ARUS kendaraan memadati Jalan Terusan Jakarta,Antapani, Bandung. Aneka jenis kendaraan berseliweran. Langit cerah. Laju mobil yang kami tumpangi melambat. Menunggu bro Ridwan menjemput, memandu ke lokasi pertemuan. Tak lebih sepuluh menit, pria muda penunggang motor scooter itu, muncul. Memasuki sebuah bangunan permanen di sebelah masjid, sejumlah anak-anak muda dari berbagai komunitas dan klub otomotif duduk bersila di atas karpet dann tikar plastik. Di depannya terhampar kudapan tradisional dan air minum dalam kemasan (AMDK).

Saya duduk di depan mereka sambil mengoperasikan notebook yang dipancarkan oleh proyektor ke dinding ruang pertemuan. Silaturahim Road Safety Association (RSA) dengan relawan di Bandung, Minggu (28/10/2012) siang berlangsung sederhana. Saya didampingi tiga pengurus RSA yakni bro Lucky, bro Azdi, dan bro Bayu. Letih selama perjalanan Jakarta-Bandung sekitar tiga jam, raib ditelan semangat bersua para aktifis di Bandung.

Silaturahim berjalan Jauh dari kesan formal. Penuh kekeluargaan. Anak-anak muda yang peduli persoalan keselamatan berkendara di jalan larut dalam perbincangan. “Kegiatan yang sudah dan akan kami lakukan karena panggilan jiwa. Kita tahu jalanan makin semrawut, tidak aman. Makanya saya masuk RSA. Saya mendukung setiap kegiatan penyebaran keselamatan jalan,” kata Ibrahim, dari Nouvo Bandung. Pernyataan ibrahim menjadi keprihatinan hampir seluruh yang hadir siang itu.

Kita tahu, rata-rata korban tewas akibat kecelakaan lalu lintas jalan di wilayah Jawa Barat tiap hari sekitar sembilan jiwa. Angka itu dikutip dari data Korlantas Mabes Polri tahun 2010. Bandung sebagai ibu kota Jawa Barat juga menyimpan catatan kecelakaan yang memilukan. “Semoga ada titik cerah agar di jalan jadi aman dan nyaman. Semoga dari pertemuan ini melahirkan aksi nyata,” kata bro Iwan ‘black rider’.

Soal aksi menyebarluaskan kesadaran berkendara yang aman dan selamat, kata bro Ridwansyah, dirinya sudah merancang, tinggal dilaksanakan. “Program nyata yang bisa kami lakukan dalam waktu dekat adalah masuk ke komunitas-komunitas pemotor,” ujar dia yang siang itu menjadi tuan rumah. Sist Lisnawati dari T-Brac bahkan siap menularkan pentingnya berkendara aman dan selamat di lingkungannya. “Saya guru, pingin menularkan ke murid-murid saya di SMK otomotif,” ujar dia bersemangat.

Pilihan para relawan muda RSA untuk memulai dari lingkungan sekitar adalah amat logis. Saya sarankan agar berbasis akar rumput dan melakukan apa yang bisa dikerjakan. Tidak perlu muluk-muluk. “Ya, mungkin misalnya dengan membagikan selebaran yang berisi pesan keselamatan jalan,” kata bro Atep dari T-Brac. Guna memuluskan gerakan di Bandung dan sekitarnya, bro Ibrahim mengusulkan agar ada wujud oraganisasi yang menginduk ke RSA di Jakarta. Maklum, sudah memiliki badan hukum yayasan yang tercatat di kementerian hukum dan ham. “Hal itu mempermudah akses ke birokrasi,” tutur dia.

Saya menyarankan agar sebelum membentuk struktur kepengurusan cabang atau wilayah RSA Jawa Barat, agar calon pengurus diuji lewat aksi-aksi nyata. Sebelumnya, para relawan di Bandung menggelar aksi turun ke jalan membagikan selebaran berisi pesan keselamatan jalan. Aksi yang dilakukan pada Ramadhan 2012, serempak dilakukan RSA di beberapa kota, diantaranya Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Padang, Palembang dan Surabaya.

Pertemuan di Taman Kanak-kanak (TK) Hajjah Multazam Jl Purwakarta 169 Antapani, Bandung, siang itu, ditutup sekitar pukul 13.23 WIB. Saya jadi ingat pertemuan pertamakali dalam metamorfosa RSA. Kala itu, sekitar lima tahun lalu, pertemuan digelar di ruang kelas TK di Jakarta Timur. (edo rusyanto)

(foto: lucky)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *