KUMANDANG lagu Indonesia Raya terdengar khidmat merasuk jiwa. Puluhan anak-anak muda menyerukan kejayaan negeri lewat suara lantang di aula Taman Lalu Lintas, Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur. Nuansa cinta Tanah Air membalut ajang Silaturahmi Jaringan Keselamatan Jalan yang digagas Road Safety Association (RSA) Indonesia, Sabtu, 30 November 2013.

Di luar aula angin meniup pucuk pohon nan rindang di Bumi Perkemahan terluas di Jakarta itu. Awan berarak di langit biru. Cuaca di musim penghujan terasa bersahabat, terik tak memanggang seperti biasanya di tengah hari bolong Jakarta.

Puluhan anak-anak muda dari belasan komunitas atau kelompok pengguna kendaraan di Jakarta, Bekasi, Tangerang, Depok, dan Bandung merapatkan barisan. Mereka adalah jejaring yang dirajut RSA Indonesia dalam menyebarluaskan kesadaran berlalu lintas jalan yang aman dan selamat. Sejauh ini, interaksi sudah bergulir dalam wujud tatap muka yang dibalut dalam pelatihan, aksi damai, atau kopi darat keliling (kopdarling). Selain itu, melalui medium media sosial berbasis internet.

Dalam kesempatan kali ini hadir juga dari kalangan dunia usaha, seperti dari Adira Insurance yang dikenal lewat program Get Home Safely. Selain itu, ada dari unsur Kepolisian RI yakni AKBP Katon Pinem dari Korlantas Mabes Polri.

Lazimnya ajang silaturahmi, para peserta saling bertukar pengalaman. Tentu juga termasuk membuka peluang untuk saling menjalin kerjasama menyebarluaskan keselamatan jalan. “Kami siap menjalin kerjasama untuk kegiatan penyebarluasan road safety pada tahun depan,” ujar Sigit Sulistianto, sekjen Toyota Avanza Club Indonesia (TACI) saat bincang-bincang dalam silaturahmi, Sabtu.

Hal serupa dilontarkan oleh komunitas lain seperti dari Energizer Motor Club (EMC) dan Plaza Indonesia Motor Club (PIMC). Langkah bersama di kalangan publik menjadi sebuah modal besar dalam menggulirkan keselamatan jalan.

“Penyatuan visi penting untuk mencapai tujuan bersama dalam kampanye keselamatan. Kami senang ada komponen masyarakat yang peduli keselamatan,” kata Katon Pinem.

Pemberdayaan publik menjadi vital ketika negara belum bisa seratus persen melindungi pengguna jalan. Setiap hari bergelimpangan sekitar 80-an jiwa anak bangsa akibat kecelakaan di jalan raya. Karena itu, negara mesti lebih serius dalam melindungi para pengguna jalan.

Dalam kesempatan SJKJ kali ini, para peserta silaturahmi yang berasal dari 28 elemen masyarakat menyerukan sinergisitas. Seruan dituangkan dalam ‘Petisi Keselamatan Jalan’ yang bakal disampaikan kepada stakeholder, selain untuk introspeksi elemen masyarakat. Petisi tersebut terdiri atas tiga hal utama, yakni Pertama, mendesak negara lebih bersinergi. Kedua, penegakan hukum yang tegas, konsisten, kredibel, transparan, dan tidak pandang bulu. Ketiga, mengajak publik bersatu.

Rapatnya barisan elemen masyarakat dalam menyuarakan keselamatan jalan bagian dari ikhtiar agar jalan raya kian humanis. Jalan raya yang minim fatalitas kecelakaan. Dalam empat tahun terakhir, rata-rata ada tiga ratusan kasus kecelakaan dalam sehari yang berbuntut tewasnya 80-an jiwa anak bangsa. Ironisnya, pemicu utama adalah faktor manusia dengan aspek utama adalah perilaku berkendara tidak tertib.

“Agar ada efek jera bagi pelaku tidak tertib, bisa diingatkan lewat situs maludeh.com. Silakan kirimkan foto-foto pelanggaran yang terjadi di tengah masyarakat, termasuk pelanggaran di jalan raya,” sergah Saftari, penggagas http://www.maludeh.com dalam panel diskusi di SJKJ.

Sekalipun demikian, bagi Shasya dari Yamaha Jupiter Owner Community (YJOC), kuncinya adalah pada kesadaran diri sendiri. “Kuncinya kesadaran akan pentingnya keselamatan bagi sesama pengguna jalan,” kata dia.

Kecelakaan selalu menyakitkan. Dampak kecelakaan lalu lintas jalan cukup luas, mencakup dampak sosial, ekonomi, bahkan hukum. “Saya merasakan bagaimana kecelakaan amat menyakitkan. Tak hanya kehilangan uang Rp 186 juta, tapi juga kehilangan waktu akibat perawatan selama tiga bulan,” kata seorang relawan dari komunitas DNP, Jakarta.

Dia mengajak agar para pesepeda motor lebih melindungi diri dengan senantiasa memakai helm saat berkendara. Kejadian yang dialaminya membuktikan, ancaman luka di kepala amat besar sekalipun memakai helm. “Bisa dibayangkan andai kata pesepeda motor tidak memakai helm saat berkendara,” tukasnya. (edo rusyanto)

20131202-232034.jpg

About Lucky

Disiplin, Tertib, Teratur. 3 hal inilah yang diajarkan oleh orang tua sejak saya kecil sehingga men-darah daging hingga saat ini. Semoga istiqomah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *