APA makna tewasnnya 30-an pesepeda motor per hari di Indonesia akibat kecelakaan di jalan? Lantas, kenapa muncul arogansi saat pesepeda motor berombongan di jalan raya?

Dua hal tersebut menjadi kupasan cukup hangat dalam Klinik Keselamatan Jalan (Road Safety Clinic) yang digelar Pulsarian Indonesia PRA Bekasi, Kaliber, Minggu, 10 November 2013 pagi. Klinik juga dilengkapi dengan praktik bersepeda motor yang aman dan selamat sepanjang siang hingga sore.

Kaliber yang mengajak Road Safety Association (RSA) Indonesia dalam klinik tersebut, bersinergi dengan Indofarma Bikers Club (IBC), klub sepeda motor karyawan PT Indofarma Tbk. Karena itu, klinik digelar di aula dan lapangan parkir produsen farmasi milik pemerintah tersebut. Sejak pukul 08.00 WIB sekitar 50-an peserta sudah berkumpul mengikuti pelatihan yang diawali dengan mengheningkan cipta bagi para pahlawan nasional. “Selain dari IBC, peserta juga berasal dari klub dan komunitas di sekitar Cibitung. Bahkan, ada yang dari perseorangan,” kata bro Virka, salah seorang anggota Pulsarian Kaliber, saat berbincang dengan saya, Minggu pagi.

Arogansi di Jalan

Bobot materi yang RSA Indonesia sampaikan dalam klinik kali ini lebih kepada bagaimana membentuk habit berkendara yang aman dan selamat. Langkah awal dengan mengenali risiko berkendara, potensi pemicu kecelakaan, dan bagaimana menyikapinya.

Tak bisa sekejap mewujudkan habit berkendara yang aman dan selamat. Perlu menyatukan tiga unsur yakni pengetahuan, ketrampilan, dan kemauan. Habit yang terbentuk diharapkan mampu mereduksi potensi kecelakaan di jalan dan meredam fatalitas yang buruk. “Bagaimana menyikapi perilaku ugal-ugalan para bikers yang jalan beramai-ramai?” Tanya bro Bani, salah seorang peserta.

Perilaku kolektif dan keberanian massa mudah terbentuk di jalan raya. Ironisnya, cenderung arogan dan ugal-ugalan yang bukan mustahil memecah konsentrasi yang bisa berbuntut kecelakaan lalu lintas jalan.

Tak heran jika kemudian faktor manusia menjadi pemicu utama kecelakaan lalu lintas jalan di Indonesia. Pada Januari-Agustus 2013, faktor manusia berkontribusi lebih dari 80%. Ironisnya, aspek dominan di dalam faktor manusia, yakni sekitar 45% adalah perilaku tidak tertib alias ugal-ugalan.

Padahal, kecelakaan bisa berdampak luas. Tak hanya merusak barang, tapi juga bisa merusak produktifitas seseorang. Bahkan, bisa berdampak hukum. Sudah celaka, luka-luka, dan bisa masuk penjara.

“Karena itu, kami senang sekali bisa ikut pelatihan safety riding, agar bisa aman dan selamat di jalan,” kata bro Kris, ketua IBC.

Bagi RSA Indonesia, ketika seseorang menderita karena kecelakaan, harus segera dibangkitkan optimismenya. Memulihkan produktifitas korban kecelakaan penting bagi keluarga sang korban, terlebih mereka yang menjadi tiang ekonomi keluarga. Tentu sebelum semuanya itu terjadi, lebih baik mencegah daripada mengobati.

Klinik keselamatan di jalan Pulsarian Kaliber menjadi putaran kedua aksi World Day of Remembrance (WDOR) Road Traffic Victim tahun 2013 RSA Indonesia. Putaran pertama digelar di klub Plaza Indonesia Motor Club (PIMC) Jakarta, Sabtu, 9 November 2013.

WDOR adalah aksi perenungan bagi korban kecelakaan lalu lintas jalan yang digulirkan serempak di seluruh dunia pada 17 November, dalam setiap tahunnya. Tiap tahun, dunia kehilangan lebih dari satu jiwa akibat kecelakaan lalu lintas jalan. RSA Indonesia tahun ini menggelar aksi WDOR dalam enam putaran sepanjang November 2013. Tiap putaran diisi satu hingga tiga kegiatan berwujud informasi, sosialisasi, dan edukasi keselamatan jalan yang menjangkau komunitas, dunia pendidikan, dan masyarakat umum. Putaran tersebut digelar di empat kota di DKI Jakarta dan Jawa Barat, yakni Bandung, Bekasi, Cirebon, dan Jakarta. (edo rusyanto)

About Lucky

Disiplin, Tertib, Teratur. 3 hal inilah yang diajarkan oleh orang tua sejak saya kecil sehingga men-darah daging hingga saat ini. Semoga istiqomah.

Leave a Reply

Your email address will not be published.