl Dewi Sartika, Jakarta Timur tersebut, tentu setelah menikmati segelas teh manis hangat. (edo rusyanto)

About Lucky

Disiplin, Tertib, Teratur. 3 hal inilah yang diajarkan oleh orang tua sejak saya kecil sehingga men-darah daging hingga saat ini. Semoga istiqomah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *