PERNAH suatu ketika seorang teman berseloroh.

“Gue terobos aja lampu merah, soalnya buru-buru. Lagi pula waktu itu gak ada petugas yang jaga,” katanya seraya tersenyum simpul.

Ya. Pernyataan sang teman itu mengingatkan kita pada sebuah tayangan iklan di televisi. Dalam ikan itu digambarkan seorang perempuan muda mengemudi mobil, lalu dia melanggar aturan. Tak lama berselang, munculah petugas hendak menindak. Dalam penggalan dialog iklan itu keluarlah kata-kata.

“Kan gak ada yang jaga…”

Ketiadaan petugas di lapangan sehingga tidak mampu mengawasi seluruh pengguna jalan menjadi salah satu ciri penegakan hukum secara konvensional. Artinya, butuh amat banyak petugas sehingga bisa menjangkau seluruh pengguna jalan dalam durasi 24 jam. Selain itu, ciri lainnya adalah lemahnya bukti sehingga bisa menimbulkan perdepan. Bahkan, bukan tidak mungkin menimbulkan KKN di jalan raya.

“Karena itu, perlu peningkatan efektifitas dan kapasitas penegak hukum. Di sisi lain, perilaku atau disiplin pengguna jalan masih rendah,” tegas Kabag Kamsel Korlantas Polri Kombes Pol Unggul Sedyantoro, di Jakarta, Rab, 17 September 2014.

Pernyataan Kombes Unggul itu dilontarkan di dalam ‘Rapat Koordinasi Pembahasan Hasil Kajian Umum Penerapan E-Camera for Road Safety System (E Cross)’. Rakor tersebut, kata dia, selanjutnya akan ditindaklanjuti dengan uji coba pemakain kamera dalam penegakan hukum di jalan raya.

“Uji coba akan dimulai pada 22 September 2014 di tiga titik di Jakarta,” sergah mantan Dirlantas Polda Kalbar itu.

Lantas, apa sih E Cross?

Ini penjelasan Kombes Unggul. E Cross adalah upaya penegakan hukum dengan menggunakan peralatan elektronik. Untuk tahap awal, Kepolisian RI bakal memakai kamera untuk merekam pelanggaran lalu lintas. Foto yang direkam tersebut bakal dicetak dan dapat menjadi bukti di pengadilan.

e cros alur penegakan hukum

Dalam tahap awal, katanya, E Cross banyak dimanfaatkan untuk menindak para pelanggar aturan lalu lintas di jalan. “Langkah ini bertujuan untuk memudahkan penindakan terhadap pelanggar, kecepatan pendataan, dan keakuratan pembuktian. Selain itu, untuk meningkatkan disiplin pengguna jalan dan mengefektifkan petugas,” tukasnya.

Dia menggambarkan secara ringkas seperti ini. Kamera akan merekam pelanggaran yang terjadi. Lalu, foto tadi dicetak bersamaan dengan surat tilang yang akan dikirim via pos ke alamat pelanggar. Nah, sang pelanggar akan membayar denda tilang saat memperpanjang surat-surat kendaraan. “Kalau gak dibayar akan ada upaya paksa dengan menyita kendaraannya,” sergah Kombes Unggul.

Terkait mekanisme tilang elektronik itu saya jadi ingat tulisan saya tiga tahun lalu yang saya beri judul“Ini Loh Mekanisme Tilang Elektronik”. Dalam tulisan tahun 2011 itu saya juga lengkapi dengan bagan mekanismenya. Selain itu, ada juga tulisan lain setahun kemudian, silakan klik disini.

Kita sambung lagi soal E Cross yah.

Penegakan hukum dengan menggunakan elektronik memang dilindungi oleh undang undang. Sebut saja misalnya UU No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) dan UU No 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Karena itu, semestinya sudah bisa diterapkan guna meningkatkan transparansi dan kapabilitas para penegak hukum. Tinggal persoalannya adalah bagaimana mensosialisasikan kebijakan yang ada secara tepat sasaran dan jitu. Maksudnya, apa yang dikomunikasikan dapat diterima dengan baik lewat kemasan sosialisasi yang nyaman bagi penerima pesan.

Tanpa sosialisasi yang baik, kebijakan sebagus apa pun mustahil bisa berjalan mulus. “Masyarakatnya sudah siap, tinggal sistemnya juga harus siap,” sergah Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Darmaningtyas dalam kesempatan rakor tersebut.

Kehadiran E Cross tentu saja bukan semata demi mewujudkan lalu lintas jalan yang aman dan nyaman. Penggunaan alat elektronik juga semestinya bisa mengurangi potensi terjadinya kecelakaan lalu lintas di jalan. Maklum, pada 2013, setidaknya setiap hari ada 72 jiwa yang melayang sia-sia akibat kecelakaan di jalan. (edo rusyanto)

About Lucky

Disiplin, Tertib, Teratur. 3 hal inilah yang diajarkan oleh orang tua sejak saya kecil sehingga men-darah daging hingga saat ini. Semoga istiqomah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *