PP 44/1993, KENDARAAN DAN PENGEMUDI

Oleh:PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

Nomor:44 TAHUN 1993 (44/1993)

Tanggal:14 JULI 1993 (JAKARTA)

_________________________________________________________________

Tentang:KENDARAAN DAN PENGEMUDI

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

 

Menimbang: a.bahwa dalam Undang-undang Nomor 14 Tahun 1992 tentang

Lalu Lintas dan Angkutan Jalan telah diatur ketentuan-ketentuan

mengenai kendaraan dan pengemudi;

 

b.bahwa untuk melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam huruf

a di atas, dipandang perlu mengatur ketentuan mengenai kendaraan dan

pengemudi dengan Peraturan Pemerintah;

 

Mengingat: 1.Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945;

 

2.Undang-undang Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan

Jalan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara

Nomor 3480) jo Undang-undang Nomor 22 Tahun 1992 tentang Penetapan

Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang tentang Penangguhan Mulai

Berlakunya Undang-undang Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan

Angkutan Jalan sebagai Undang-undang (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor

99, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3494);

 

MEMUTUSKAN:

 

Menetapkan:PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA TENTANG KENDARAAN

DAN PENGEMUDI.

 

BAB I KETENTUAN UMUM

 

Pasal 1

 

Dalam Peraturan Pemerintah ini yang di maksud dengan :

 

1.Kendaraan bermotor adalah kendaraan yang digerakkan oleh peralatan

teknik yang berada pada kendaraan itu;

 

2.Sepeda motor adalah kendaraan bermotor beroda dua, atau tiga tanpa

rumah-rumah baik dengan atau tanpa kereta samping;

 

3.Mobil penumpang adalah setiap kendaraan bermotor yang dilengkapi

sebanyak-banyaknya 8 (delapan) tempat duduk tidak *24226 termasuk

tempat duduk pengemudi, baik dengan maupun tanpa perlengkapan

pengangkutan bagasi;

 

4.Mobil bus adalah setiap kendaraan bermotor yang dilengkapi lebih

dari 8 (delapan) tempat duduk tidak termasuk tempat duduk pengemudi,

baik dengan maupun tanpa perlengkapan pengangkutan bagasi;

 

5.Mobil barang adalah setiap kendaraan bermotor selain dari yang

termasuk dalam sepeda motor, mobil penumpang dan mobil bus;

 

6.Kendaraan khusus adalah kendaraan bermotor selain daripada kendaraan

bermotor untuk penumpang dan kendaraan bermotor untuk barang, yang

penggunaannya untuk keperluan khusus atau mengangkut barang-barang

khusus;

 

7.Kendaraan umum adalah setiap kendaraan bermotor yang disediakan

untuk dipergunakan oleh umum dengan dipungut bayaran;

 

8.Bengkel umum kendaraan adalah bengkel umum yang berfungsi untuk

membetulkan, memperbaiki, dan merawat kendaraan bermotor agar tetap

memenuhi persyaratan teknis dan lain jalan;

 

9.Kendaraan tidak bermotor adalah kendaraan yang digerakkan oleh

tenaga orang atau hewan;

 

10.Kereta gandengan adalah suatu alat yang dipergunakan untuk

mengangkut barang yang seluruh bebannya ditumpu oleh alat itu sendiri

dan dirancang untuk ditarik oleh kendaraan bermotor;

 

11.Kereta tempelan adalah suatu alat yang dipergunakan untuk

mengangkut barang yang dirancang untuk ditarik dan sebagian bebannya

ditumpu oleh kendaraan bermotor penariknya;

 

12.Pengemudi adalah orang yang mengemudikan kendaraan bermotor atau

orang yang secara langsung mengawasi calon pengemudi yang sedang

belajar mengemudikan kendaraan bermotor;

 

13.Roda pada satu sumbu adalah roda tunggal atau roda ganda atau

beberapa roda yang dipasang simetris atau pada dasarnya simetris

terhadap bidang membujur tengah kendaraan, walaupun roda-roda tersebut

tidak dipasang pada suatu sumbu yang sama;

 

14.Malam hari adalah jangka waktu antara matahari terbenam dan

matahari terbit;

 

15.Jumlah berat yang diperbolehkan adalah berat maksimum kendaraan

bermotor berikut muatannya yang diperbolehkan menurut rancangannya;

 

16.Jumlah berat kombinasi yang diperbolehkan adalah berat maksimum

rangkaian kendaraan bermotor berikut muatannya yang diperbolehkan

menurut rancangannya;

 

17.Jumlah berat yang diizinkan adalah berat maksimum kendaraan

bermotor berikut muatannya yang diizinkan berdasarkan kelas jalan yang

dilalui;

 

18.Jumlah berat kombinasi yang diizinkan adalah berat maksimum *24227

rangkaian kendaraan bermotor berikut muatannya yang diizinkan

berdasarkan kelas jalan yang dilalui;

 

19.Pelaksanaan pengujian adalah unit pengujian berkala kendaraan

bermotor yang diberi wewenang melaksanakan pengujian berkala kendaraan

bermotor;

 

20.Menteri adalah menteri yang bertanggung jawab di bidang lalu lintas

dan angkutan jalan.

 

BAB II PERSYARATAN TEKNIS DAN LAIK JALAN KENDARAAN BERMOTOR, KERETA

GANDENGAN DAN KERETA TEMPELAN

 

Bagian Pertama Persyaratan Teknis Kendaraan Bermotor, Kereta Gandengan

dan Kereta Tempelan

 

Paragraf 1 Jenis dan Konstruksi Kendaraan Bermotor

 

Pasal 2

 

(1)Kendaraan bermotor dikelompokkan dalam beberapa jenis, yaitu:

 

a.sepeda motor; b.mobil penumpang; c.mobil bus; d.mobil barang;

e.kendaraan khusus.

 

(2)Penggolongan lebih lanjut dari mas-masing jenis kendaraan bermotor

sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ditetapkan dengan Keputusan

Menteri.

 

Pasal 3

 

(1)Konstruksi dari kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal

2, terdiri dari :

 

a.landasan yang meliputi rangka landasan, motor penggerak, sistem

pembuangan, penerus daya, alat kemudi, sistem roda-roda, sistem

suspensi, sistem rem, lampu-lampu dan alat pemantul cahaya serta

komponen pendukung;

 

b.badan kendaraan.

 

(2)Konstruksi kereta gandengan rangka tempelan terdiri dari :

a.landasan yang meliputi rangka landasan, stem roda-roda, sistem rem,

lampu-lampu dan alat pemantul cahaya, serta komponen pendukung;

b.badan kendaraan.

 

Paragraf 2 Rangka Landasan

 

Pasal 4

 

(1)Setiap kendaraan bermotor, kereta gandengan dan kereta tempelan

harus memiliki rangka landasan yang memenuhi *24228 persyaratan:

 

a.dapat menahan seluruh beban, getaran dan goncangan kendaraan berikut

muatannya, sebesar jumlah berat kendaraan yang diperbolehkan atau

jumlah berat kombinasi kendaraan yang diperbolehkan; b.dikonstruksi

menyatu atau secara terpisah dengan badan kendaraan yang bersangkutan;

c.tahan terhadap korosi; d.dilengkapi dengan alat pengait di bagian

depan dan bagian belakang kendaraan bermotor, kecuali sepeda motor.

 

(2)Kendaraan bermotor yang dirancang untuk menarik kereta gandengan

atau kereta tempelan, rangka landasannya dilengkapi dengan peralatan

penarik yang dirancang khusus untuk itu.

 

Pasal 5

 

(1)Pada setiap rangka landasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4

harus dibubuhkan nomor rangka landasan.

 

(2)Nomor rangka landasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)

ditempatkan secara permanen pada bagian tertentu rangka landasan dan

mudah dilihat serta dibaca.

 

(3)Untuk rangka landasan yang menyatu dengan badan kendaraan, nomor

rangka landasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditempatkan pada

bagian tertentu badan kendaraan secara permanen dan mudah dilihat

serta dibaca.

 

Pasal 6

 

Ketentuan lebih lanjut mengenai rangka landasan diatur dengan

Keputusan Menteri.

 

Paragraf 3 Motor Penggerak

 

Pasal 7

 

Setiap kendaraan bermotor yang dioperasikan di jalan harus memiliki

motor penggerak yang memenuhi persyaratan :

 

a.mempunyai daya untuk dapat mendaki pada jalan tanjakan dengan

kecepatan minimum 20 kilometer per jam pada segala kondisi jalan;

b.motornya dapat dihidupkan dari tempat duduk pengemudi, kecuali untuk

kendaraan bermotor yang dirancang dengan kecepatan tidak melebihi 25

kilometer per jam pada jalan datar;

c.ambang batas emisi gas buang dan kebisingan tertentu.

 

Pasal 8

 

(1)Pada setiap motor penggerak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7,

harus dibubuhkan nomor motor penggerak.

 

(2)Nomor motor penggerak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)

ditempatkan secara permanen pada bagian tertentu motor penggerak dan

mudah dilihat serta dibaca.

 

*24229 Pasal 9

 

(1)Motor penggerak kendaraan bermotor dengan atau tanpa kereta

gandengan atau kereta tempelan, selain sepeda motor, harus memiliki

perbandingan antara daya dan berat total kendaraan berikut muatannya

sekurang-kurangnya sebesar 4,50 (empat setengah) kilowatt setiap 1.000

kilogram dari jumlah berat yang diperbolehkan atau jumlah berat

kombinasi yang diperbolehkan.

 

(2)Perbandingan antara daya motor penggerak dan berat kendaraan khusus

atau sepeda motor ditetapkan sesuai dengan kebutuhan lalu lintas dan

angkutan serta kelas jalan.

 

(3)Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) tidak

berlaku untuk kendaraan bermotor yang digerakkan dengan tenaga listrik

atau kendaraan bermotor yang dirancang dengan kecepatan tidak melebihi

25 kilometer per jam pada jalan datar.

 

Pasal 10

 

(1)Kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar bensin, kerosin,

solar, alkohol, atau bahan bakar cair lain yang mudah terbakar, harus

memiliki :

 

a.tangki bahan bakar; b.corong pengisi dan lobang udara bahan bakar;

c.pipa-pipa yang berfungsi menyalurkan bahan bakar.

 

(2)Tangki bahan bakar sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a

harus memenuhi persyaratan:

 

a.dikonstruksi cukup kuat dan tahan terhadap korosi; b.dilengkapi

dengan tutup tangki yang kukuh serta tidak melebihi bagian terluar

dari kendaraan bermotor; c.diikat dengan kukuh sehingga dapat menahan

goncangan dan getaran dari kendaraan; d.ditempatkan pada bagian badan

kendaraan yang cukup terlindung dari benturan langsung yang disebabkan

benda-benda di badan kendaraan yang bersangkutan dan terpisah dari

ruang motor pada jarak yang aman; e.ditempatkan pada jarak tertentu

dari pintu kendaraan bermotor yang menjamin keselamatan.

 

(3)Corong pengisi dan lobang udara bahan bakar sebagaimana dimaksud

dalam ayat (1) huruf b, harus memenuhi persyaratan :

 

a.dibuat dari bahan yang cukup kuat sehingga tidak akan mengalami

kerusakan dan/atau bocor apabila terjadi goncangan atau getaran dari

kendaraan; b.ditempatkan pada jarak tertentu dari lobang pipa gas

buang yang menjamin keselamatan, dan tidak diarahkan ke lobang pipa

gas buang; c.ditempatkan pada jarak tertentu dari terminal atau

sakelar listrik, yang menjamin keselamatan.

 

(4)Pipa saluran bahan bakar sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf

c, harus memenuhi persyaratan :

 

*24230 a.dibuat dari bahan yang tahan panas dan cukup kuat sehingga

tidak mengalami kerusakan dan kebocoran apabila terkena panas atau

apabila terjadi goncangan dan/atau getaran dari kendaraan;

b.dilengkapi dengan katup yang memungkinkan pengemudi dapat menutup

dan membuka salurannya, apabila aliran bahan bakar tidak dapat

berhenti dengan sendirinya pada waktu motor dimatikan; c.ditempatkan

pada jarak yang aman dari peralatan listrik yang ada pada kendaraan

bermotor yang bersangkutan dan terhindar dari pengaruh panas dan debu

yang berlebihan.

 

(5)Tangki, corong pengisi dan lobang udara, serta pipa saluran bahan

bakar sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak boleh ditempatkan

dalam ruang penumpang.

 

Pasal 11

 

Kendaraan bermotor yang menggunakan sistem bahan bakar gas tekanan

tinggi atau bahan sejenis dan bahan bakar alternatif lainnya, harus

memenuhi persyaratan khusus untuk menjamin keselamatan pengoperasian

kendaraan bermotor.

 

Pasal 12

 

Ketentuan lebih lanjut mengenai motor penggerak diataur dengan

Keputusan Menteri.

 

Paragraf 4 Sistem Pembuangan

 

Pasal 13

 

(1)Sistem pembuangan terdiri dari manifold, peredam suara, dan pipa

pembuangan.

 

(2)Sistem pembuangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus

memenuhi persyaratan : a.dirancang dan dibuat dari bahan yang cukup

kuat sehingga tidak terjadi kebocoran asap dan gas buang, dan memenuhi

ambang batas tingkat kebisingan; b.gas buang dan asap dari sistem

pembuangan diarahkan ke atas atau ke belakang atau ke sisi kanan di

sebelah belakang dengan sudut kemiringan tertentu terhadap garis

tengah kendaraan bermotor yang menjamin keselamatan; c.pipa pembuangan

tidak menonjol melewati sisi samping atau sisi belakang kendaraan

bermotor.

 

(3)Ketentuan lebih lanjut mengenai sistem pembuangan sebagaimana

dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan keputusan Menteri.

 

Paragraf 5 Penerus daya

 

Pasal 14

 

(1)Setiap kendaraan bermotor harus dilengkapi dengan alat penerus daya

yang dapat dikendalikan dari tempat duduk pengemudi.

 

(2)Alat penerus daya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus *24231

memungkinkan kendaraan bermotor bergerak maju dengan satu lebih

tingkat kecepatan dan memungkinkan bergerak mundur.

 

(3)Keharusan untuk melengkapi alat penerus daya yang memungkinkan

kendaraan bermotor dapat bergerak mundur sebagaimana dimaksud dalam

ayat (2) tidak berlaku untuk :

 

a.sepeda motor, baik dengan atau tanpa kereta samping; b.sepeda motor

beroda tiga yang roda-rodanya dipasang simetris terhadap bidang tengah

arah memanjang, yang memiliki jumlah berat yang diperbolehkan maksimum

400 kg.

 

(4)Ketentuan lebih lanjut mengenai penerus daya sebagaimana dimaksud

dalam ayat (1) diatur dengan Keputusan Menteri.

 

Paragraf 6 Sistem Roda

 

Pasal 15

 

(1)Setiap kendaraan bermotor, kereta gandengan dan kereta tempelan

harus memiliki sistem roda yang meliputi roda-roda dan sumbu roda.

 

(2)Roda-roda sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), berupa pelek-pelek

dan ban-ban hidup serta sumbu-sumbu atau gabungan sumbu-sumbu roda

yang dapat menjamin keselamatan.

 

(3)Ban-ban hidup sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) harus memiliki

adhesi yang cukup, baik pada jalan kering maupun jalan basah.

 

(4)Rancangan sumbu roda dan/atau gabungan sumbu roda berikut

roda-rodanya sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), harus memperhatikan

kelas jalan yang akan dilalui.

 

(5)Ketentuan lebih lanjut mengenai sistem roda dan sumbu roda dan/atau

gabungan sumbu roda sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2)

diatur dengan Keputusan Menteri.

 

Paragraf 7 Sistem Suspensi

 

Pasal 16

 

(1)Setiap kendaraan bermotor, kereta gandengan dan kereta tempelan

harus memiliki sistem suspensi berupa penyangga yang mampu menahan

beban, getaran dan kejutan untuk menjamin keselamatan dan perlindungan

terhadap jalan.

 

(2)Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak berlaku untuk

kendaraan bermotor, kereta gandengan dan kereta tempelan yang

dirancang dengan jumlah berat yang diperolehkan kurang dari 2.000 kg

dan kecepatan maksimum kurang dari 20 km/jam.

 

(3)Ketentuan lebih lanjut mengenai sistem suspensi sebagaimana

dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Keputusan Menteri.

 

Paragraf 8 Alat Kemudi *24232 Pasal 17

 

(1)Setiap kendaraan bermotor harus dilengkapi dengan alat kemudi yang

meliputi batang kemudi dan roda kemudi atau batang kemudi dan stang

kemudi.

 

(2)Alat kemudi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus memenuhi

persyaratan :

 

a.dapat digerakkan dengan tenaga yang wajar; b.perancangan, pembuatan

dan pemasangan alat kemudi tidak menimbulkan bahaya luka pengemudi,

jika terjadi tabrakan.

 

(3)Alat kemudi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dapat dilengkapi

dengan tenaga bantu, dengan ketentuan apabila tenaga bantu tersebut

tidak bekerja, maka kendaraan bermotor tersebut harus tetap dapat

dikemudikan dengan tenaga yang wajar.

 

(4)Ketentuan lebih lanjut mengenai alat kemudi sebagaimana dimaksud

dalam ayat (1) dan ayat (3) diatur dengan Keputusan Menteri.

 

Paragraf 9 Sistem Rem

 

Pasal 18

 

(1)Setiap kendaraan bermotor harus dilengkapi peralatan pengereman

yang meliputi rem utama dan rem parkir.

 

(2)Ketentuan mengenai keharusan melengkapi peralatan rem parkir

sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak berlaku untuk sepeda motor,

baik dengan atau tanpa kereta samping.

 

Pasal 19

 

Rem utama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 harus memenuhi

persyaratan :

 

a.pengemudi dapat melakukan pengendalian kecepatan atau memperlambat

dan memberhentikan kendaraan bermotor dari tempat duduknya tanpa

melepaskan tangannya dari roda/stang kemudi;

b.bekerja pada semua roda kendaraan sesuai dengan besarnya beban pada

masing-masing sumbunya, baik kendaraan bermotor yang berdiri sendiri

maupun kendaraan bermotor yang dirangkaikan dengan kereta gandengan

atau kereta tempelan;

c.apabila ada bagian rem utama yang tidak berfungsi, rem tersebut

harus dapat bekerja sekurang-kurangnya pada roda-roda yang

bersebelahan pada satu sumbu dan dapat digunakan untuk memperlambat

dan memberhentikan kendaraan.

 

Pasal 20

 

Rem parkir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 harus memenuhi

persyaratan :

 

a.pengemudi dapat melakukan pengendalian kecepatan atau memperlambat

dan memberhentikan kendaraan bermotor dari tempat duduknya tanpa

melepaskan tangannya dari roda/atau kemudi; *24233 b.bekerja pada

semua roda kendaraan sesuai dengan besarnya beban pada masing-masing

sumbunya, baik kendaraan bermotor yang berdiri sendiri maupun

kendaraan bermotor yang dirangkaikan dengan kereta gandengan atau

kereta tempelan;

c.apabila ada bagian ren utama yang tidak berfungsi, rem tersebut

harus dapat bekerja sekurang-kurangnya pada roda-roda yang

bersebelahan pada satu sumbu dan dapat digunakan untuk memperlambat

dan memberhentikan kendaraan.

 

Pasal 20

 

Rem parkir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 harus memenuhi

persyaratan:

 

a.mampu menahan posisi kendaraan dalam keadaan berhenti baik pada

jalan datar, tanjakan maupun turunan;

 

b.dilengkapi dengan pengunci yang bekerja secara mekanis.

 

Pasal 21

 

Peralatan pengereman yang melakukan fungsi sebagai rem utama dan rem

parkir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18, dapat mempunyai komponen

rangkap.

 

Pasal 22

 

Selain harus dilengkapi dengan rem utama dan rem parkir sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 18, setiap mobil bus dengan jumlah berat yang

diperbolehkan lebih dari 7.000 kilogram dan mobil barang dengan jumlah

berat yang diperbolehkan lebih dari 12.000 kilogram harus pula

dilengkapi dengan rem pelambat.

 

Pasal 23

 

(1)Setiap kereta gandengan atau kereta tempelan, harus dilengkapi

dengan rem yang dapat menjalankan dua fungsi, yaitu :

 

a.rem utama yang memungkinkan pengemudi dari tempat duduknya dapat

mengendalikan kecepatan dan memberhentikan kereta gandengan atau

kereta tempelan secara bersama-sama atau hampir bersamaan dengan

kendaraan bermotor penariknya; b.rem parkir yang mampu menahan posisi

kereta gandengan atau kereta tempelan berhenti pada jalan datar,

tanjakan maupun turunan.

 

(2)Ketentuan mengenai keharusan melengkapi rem yang dapat menjalankan

dua fungsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak berlaku untuk

kereta tempelan satu sumbu yang memiliki jumlah berat yang

diperbolehkan tidak melebihi 750 kilogram.

 

Pasal 24

 

(1)Rem utama kereta gandengan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat

(1) huruf a, harus dilengkapi dengan peralatan yang dapat bekerja

secara otomatis menghentikan kereta gandengan apabila alat perangkai

putus/terlepas dari kendaraan penariknya.

 

(2)Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak berlaku *24234

untuk kereta gandengan yang jarak sumbu rodanya kurang dari satu meter

dengan jumlah berat yang diperbolehkan tidak lebih dari 1.500 kilogram

dan/atau kereta gandengan yang ditarik oleh kendaraan bermotor penarik

yang dirancang untuk kecepatan maksimum kurang dari 20 kilogram per

jam.

 

Pasal 25

 

(1)Kereta gandengan atau kereta tempelan yang dirangkaikan dengan

kendaraan bermotor dalam satu rangkaian kendaraan, harus memiliki

peralatan pengeraman yang bersesuian.

 

(2)bekerjanya rem utama harus tersebar dan bekerja hampir bersamaan

secara baik, pada masing-masing roda setiap sumbu rangkaian kendaraan.

 

Pasal 26

 

(1)Setiap sepeda motor roda dua atau roda tiga yang dipasang simetris

terhadap sumbu tengah kendaraan yang membujur ke depan harus

dilengkapi dengan peralatan pengereman pada roda belakang dan roda

depan.

 

(2)Peralatan rem sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus memenuhi

syarat :

 

a.pengemudi dapat melakukan pengendalian kecepatan atau memperlambat

dan memberhentikan sepeda motor dari tempat duduknya tanpa melepaskan

tangannya dari stang kemudi; b.bekerja pada semua roda sepeda motor

sesuai dengan besarnya beban pada masing-masing sumbu rodanya.

 

(3)Keharusan melengkapi alat pengerem sebagaimana dimaksud dalam ayat

(1) tidak berlaku untuk roda kereta samping yang dipasang pada sepeda

motor, apabila daya pengerem yang diperlukan dapat diperoleh dari rem

yang terdapat pada sepeda motor yang bersangkutan.

 

Pasal 27

 

(1)Sepeda motor yang mempunyai roda tiga selain dilengkapi dengan

peralatan pengereman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (1),

harus pula dilengkapi dengan rem parkir.

 

(1)Sepeda motor yang mempunyai roda tiga selain dilengkapi dengan

peralatan pengereman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (1),

harus pula dilengkapi dengan rem parkir.

 

(2)Rem parkir sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus memenuhi

persyaratan :

 

a.mampu menahan posisi kendaraan dalam keadaan berhenti baik pada

jalan datar, tanjakan maupun turunan; b.dilengkapi dengan pengunci

yang bekerja secara mekanis.

 

Pasal 28

 

Ketentuan lebih lanjut mengenai sistem rem diatur dengan Keputusan

Menteri.

 

*24235 Paragraf 10

 

Lampu-lampu dan Alat Pemantul Cahaya

 

Pasal 29

 

(1)Setiap kendaraan bermotor harus dilengkapi dengan lampu-lampu dan

alat pemantul cahaya yang meliputi :

 

a.lampu utama dekat secara berpasangan; b.lampu utama jauh secara

berpasangan, untuk kendaraan bermotor yang mampu mencapai kecepatan

lebih dari 40 kilometer per jam pada jalan datar; c.lampu penunjuk

arah secara berpasangan di bagian depan dan bagian belakang kendaraan;

d.lampu rem secara berpasangan; e.lampu posisi depan secara

berpasangan; f.lampu posisi belakang secara berpasangan; g.lampu

mundur; h.lampu penerangan tanda motor kendaraan bermotor di bagian

belakang kendaraan; i.lampu isyarat peringatan bahaya; j.lampu tanda

batas secara berpasangan, untuk kendaraan bermotor yang lebarnya lebih

dari 2.100 milimeter; k.pemantul cahaya berwarna merah secara

berpasangan dan tidak berbentuk segitiga.

 

(2)Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak berlaku untuk

sepeda motor.

