Mendadak dikirimin message via YM sama temen :

http://www.klik-galamedia.com/indexnews.php?wartakode=20090107060736&idkolom=tatarbandung

Wah..ada apa ini? Jangan-jangan kena virus YM nya, tapi enggak ternyata, dia kasih tau, bahwa itu operasi yang kita lihat pada saat melintasi Cihampelas kemarin siang.

Rabu, 07 Januari 2009 250 Pengguna Helm Batok Jalani Sidang Tilang MERDEKA,(GM)- Sebanyak 250 pengendara sepeda motor yang tidak menggunakan helm standar, terjaring razia yang dilakukan Satuan Lalu Lintas Polwitabes Bandung, Selasa (6/1). Razia dilakukan di dua tempat berbeda, yaitu di depan Mapolwiltabes Bandung, Jln. Merdeka dan di depan Premier Plaza, Jln. Cihampelas. Razia pertama yang dilakukan pagi hari di depan Mapolwiltabes Bandung, petugas menjaring 85 pelanggar. Umumnya mereka yang masih menggunakan helm batok adalah yang dibonceng. Razia berlangsung selama 1,5 jam mulai pukul 08.00-09.30 WIB. Siang harinya sekitar pukul 11.30 WIB, razia kembali dilakukan. Kali ini petugas memilih Jln. Cihampelas sebagai lokasi razia. Selama 1,5 jam hingga pukul 13.00 WIB, petugas sedikitnya menjaring 165 pelanggar. Para pelanggar dikenai sanksi untuk menjalani sidang tindakan langsung (tilang) di Pengadilan Negeri Kota Bandung. Pemberian tilang kepada pengendara sepeda motor yang tidak menggunakan helm standar, berlaku di seluruh ruas jalan di Kota Bandung mulai Selasa (6/1). Peraturan itu berlaku pula bagi mereka yang dibonceng. Namun demikian, masih banyak masyarakat yang tidak mengetahui atau tidak mengerti aturan tersebut. Lain Nano, lain pula Deni (36). Ia mengaku mengetahui peraturan tersebut, namun terpaksa memakai helm batok. “Saya biasanya juga pakai helm standar. Tapi karena ini lagi disuruh bos, saya pinjam motor dan helm kepunyaan teman. Mungkin lagi sial, jadi kena tilang,” akunya. Sementara itu, Kasat Lantas Polwiltabes Bandung, AKBP Herukoco kepada wartawan di sela-sela razia di Jln. Cihampelas mengaku heran karena angka pelanggaran masih tinggi. “Sosialisasi sudah, pemberlakuan kawasan wajib helm standar sudah. Kita harus apa lagi? Apa yang kita lakukan ini (razia, red) salah satu upaya lainnya,” katanya. (B.114/dil.job)**

Waah, memang dari perjalanan saya ke kantor hari ini, saya terbayang-bayang, bagaimana tegasnya Polisi di Bandung, seringkali saya dengar dari rekan saya Sofyan, yang kebetulan “orang Bandung”. Hal ini bukan berarti saya mempercayai mentah-mentah ucapan rekan saya itu, saya sendiri dengan mata kepala ini, melihat bagaimana Polantas secara tegas menindak pengendara yang mencoba menerobos lampu merah, dan berhenti di depan garis putih, bahkan saya lihat tindakannya sangat aktif, sampai mencabut kunci di motor. Arogan? Kejam? menurut saya pribadi “tidak”, tindakan ini sangat relevan disaat produksi atau penjualan sepeda motor semakin rapid, massive.

Saya pernah sampaikan juga ke rekan di TMC, dan di Dikyasa, bagaimana salutnya saya dengan Polantas di Bandung yang tegas seperti itu. Andaikan di Jakarta ke-galak-annya juga seperti itu, wah, mungkin akan berkurang biang kerok – biang kerok di jalan itu. Tapi selalau saja ada jawaban, entah dari personil kuranga atau wilayah yang terlalu besar, atau apapun itu. Rupanya niat Polisi menjadikan motto “polisi bersahabat” terlalu kebablasan, saking bersahabatnya, Polisi menjadi toleran kepada para “sahabat pelanggar”. Polisi kehilangan giginya…kenapa saya selalu sebut Polisi? Pertama, ini topik tentang Polisi, kedua, saya sangat concern dengan polisi, bukan Pol-PP, DisHub atau lainnya, mereka yang jelas-jelas memang tidak terlihat kinerja nya. Selama ini yang paling konsekwen masih ada pada instansi POLRI, walaupun masih membutuhkan perbaikan sana-sini, itu sebabnya saya sebar artikel ini.

Untuk masalah alasan “terlalu luas” yuridiksi dalam penegakkan hukum, saya hanya mengutip dari rekan saya yang kebetulan perwira menengah di POLRI. Bahwa, dia pernah memperkarakan kapolsek, karena kejahatan terjadi hanya beberapa kilometer dari Polseknya. Nah, mungkin ini bisa dijadikan acuan, misalnya buat shock therapy, buat karpet merah (seperti zona aman anak sekolah) sepanjang 2-5 Km di depan setiap PosPol, Polsek, atau Polres, atau Polda, di dalam zona itu, semua harus taat kepada peraturan lalu lintas, membuat efek jera untuk mereka yang “berniat” melanggar peraturan, dengan harapan, keluar dari jalur itu, atau semakin sering lewat jalur tersebut, para pengendara menjadi lebih terbiasa dengan patuh peraturan. Jangan pikirkan jauh, mulai dari lingkungan terkecil.

Entah, jawaban apalagi bila ide ini saya ungkapkan, atau terdengar oleh para pejabat diatas sana. Lagipula, setiap saya berbicara dengan para Pamen atau Pati pasti bulu kuduk ini merinding dengan metode-metode dan teori teorinya, tapi masalahnya satu, “kontrol di lapangannya gimanaaaaa?” yang jadi msalah kan selalu di tingkat pelaksana, bagaimana sosialisasi, bagaimana kontrol kerja atasan, bukan hanya teori belaka, akhirnya ya seperti saya ini…hehehehe. Sudahlah..tapi itu yang saya harapkan terjadi dengan Polantas Polantas di Jakarta ini, TEGAS dan DISIPLIN !. Hilangkan dulu motto “Polisi bersahabat”, warga jakarta rata-rata saking merasa bersahabat, jadi semuanya merasa kebal hukum..”lawong sahabat saya POLISI koq…”. Apalagi dengan para oknum yang benar-benar kenal dengan pamen atau pati..waaah..ini kelakuannya melebihi dari pamen atau pati itu..gak percaya?? Lihat sekitar….

About RSA Admin

RSA memfokuskan diri pada isu-isu pentingnya keselamatan jalan dengan menekankan ketaatan kepada peraturan lalu lintas, perilaku berkendara yang tepat dan standar minimum keterampilan berkendara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *