Oleh: Brigjen Pol DR Chryshnanda Dwilaksana
Direktur Keamanan dan Keselamatan Korps Lalu Lintas (Dirkamsel Korlantas) Mabes Polri

Jakarta, rsa.or.id – Berita pelanggar menganiaya petugas polisi kembali terjadi. Kronologisnya diceritakan berdasarkan laporan Kapolsek Tanah Sareal perihal peristiwa tindak pidana pengeroyokan terhadap anggota Unit Lantas Polsek Tanah Sareal, Polresta Bogor Kota, beberapa waktu lalu.

Kronologis kejadian
Pada hari Kamis 08 Maret 2018 sekira pukul 14.45 wib telah terjadi peristiwa tindak pidana pengeroyokan terhadap anggota Unit Lantas Polsek Tanah Sareal an. AIPDA HUSNI di Jl. Abdulah Bin Nuh dekat persimpangan jln Johar yg dilakukan oleh 2 orang tdk dikenal, yg awalnya AIPTU HUSNI memberhentikan salah seorang yg melanggar lalu lintas dgn pelanggaran melawan arus, namun setelah dilakukan pemeriksaan ternyata motor yg dikendarai tsk tdk dilengkapi surat2 kendaraan kemudian AIPTU HUSNI mengajak tsk ke pos lantas, namun tsk tdk terima dan berkata “jangan begitu pak saya ini orang belakang dan saya anak tentara” kemudian teman tsk memukul kepala AIPTU HUSNI dari belakang dengan menggunakan balok kayu dan AIPTU HUSNI jatuh kemudian di pukuli oleh kedua tsk tsb dimana yg seorang lg menggunakan bambu, kemudian dilerai warga yg ada di TKP.

Akibat kejadian tersebut korban AIPTU HUSNI mengalami luka robek di kepala bagian belakang atas sepanjang 8 jaitan dan luka memar di kedua tangannya. Identitas pelaku/TSK:
Msh dlm penyelidikan.
Barang bukti:
1. Satu potong balok kayu.
2. Satu potong bambu.
Balok kayu dan bambu tersebut diduga yg digunakan pelaku utk mengeroyok korban.

Pengeroyokan thd anggota polisi bukan hanya kali ini saja. Ada yg menganiaya bahkan sd membunuhnya. Dari merusak membakar sd mengebom kantor polisi pernah dilakukan.

Dari peristiwa-peristiwa tersebut timbul pertanyaan mengapa terjadi? Apakah pelaku merasa bangga bahwa mampu menyerang polisi atau merusak kantor polisi? Bisa saja demikian. Tak jarang kita mendengar cerita-cerita yang disampaikan secara heroik tatkala mampu melanggar dann melawan petugas polisi.

Kecerdasan suatu bangsa dapat dilihat dari tingkat kepatuhan hukumnya. Patuh hukum bukan bermakna penakut atau pengecut, kepatuhan hukum bermakna sebagai gentle atau kecerdasan karena landasannya kesadaran, tanggung jawab dan disiplin.

Mengapa dapat berbuat patuh dengan kesadaran? Hal tersebut dilakukan karena memahami bahwa hukum adalah simbol dari peradaban. Orang-orang beradab akan patuh hukum. Sebaliknya, orang-orang yang bangga melakukan pelanggaran dan bahkan melecehkan dan menginjak-injak hukum atau merusak citra peradaban layak dikatakan orang beradab? Tentu saja tidak. Mengapa demikian? Karena hukum ini merupakan simbol peradaban yang dibuat untuk menata dan memberdayakan sumber daya dan agar terwujud keteraturan sosial dan meningkatnya kualitas hidup masyarakat. Petugas polisi bukan hanya menegakkan hukum tetapi juga keadilan. Spirit penegakan hukum adala sebagai berikut:

1. Menyelesaikan konflik secara beradab. Agar tidak terjadi penyelesaian masalah dengan membuat masalah baru atau melanggar hukum. Agar tidak main hakim sendiri atau membully dan mengadili secara sosial.
2. Mencegah agar tidak terjadi konflik yang lebih luas.
3. Memberikan pelayanan kepada korban dan pencari keadilan
4. Membangun suatu keteraturan sosial atau budaya tertib hukum
5. Agar ada kepastian
6. Merupakan upaya edukasi

Petugas polisi yang bertugas di lapangan baik berseragam maupun tidak adalah simbol hukum. Demikian juga kantor polisi dan segenap perangkatnya hingga mobil-mobil patroli merupakan simbol hukum. Polisi sebagai penegak hukum dan keadilan menjadikan polisi sebagai hukum yang hidup.

Tatkala polisi diserang, dianiaya atau dirusak, dibakar atau dibom sekalipun itu merefleksikan pelecehan terhadap hukum. Atau bisa dikatakan sebagai rusaknya peradaban. Para pelakunya bisa juga dikatakan kaum provokator yang bisa saja dikatakan perusak peradaban atau sebagai kebiadaban.

Bisa dibayangkan tatkala hukum diabaikan dan simbol-simbol peradaban dirusak dengan sengaja, dengan penuh kesadaran bahkan ada yang melalui perencanaan yang matang, itu menandakan betapa rendahnya tingkat kecerdasannya.

Belum lagi kalau melakukannya dengan mengeroyok, ibarat lempar batu sembunyi tangan, ini juga pengecut dan penakut. Sekali lagi perlu terus diingatkan bahwa hukum dan simbol-simbolnya adalah refleksi dari peradaban yang menjunjung supremasi hukum. Selain itu juga untk memberikan jaminan dan perlindungan HAM serta untk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. (*/ls)

Editor: Lucky

About RSA Admin

RSA memfokuskan diri pada isu-isu pentingnya keselamatan jalan dengan menekankan ketaatan kepada peraturan lalu lintas, perilaku berkendara yang tepat dan standar minimum keterampilan berkendara.