 

Pasal 30

 

(1)Lampu utama dekat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 huruf a

berjumlah 2 (dua) buah, berwarna putih atau kuning muda yang dipasang

pada bagian muka kendaraan dan dapat menerangi jalan pada malam hari

dengan cuaca cerah sekurang-kurangnya 40 meter ke depan kendaraan.

 

(2)Tepi terluar permukaan penyinaran lampu utama dekat sebagaimana

dimaksud dalam ayat (1), dipasang pada ketinggian tidak melebihi 1.250

milimeter dan tidak boleh melebihi 400 milimeter dari sisi bagian

terluar kendaraan.

 

Pasal 31

 

(1)Lampu utama jauh sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 huruf b

berjumlah genap, berwarna putih atau kuning muda yang dipasang pada

bagian muka kendaraan.

 

(2)Lampu utama jauh sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus dapat

menerangi jalan pada malam hari dalam keadaan cuaca cerah

sekurang-kurangnya:

 

a.60 meter untuk kendaraan bermotor yang dirancang dengan kecepatan

lebih besar dari 40 kilometer per jam dan tidak lebih dari 100

kilometer per jam; b.100 meter untuk kendaraan bermotor yang dirancang

dengan kecepatan lebih dari 100 kilometer per jam.

 

(3)Tepi terluar permukaan penyinaran lampu utama jauh sebagaimana

*24236 dimaksud dalam ayat (1) dipasang pada ketinggian tidak melebihi

1.250 milimeter dan tidak boleh lebih dekat ke sisi bagian terluar

kendaraan dibandingkan dengan tepi terluar permukaan penyinaran lampu

utama dekat.

 

Pasal 32

 

(1)Lampu penunjuk arah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 huruf c

berjumlah genap dan mempunyai sinar kelap-kelip berwarna kuning tua

dan dapat dilihat pada waktu siang atau malam hari oleh pemakai jalan

lainnya.

 

(2)Lampu penunjuk arah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dipasang

pada ketinggian tidak melebihi 1.250 milimeter di samping kiri dan

kanan bagian depan dan bagian belakang kendaraan.

 

Pasal 33

 

(1)Lampu rem sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 huruf d, berjumlah

dua buah dan berwarna merah yang mempunyai kekuatan cahaya lebih besar

dari lampu posisi belakang.

 

(2)Lampu rem sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dipasang pada

ketinggian tidak melebihi 1.250 millimeter di kiri dan kanan bagian

belakang kendaraan.

 

Pasal 34

 

(1)Lampu posisi depan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 huruf e,

dipasang di bagian depan berjumlah dua buah berwarna putih, atau

kuning muda.

 

(2)Lampu posisi depan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dapat

bersatu dengan lampu utama dekat.

 

(3)Lampu posisi depan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat

(2), dipasang pada ketinggian tidak melebihi 1.250 milimeter dan harus

dapat dilihat pada malam hari dengan cuaca cerah pada jarak

sekurang-kurangnya 300 meter dan tidak menyilaukan pemakai jalan

lainnya.

 

(4)Tepi terluar permukaan penyinaran lampu posisi depan, tidak boleh

melebihi 400 milimeter dari sisi bagian terluar kendaraan.

 

Pasal 35

 

(1)Lampu posisi belakang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 huruf f,

berjumlah genap,

 

berwarna merah dan dipasang pada bagian belakang kendaraan.

 

(2)Lampu posisi belakang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dipasang

pada ketinggian tidak melebihi 1.250 milimeter dan harus dapat dilihat

pada malam hari dengan cuaca cerah pada jarak sekurang-kurangnya 300

meter dan tidak menyilaukan pemakai jalan lainnya.

 

(3)Tepi terluar permukaan penyinaran lampu posisi belakang tidak

*24237 boleh melebihi 400 milimeter dari sisi bagian terluar

kendaraan.

 

Pasal 36

 

(1)Lampu mundur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 huruf g, berwarna

putih atau kuning muda dan tidak menyilaukan atau mengganggu pemakai

jalan lain.

 

(2)Lampu mundur sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dipasang pada

ketinggian tidak melebihi 1.250 milimeter dan hanya menyala apabila

penerus daya digunakan untuk posisi mundur.

 

Pasal 37

 

Lampu penerangan tanda nomor kendaraan bermotor bagian belakang

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 huruf h, dipasang dengan baik

sehingga dapat menerangi tanda nomor kendaraan pada malam hari dengan

cuaca cerah dan dapat dibaca pada jarak sekurang-kurangnya 50 meter

dari belakang.

 

Pasal 38

 

Lampu isyarat peringatan bahaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29

huruf i, menggunakan lampu penunjuk arah sebagaimana dimaksud dalam

Pasal 32 yang menyala secara bersamaan dengan sinar kelap-kelip.

 

Pasal 39

 

Lampu tanda batas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 huruf j,

berjumlah dua buah, berwarna putih atau kuning muda dan dipasang di

bagian depan kiri atas dan kanan atas kendaraan serta dua buah

berwarna merah dipasang di bagian belakang kiri atas dan kanan atas

kendaraan.

 

Pasal 40

 

(1)Pemantul cahaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 huruf k,

berjumlah genap, berwarna merah serta dipasang di bagian belakang

kendaraan.

