KANTONG-KANTONG masyarakat menjadi tumpuan utama Road Safety Association (RSA) Indonesia. Lewat akar rumput inilah perilaku berkendara yang aman dan selamat disemai. Merekalah garda strategis untuk memangkas mentalitas jalan pintas.

Mediumnya beragam, namun substansinya sama, yakni mengajak para pengguna jalan membudayakan perilakuu aman dan selamat. RSA Indonesia sadar betul bahwa lewat informasi yang benar dan tepat, budaya aman lebih mudah diwujudkan.

Salah satu kantong masyarakat adalah kelompok pesepeda motor. Mereka ada yang menamakan dirinya komunitas dan klub pesepeda motor. Tahun 2000-an, kelompok tersebut kian meruyak seiiring menggilanya volume penjualan sepeda motor di Indonesia yang mampu mencapai 8 juta unit per tahun.

rsa di ysi mei 2014

Pada Mei 2014, RSA Indonesia memanfaatkan medium hari jadi kelompok penunggang kuda besi untuk berbagi keselamatan jalan. Bak pucuk di cinta, ulam pun tiba, dua kelompok mengajak RSA Indonesia untuk berbagi, yakni Yamaha Soul Indonesia (YSI) dan Yamaha Vixion Club Indonesia (YVCI) Tangerang, Banten. Kali ini tema yanng diusung adalah ‘Setop Arogansi di Jalan Raya’.

RSA Indonesia mengirim tim untuk menyambangi para penunggang Soul dan Vixion yang digelar pada hari bersamaan itu, Sabtu, 17 Mei 2014. Tim yang dipimpin Lucky, sekjen RSA Indonesia menyertakan Ivan, kadiv Kegiatan dan Dest, sekretariat dan humas RSA Indonesia. Tim bahu membahu mengajak anggota YSI yang berkumpul di Buperta, Ragunan, Jakarta Selatan untuk memanfaatkan kelompoknya sebagai medium mencetak perilaku yang tidak arogan di jalan. Arogansi bisa mengganggu emosi pengendara sehingga memecah konsentrasi dan bisa berujung kecelakaan lalu lintas jalan.

rsa di yvci tangerang mei 2014

Karena itu, dalam ajang yang dimulai sekitar pukul 11 pagi tersebut RSA Indonesia mengajak anggota YSI berkendara yang baik dan benar. Berkendara yang baik patokannya etika yang ada di masyarakat, sedangkan berkendara yang benar merujuk pada aturan yang berlaku. Aturan soal lalu lintas jalan tertuang di dalam Undang Undang (UU) No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Contoh berkendara yang sesuai etika adalah tidak membunyikan klakson nyaring di dekat area tetangga yang sedang menggelar hajatan, apalagi jika dalam kedukaan. Sedangkan berkendara yang benar adalah ketika berbelok memberikan lampu isyarat sein.

Selain paparan tim RSA, kegiatan juuga diisi dengan interaksi, tanya jawab. Bahkan, RSA juga melengkapi dengan penyebaran survey keselamatan jalan kepada puluhan yang hadir saat itu. Interaksi harus disudahi menjelang pukul 13.00 WIB. Maklum, tim harus bergerak lagi menuju Balaraja, Tangerang, Banten yang dijadwalkan mulai pukul 16.00 WIB.

Suasana hujan tak mementahkan semangat syiar road safety tim RSA Indonesia di Tangerang. Paparan yang disampaikan tetap berjalan sekalipun hujan dan peserta yang hadir belum banyak. Substansi yang dipilih serupa dengan di YSI, mengajak pesepeda motor tidak arogan di jalan. Arogansii hanya merugikan diri sendiri dan pengguna jalan yang lain.

rsa di ysi ragunan 2014

Indonesia butuh membuka mata seluruh pengguna jalan. Fakta memperlihatkan, pada 2013, setiap hari ada 270-an kasus kecelakaan lalu lintas jalan yang berbuah pahit tewasnya 70-an jiwa per hari. Ironisnya, mayoritas pemicu kecelakaan tersebut adalah perilaku berkendara tidak tertib, yakni sekitar 42%. Hanya orang-orang arogan yang bisa berperilaku ugal-ugalan di jalan. Disinilah pentingnya meredam arogansi. (edo rusyanto)

About Lucky

Disiplin, Tertib, Teratur. 3 hal inilah yang diajarkan oleh orang tua sejak saya kecil sehingga men-darah daging hingga saat ini. Semoga istiqomah.

Leave a Reply

Your email address will not be published.