PAKAIAN hitam, sepatu lars panjang, topi koboi, dan aksesoris kacamata gelap menyemarakan suasana di salah satu sudut Buperta Cibubur, Jakarta Timur. Atribut yang identik dengan anggota kelompok pesepeda motor itu membalut wajah-wajah ayu dengan senyum bersahabat.

Ya. Sabtu, 3 Mei 2014 siang Buperta Cibubur menjadi berbeda dibandingkan biasanya. Puluhan perempuan penunggang kuda besi bersatu padu. Mereka berkumpul dalam kebersamaan yang dibalut hangatnya persahabatan.

Mereka menyebut dirinya Formasi Labirin, kependekan dari Forum Komunikasi Ladies Bikers Indonesia. Wadah berhimpunnya para perempuan penunggang sepeda motor itu sedang berbunga-bunga, mereka sedang merayakan hari jadi yang kedua.

Kehadiran tim Road Safety Association (RSA) Indonesia diajak oleh mereka untuk berbagi soal keselamatan jalan. Hal itu selaras dengan tema yang diusung Formasi Labirin pada kesempatan kali ini, yaitu “Maintain Better Than Repair”. Makna tema itu syarat dengan nuansa lebih baik mencegah daripada mengobati, lebih baik berkendara yang aman dan selamat ketimbang tertimpa insiden kecelakaan yang bisa berdampak panjang. “Kami ingin mendapat wejangan soal road safety eyang,” ujar Achie Unun, salah satu anggota Formasi Labirin, sebelum acara digelar Sabtu siang.

Saya hadir bersama tim RSA Indonesia, yakni Lucky, Ivan, dan Rio. Kami membawa topik “Perempuan Garda Terdepan Road Safety”.

Perempuan memiliki kodrat luar biasa di muka bumi ini. Dari soal regenerasi umat manusia hingga menjaga moralitas keluarga yang berujung pada ketahanan suatu bangsa. Perempuan Indonesia terkenal cukup tangguh dan berbudi pekerti luhur. Mereka selalu berkata, “Hati-hati di jalan yah.”

Sepintas, makna kalimat itu biasa-biasa saja. Namun, ketika direnungi lebih dalam, khususnya terkait lalu lintas jalan, makna kalimat tersebut mengandung ajakan dan ajaran agar para pengguna jalan ekstra waspada saat berlalu lintas jalan. Tinggal bagaimana para penerima pesan ajakan itu merespons dengan tindakan konkret di jalan raya.

Disinilah kenapa RSA Indonesia melihat sosok perempuan, dalam hal ketika berperan sebagai ibu, menjadi garda terdepan dalam soal road safety. Kodrat melindungi dan merawat keluarga, eloknya dilengkapi dengan pemahaman apa saja risiko berlalu lintas jalan dan upaya mensiasatinya. Seorang ibu yang memahami bahwa jalan raya Indonesia merenggut 70-an jiwa setiap hari, tidak akan gegabah mengizinkan anak di bawah umur untuk berkendara. Seorang ibu yang mengetahui bahwa pesepeda motor yang tewas dalam kecelakaan lalu lintas jalan mayoritas dipicu luka di kepala, tak akan sembrono ketika menunggang kuda besi tanpa helm pelindung kepala. Itu baru dua contoh.

Nah, para anggota Formasi Labirin punya kesempatan untuk menimba banyak bekal pemahaman dan pengetahuan soal risiko di jalan. Pengetahuan tergali lewat interaksi dengan sesama penunggang kuda besi maupun lewat medium lain, salah satunya dalam ajang berbagi kali ini di Taman Lalin, Cibubur.

Ketika perempuan masih lajang, posisi mereka sebagai sahabat atau pacar, punya peran strategis dalam menyampaikan pesan keselamatan jalan. Ajakan untuk selalu menggunakan helm pelindung kepala maupun berkendara yang baik dan benar, bisa dengan mudah ditransformasikan kepada penerima pesan. Tapi, lagi-lagi mereka juga mesti punya bekal pengetahuan soal itu sebelum meneruskannya kepada orang di sekitar.

Terkait itu semua, sosok perempuan bisa menjadi figur tauladan bagi orang di sekitarnya. Mereka punya kekuatan luar biasa. Jangan hancurkan kekuatan itu oleh perilaku menyepelekan persoalan. Kita semua tahu, banyak masalah gede diawali hal sepele, termasuk soal kecelakaan lalu lintas jalan. Selamat ulang tahun Formasi Labirin. (edo rusyanto)

About Lucky

Disiplin, Tertib, Teratur. 3 hal inilah yang diajarkan oleh orang tua sejak saya kecil sehingga men-darah daging hingga saat ini. Semoga istiqomah.

Leave a Reply

Your email address will not be published.