Ramadhan, Perilaku Berkendara dan Citra Pribadi Muslim
Kondisi lalu lintas Jakarta yang padat diperparah dengan perilaku yang buruk dari para pengguna jalan. Cukup banyak perilaku buruk itu, antara lain: ugal-ugalan saat berkendara, berpindah jalur tanpa memberi tanda, berhenti mendadak, menggunakan jalur yang tak semestinya, berhenti di tempat yang terlarang, dan masih banyak lagi.
Pada 2011, tiap hari ada 22 kasus kecelakaan di wilayah Polda Metro Jaya. Soal korbannya, ada sekitar 10.140 orang atau sekitar 28 orang per hari menjadi korban kecelakaan. Dari korban sebanyak itu, hampir 10% atau sekitar 1.008 jiwa, harus menemui ajal di jalan raya. Ironisnya, hampir sekitar 79,36% adalah para pemotor. Barangkali karena mayoritas pengguna jalan adalah para pemotor. Maklum, hampir 10 juta sepeda motor yang beredar di Jakarta dan hanya sekitar dua juta unit kendaraan roda empat. Mayoritas korban kecelakaan di wilayah Polda Metro Jaya menderita luka ringan, yakni sekitar 62,25%. Sedangkan korban yang menderita luka berat sekitar 27,81%.
Angka tersebut sangat menguatirkan karena pelanggaran lalu lintas bisa berujung pada kecelakaan. Sebagian besar kecelakaan itu melibatkan sepeda motor.
Benarkah, perilaku buruk berkendara berakibat pada kecelakaan lalu lintas? Yohannes Lulie dan John Tri Hatmoko membuktikannya. Mereka adalah staf pengajar Program Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Dalam penelitiannya, kedua dosen tersebut menemukan bahwa kecelakaan lalu lintas banyak terjadi pada pengguna jalan yang masuk dalam kategori perilaku buruk. Jumlah kecelakaan lebih kecil pada kategori perilaku sedang, dan terkecil pada kategori perilaku baik.
Penelitian tersebut juga mengungkapkan tiga perilaku terburuk yang mengakibatkan kecelakaan lalu lintas terbanyak. Perilaku buruk tersebut adalah tak menjaga jarak dengan kendaraan di depannya, berkendara dengan ugal-ugalan, dan memacu kendaraan dengan kecepatan maksimum.
Citra Umat Muslim
Saat ini telah tiba bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah untuk beribadah. Selain meningkatkan intensitas ibadah, kita juga harus meningkatkan kesabaran dan menjauhkan emosi, termasuk saat kita berkendara. Terkait dengan banyaknya perilaku buruk berlalu-lintas, kita sering mendapat sindiran. Indonesia, sebagai negara yang berpenduduk Muslim terbesar di dunia, termasuk ke dalam kelompok negara dengan perilaku berlalu-lintas yang buruk. Seolah-olah, predikat Muslim yang melekat pada sebagian besar penduduk Indonesia itu tak punya arti sedikit pun. Padahal, sangat sering kita mengatakan bahwa Islam adalah rahmat bagi seluruh alam, termasuk rahmat bagi pengguna jalan yang lain.
Memang, secara khusus, tak ada ajaran Islam yang mengatur bagaimana seorang Muslim berperilaku saat berkendara. Namun, ada prinsip-prinsip dasar dalam Islam yang apabila ditaati akan menimbulkan sikap dan perilaku yang baik dalam berlalu-lintas.
Termaktub dalam al-Qur’an nasihat-nasihat Luqman kepada anaknya. Nasihat-nasihat itu pada hakikatnya juga nasihat untuk seluruh umat Islam. Salah satu nasihat itu adalah “Dan janganlah engkau memalingkan pipimu dari manusia dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri” [QS Luqman [31]: 18].
Perilaku ugal-ugalan saat berkendara merupakan salah satu bentuk kesombongan dan sikap tak acuh terhadap pengguna jalan yang lain. Memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi dengan tujuan agar cepat sampai ke tujuan adalah sikap mementingkan diri sendiri. Tak peduli apakah dengan perilakunya itu ia mendatangkan celaka bagi orang lain, bahkan dirinya sendiri. Perilaku-perilaku tersebut tak sesuai dengan semangat yang disampaikan dalam Surah Luqman di atas.
Padatnya lalu lintas di jalan raya menuntut pengguna jalan untuk sabar dan menaati rambu-rambu yang ada. Terlebih lagi pada bulan Ramadhan ini. Sabar dan tak tergesa-gesa merupakan sifat mulia yang diajarkan Rasulullah Saw. Beliau bersabda, “Sesungguhnya dalam dirimu terdapat dua sifat yang dicintai Allah, yaitu sabar dan tidak tergesa-gesa” [HR. Bukhari].
Dalam hadis lain, Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya aku diutus ke dunia hanyalah untuk menyempurnakan akhlak” [HR. Ahmad]. Akhlak yang sempurna mencerminkan tingginya moral dan nilai-nilai kemanusiaan, termasuk di dalamnya menghormati, menyayangi, dan menghargai orang lain, tak menindas yang lemah, mendahulukan yang lebih berkepentingan, serta berlaku sopan santun. Kekerasan, kesombongan, ketidaktertiban, ugal-ugalan, dan kezaliman, berlawanan dengan akhlak yang sempurna itu.
Mari sebagai pengguna jalan dan sebagai seorang Muslim kita tunjukkan bahwa kita memiliki akhlak yang baik dan sempurna. Salah satunya dengan berperilaku yang baik dan santun ketika berkendara di jalan. Semoga bermanfaat .


8 / 28 / 2012 3:30 am
Kenyataan, setiap bulan puasa kondisi jalan raya semakin semrawut & macet, khususnya di sore hari (16 sd menjelang maghrib dan pagi hari (7an). Dan bisa diperkirakan bahwa mereka mayoritas (90 %an) muslim.
Prasangka baiknya, meraka semua ingin menyegrerakan berbuka puasa di rumah bersama keluarga dan paginya berangkat kesiangan akibat rajin ibadah di malam hari, akibatnya saling serobot di jalan membuat jalan semrawut dan macet.
Selain itu, ada yang ngabuburit keliling2 pakai motor ato mobil, semakin menambah macet dan semrawut.
Prasangka buruknya, mereka tidak punya etika di jalan raya.
Coba deh dilakukan penelitian.
5 / 7 / 2013 4:49 am
kalo kata saya sih emang watak bangsa yg rakus, termasuk di jalan raya… mau puasa kek atao kagak, gak ngaruh…..