 

(2)Pemantul cahaya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus dapat

dilihat oleh pengemudi kendaraan lain yang berada di belakangnya pada

malam hari dengan cuaca cerah dari jarak sekurang-kurangnya 100 meter,

apabila pemantul cahaya tersebut disinari lampu utama kendaraan

dibelakangnya.

 

(3)Tepi bagian terluar pemantul cahaya sebagaimana dimaksud dalam ayat

(1), tidak boleh melebihi 400 milimeter dari sisi terluar kendaraan.

 

Pasal 41

 

Sepeda motor dengan atau tanpa kereta samping harus dilengkapi dengan

lampu-lampu dan pemantul cahaya yang meliputi :

 

a.lampu utama dekat;

b.lampu utama jauh, apabila mampu mempunyai kecepatan melebihi 40

kilometer per jam pada jalan datar;

c.lampu penunjuk arah secara berpasangan di bagian depan dan *24238

bagian belakang sepeda motor;

d.satu lampu posisi depan;

e.satu lampu posisi belakang;

f.satu lampu rem;

g.satu lampu penerangan tanda nomor kendaraan di bagian belakang;

h.satu pemantulan cahaya berwarna merah yang tidak berbentuk segitiga.

 

Pasal 42

 

(1)Lampu utama dekat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 huruf a,

paling banyak dua buah, berwarna putih atau kuning muda dan dapat

menerangi jalan pada malam hari dengan cuaca cerah, sekurang-kurangnya

40 meter ke depan sepeda motor.

 

(2)Jika sepeda motor dilengkapi dengan lebih dari satu lampu utama

dekat, maka lampu utama dekat harus dipasang secara berdampingan

sedekat mungkin.

 

Pasal 43

 

(1)Lampu utama jauh sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 huruf b,

paling banyak dua buah, berwarna putih atau kuning muda dan dapat

menerangi jalan secukupnya pada malam hari dalam keadaan cuaca cerah

sekurang-kurangnya 100 meter ke depan sepeda motor.

 

(2)Jika sepeda motor dilengkapi dengan lebih dari satu lampu utama

jauh, maka lampu utama jauh harus dipasang secara berdampingan sedekat

mungkin.

 

Pasal 44

 

(1)Lampu penunjuk arah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 huruf c,

berjumlah genap dengan sinar kelap-kelip berwarna kuning tua, dan

dapat dilihat pada waktu siang maupun malam hari oleh pemakai jalan

lainnya.

 

(2)Lampu penunjuk arah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dipasang

secara sejajar di sisi kiri dan kanan bagian muka dan bagian belakang

sepeda motor.

 

Pasal 45

 

(1)Lampu posisi depan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 huruf d,

berjumlah paling banyak dua buah, berwarna putih atau kuning muda.

 

(2)Lampu posisi depan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus dapat

dilihat pada malam hari dengan cuaca cerah pada jarak

sekurang-kurangnya 300 meter dan tidak menyilaukan pemakai jalan

lainnya.

 

(3)Jika sepeda motor mempunyai dua lampu posisi depan, lampu-lampu itu

harus berdampingan sedekat mungkin.

 

Pasal 46

 

Lampu posisi belakang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 huruf e,

*24239 berjumlah satu berwarna merah yang dapat dilihat pada waktu

malam hari dengan cuaca cerah pada jarak sekurang-kurangnya 300 meter

dan tidak menyilaukan pemakai jalan lainnya.

 

Pasal 47

 

Lampu rem sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 huruf f, berwarna merah

yang kekuatan cahayanya lebih besar dari lampu posisi belakang yang

dipasang pada bagian belakang sepeda motor.

 

Pasal 48

 

Lampu penerangan tanda nomor kendaraan sebagaimana dimaksud dalam

Pasal 41 huruf g, dapat menerangi tanda nomor kendaraan sehingga dapat

dilihat pada waktu malam hari dengan cuaca cerah pada jarak

sekurang-kurangnya 30 meter dari belakang.

 

Pasal 49

 

Pemantul cahaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 huruf h, berwarna

merah dan tidak berbentuk segitiga dipasang pada bagian belakang

sepeda motor.

 

Pasal 50

 

(1)Kereta samping yang dipasang pada sepeda motor roda dua, harus

dilengkapi :

 

a.di bagian depan dengan lampu posisi depan berwarna putih atau kuning

muda; b.di bagian belakang dengan lampu posisi belakang berwarna

merah; c.satu pemantul cahaya berwarna merah dan tidak berbentuk

segitiga; d.lampu penunjuk arah berwarna kuning tua yang dipasang di

sisi kiri bagian depan dan belakang sepeda motor.

 

(2)Lampu posisi depan dan lampu posisi belakang kereta samping

sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus menyala apabila lampu posisi

belakang sepeda motor dinyalakan.

 

Pasal 51

 

(1)Sepeda motor yang mempunyai tida roda dipasang secara simetris

terhadap bidang sumbu sepeda motor yang membujur, dan yang

diperlakukan sebagai sepeda motor, harus dilengkapi dengan lampu-lampu

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41.

 

(2)Jika lebar sepeda motor sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak

melebihi

 

1.300 milimeter, maka cukup dilengkapi dengan satu lampu utama dekat

dan satu lampu utama jauh.

 

Pasal 52

 

(1)Lampu kabut yang dipasang pada kendaraan bermotor berwarna putih

atau kuning, dengan jumlah paling banyak dua buah dan titik tertinggi

permukaan penyinaran tidak melebihi titik tertinggi permukaan

penyinaran dari lampu utama dekat.

 

(2)Tepi terluar permukaan penyinaran lampu kabut sebagaimana *24240

dimaksud dalam ayat (1), tidak melebihi 400 milimeter dari sisi

terluar kendaraan.

 

Pasal 53

 

Lampu kabut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52, tidak menyilaukan

atau mengganggu pemakai jalan lain.

 

Pasal 54

 

Kereta gandengan dan kereta tempelan wajib dilengkapi dengan

lampu-lampu dan alat pemantul cahaya yang meliputi :

 

Pasal 55

 

(1)Lampu penunjuk arah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 huruf a,

berjumlah genap dan mempunyai sinar kelap-kelip berwarna kuning tua

serta dapat dilihat pada waktu siang maupun malam hari oleh pemakai

jalan lainnya.

 

(2)Lampu penunjuk arah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dipasang di

sisi kiri dan kanan bagian depan dan belakang kereta gandengan.

 

Pasal 56

 

(1)Lampu rem sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 huruf b, berjumlah

dua buah berwarna merah yang kekuatan cahayanya lebih besar dari lampu

posisi belakang dan dipasang di sebelah kiri dan kanan bagian belakang

kereta gandengan.

 

(2)Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak berlaku untuk

kereta gandengan dengan ukuran kecil yang posisinya dalam keadaan

ditarik tidak menutupi lampu rem dari kendaraan penariknya.

 

Pasal 57

 

(1)Lampu posisi depan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 huruf c,

berjumlah dua buah dan berwarna putih.

 

(2)Lampu posisi depan sebagaimana dimaksud dalam ayat (10 dipasang di

sudut kiri bawah dan kanan bawah bagian depan kereta gandengan dengan

jarak antara tepi terluar permukaan penyinaran lampu posisi depan

dengan sisi terluar kereta gandengan tidak lebih dari 150 milimeter.

 

Pasal 58

 

(1)Lampu posisi belakang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 huruf d,

berjumlah genap dan berwarna merah yang kelihatan pada malam hari

dengan cuaca cerah pada jarak sekurang-kurangnya 300 meter dan tidak

menyilaukan pemakai jalan lainnya.

 

(2)Lampu posisi belakang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dipasang

di sudut kiri bawah dan kanan bawah bagian belakang kereta gandengan

dengan jarak antara tepi terluar permukaan penyinaran lampu posisi

belakang dengan sisi terluar kereta gandengan tidak lebih dari 400

milimeter. *24241 (3)Kereta gandengan yang lebarnya tidak melebihi 800

milimeter, dilengkapi satu buah atau lebih lampu posisi belakang

sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)

 

Pasal 59

 

(1)Lampu mundur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 huruf f, berjumlah

dua buah berwarna putih atau kuning muda yang tidak menyilaukan atau

mengganggu pemakai jalan lain.

 

(2)Lampu mundur sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya menyala

apabila alat penerus daya digunakan pada posisi mundur.

 

Pasal 60

 

Lampu penerangan tanda nomor kendaraan bermotor bagian belakang

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 huruf e, dipasang dengan baik

sehingga dapat menerangi tanda nomor kendaraan pada waktu malam hari

dengan cuaca cerah dan dapat dibaca pada jarak sekurang-kurangnya 50

meter dari belakang.

 

Pasal 61

 

(1)Pemantul cahaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 huruf g,

berjumlah genap berwarna merah dan berbentuk segitiga sama sisi dengan

panjang sisinya tidak kurang dari 150 milimeter dan tidak melebihi 200

milimeter serta dipasang di sudut kiri bawah dan kanan bawah bagian

belakang kereta gandengan.

 

(2)Pemantul cahaya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat dilihat

oleh pengemudi yang ada dibelakangnya pada waktu malam hari dalam

cuaca cerah dari jarak 100 meter apabila terkena sinar lampu utama

kendaraan di belakangnya.

 

(3)Titik sudut terluar pemantul cahaya sebagaimana dimaksud dalam ayat

(1), tidak melebihi 100 milimeter dari sisi terluar kereta gandengan.

 

(4)Kereta gandengan yang lebarnya tidak melebihi 800 milimeter

dilengkapi satu buah atau lebih pemantul cahaya.

 

Pasal 62

 

Pemantul cahaya sebagaimana dinaksud dalam Pasal 54 huruf h, berjumlah

dua buah dan dipasang di sisi kiri dan kanan bagian depan kereta

gandengan dengan jarak tidak melebihi 400 milimeter dari sisi terluar

kereta gandengan.

 

Pasal 63

 

Lampu-lampu yang berpasangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29,

About RSA Admin

RSA memfokuskan diri pada isu-isu pentingnya keselamatan jalan dengan menekankan ketaatan kepada peraturan lalu lintas, perilaku berkendara yang tepat dan standar minimum keterampilan berkendara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *