05Jun/18

Sobat Jack Bikers Antusias Ikuti “Ngabuburoad Safety”

Jakarta, rsa.or.id – Ngabuburoad safety Road Safety Association (RSA) Indonesia bareng Sobat Jack Bikers (SJB), sebuah wadah sejumlah komunitas ojek online di Jakarta dan sekitarnya, berlangsung di kawasan Petamburan, Jakarta Pusat, Minggu (3/6) sore.

Pada acara yang diadakan sambil menunggu tiba waktu berbuka puasa itu, RSA Indonesia diwakili Ketua Umum Ivan Virnanda dan Badan Pengawas Lucky J. Subiakto.

Sejumlah permasalahan keselamatan berkendara menjadi bahan obrolan sore itu. Ivan menyampaikan bahwa aturan lalu lintas yang ada telah mengatur mulai dari hal yang kecil saat berkendara agar tidak terjadi masalah atau kecelakaan saat berlalu lintas.

“Bahkan saat kita berbelok ada aturannya supaya tidak membahayakan kita dan orang lain,” ujar Ivan.

Obrolan berlangsung interaktif hingga tiba waktu berbuka puasa. Mereka yang hadir itu pun guyub dalam satu wadah silaturahmi.

Ada satu hal yang mencuat dari obrolan sore itu. Keinginan yang kuat dari para driver ojek online yang hadir untuk mengadakan workshop safety riding secara berkala dengan menggandeng RSA Indonesia yang dikoordinasikan dengan SJB.

“Terima kasih buat RSA sudah meluangkan waktu untuk bukber dan kopdar bersama. Semoga kita bisa kerjasama dalam memajukan disiplin berlalu lintas bersama RSA, ” tutur Pembina SJB, Fatchur Rohman yang karib disapa Mbah. (*/ls) .

05Jun/18

Saat Sahur, Ngobrol Road Safety bersama KOMBI dan Anak Yatim

Jakarta, rsa.or.id – Di hari ke 18 bulan Ramadhan, Sabtu (2/6) Komunitas Muslim Biker Indonesia (KOMBI) menggelar santunan yatim piatu di Rumah Yatim Duren Sawit, Jakarta Timur.

Dalam acara yang digelar sejak sebelum sahur hingga jelang Subuh tersebut, KOMBI mengundang Road Safety Association (RSA) Indonesia untuk berbagi wawasan seputar keselamatan jalan atau road safetu bersama para anggota KOMBI dan anak yatim.

RSA Indonesia yang diwakili Badan Kehormatan, Rio Octaviano menyampaikan pentingnya berkendara dengan aman, nyaman dan selamat.

“Sekarang ini, orang berkendara sudah lupa akan keamanan, kenyamanan dan keselamatan. Yang penting sampai di tujuan dengan cepat,” kata Rio.

Rio menyebut fenomena tersebut sebagai anomali kehidupan berlalu lintas di Indonesia.

“Banyak orang bisa berkendara tapi belum tentu bisa berlalu lintas. Dalam berlalu lintas ada aturan dan etika yang harus diperhatikan,” tegas Rio.

Dalam diskusi yang berlangsung hangat itu, KOMBI dan RSA Indonesia membuat games soal keselamatan jalan yang diikuti anak-anak yatim yang diasuh Rumah Yatim Duren Sawit. Mereka terlihat senang dan menikmati acara tersebut.

Acara berakhir ditutup dengan sholat subuh berjamaah di Masjid dekat lokasi acara. (*/ls)

15May/18

Segitiga RSA, Solusi Keselamatan Berlalu Lintas

Tangerang, rsa.or.id – Segitiga RSA, sebuah tagline yang kerap disampaikan Road Safety Association (RSA) Indonesia dalam beberapa kesempatan syiar keselamatan jalan merupakan solusi di tengah karut marut kondisi lalu lintas jalan di Indonesia yang masih dibayangi tingginya angka kecelakaan.

Untuk diketahui, segitiga RSA terdiri dari Rules, Skill, dan Attitude dipahami sebagai pemahaman terhadap aturan lalu lintas jalan yang berlaku (Rules), penguasaan keterampilan berkendara yang mencukupi yang mutlak dimiliki seorang pengendara (Skill), dan kemauan dan kemampuan menjadi pengguna jalan yang baik dengan menerapkan perilaku yang santun (Attitude).

Hal itu yang disampaikan oleh RSA Indonesia saat menyambangi acara Test Drive yang digelar Air Asia berkolaborasi dengan Bank CIMB Niaga di kawasan Tangerang, Banten, Selasa (17/4) lalu. RSA Indonesia hadir sebagai pemateri dalam talk show yang bertajuk ‘Keamanan Berkendara dengan Mobil’.

Dalam talk show yang diikuti puluhan karyawan Air Asia itu, Sekjen RSA Indonesia, Nursal Ramadhan mengulik ‘dosa-dosa’ yang kerap dilakukan pengendara mobil dilihat dari tiga aspek dari Segitiga RSA. Dia mengambil contoh, berkendara dengan melintas di bahu jalan tol.

“Secara rules, melintas di bahu jalan melanggar aturan, pasal 118 UU 22/2009. Sudah seharusnya, bahu jalan hanya untuk kepentingan darurat saja,” ujar Nursal.

Sedangkan dari aspek Skill, kata Nursal, pelanggaran bahu jalan adalah fakta bahwa sekian banyak pengguna jalan hanya bisa memiliki keterampilan berkendara tanpa memahami esensi berlalu lintas.

“Padahal esensi berlalu lintas adalah berpindahnya manusia dari satu tempat ke tempat lain dengan menggunakan kendaraan secara aman, nyaman, lancar, dan selamat untuk semua pengguna jalan,” tukas Nursal.

Melintas di bahu jalan tol, lanjut Nursal, salah satu penyebab kemacetan, saat mereka berpindah kembali ke lajur paling kiri (jalur lambat) , akan terjadi handicap yang menyebabkan mobil-mobil yang berada di lajurnya menjadi melambat. “Inilah yang menimbulkan kemacetan panjang,” ujar Nursal.

Pemahaman akan berlalu lintas inilah, diungkapkan Nursal, sebagai kunci penting terpenuhinya aspek Attitude dalam Segitiga RSA. Menurutnya, perilaku santun dan positif hampir jarang ditemui saat ini di jalan raya.

“Semua orang merasa paling benar, merasa dirinya punya urusan lebih penting dari yang lain hingga berkendara terburu-buru, abaikan pengguna jalan lain, abaikan keselamatan diri sendiri dan orang lain,” tutur Nursal.

Nursal juga mengungkapkan bahwa angka kecelakaan lalu lintas jalan yang terjadi di jalan tol pada 2017 meningkat 5% jika dibandingkan tahun sebelumnya. “Di 2016 ada 1.168 kejadian, di 2017 naik jadi 1.232 kejadian,” ungkap Nursal.

Untuk itu, Nursal menegaskan penerapan Segitiga RSA harus dilakukan secara simultan atau terus menerus selama berada di jalan raya.

“Menerapkan segitiga RSA jangan secara terpisah atau parsial. Bisa jadi seseorang punya keterampilan mengemudi yang mumpuni tapi nggak peduli dengan aturan yang ada, sama saja bohong (sia-sia),” tandasnya.

“Segitiga RSA, terapkan secara simultan, ini solusi (RSA Indonesia) untuk terciptanya keselamatan berlalu lintas,” pungkas Nursal.

Dalam kesempatan itu, selain Nursal, juga dihadiri oleh Ketua Umum RSA Indonesia, Ivan Virnanda dan Badan Pengawas Lucky Junan Subiakto.

Acara yang rencananya berlangsung satu jam itu, ditambah durasinya menjadi tiga jam melihat antusiasme peserta dalam menyimak dan berdiskusi seputar keselamatan jalan bersama RSA Indonesia. (ls)

15May/18

Roda Dua di Jalan, Kaki Dua di Trotoar

Jakarta, rsa.or.id – Maraknya perampasan trotoar oleh pengendara motor nampaknya seperti serangan membabi buta yang tidak bisa dicegah oleh siapapun termasuk oleh penegak hukum. Kegeraman akan hal itu disampaikan Road Safety Association (RSA) Indonesia saat menyampaikan syiar keselamatan jalan di depan anggota Hasanah Rider Community (HRC) di kawasan Rasuna Said, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

Dalam syiar yangaaa diikuti puluhan anggota HRC itu, Anggota Divisi Kegiatan RSA Indonesia, Citra Ayu Lestari mengungkap ‘dosa’ para pengendara motor tersebut.

“Sekarang kok terbalik ya, yang berkaki dua ada di jalanan, yang roda dua ada di trotoar. Apa benar begitu?,” kata Citra dengan nada geram.

“Secara rules, melintas di trotoar jelas-jelas melanggar aturan. Trotoar dibuat untuk pejalan kaki, bukan untuk menghindari macet bagi pemotor,” sergah Citra.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum RSA Indonesia, Ivan Virnanda menyoroti lemahnya penegakan hukum terhadap pelanggaran trotoar. Menurutnya, jika hukum ditegakkan dengan tegas dan konsisten maka tidak perlu muncul perlawanan dari masyarakat untuk menyelamatkan pejalan kaki dan trotoar. Hal ini diungkapkan karena kerap terjadi konflik antar warga yang menyalahgunakan trotoar dengan para aktivis pejalan kaki.

“Hukum harus ditegakkan, tidak cukup dengan tegas saja, tapi harus konsisten. Kalau ini dijalankan penegak hukum, nggak perlu lagi ada perlawanan dari masyarakat yang merasa terganggu dengan pelanggaran trotoar ini,” tegas Ivan.

Untuk itu, Ivan mengajak puluhan anggota HRC yang hadir saat itu untuk mengambil peran dalam menaati aturan dengan tidak merampas sesuatu yang bukan haknya. “Trotoar kan hak pejalan kaki, sepeda motor ya di jalan raya, jangan terbalik,” tukas Ivan.

Acara yang berlangsung selama dua jam itu, berlangsung interaktif dengan diskusi yang hangat antar peserta dari HRC dengan tim RSA Indonesia yang hadir. (ls)

02May/18

Integrasi Data Kecelakaan Lalu Lintas Belum Optimal

Bandung, www.rsa.or.id – Integrasi data kecelakaan lalu lintas antara kepolisian dan rumah sakit di Kota Bandung belum optimal. Integrasi data menjadi kunci efektivitas kebijakan dan intervensi menekan angka kecelakaan dan korban.

“Dengan data yang akurat, kita bisa merumuskan kebijakan dan intervensi yang akurat. Selama ini masih ada jurang data kecelakaan antara kepolisian dengan instansi-instansi lain, termasuk rumah sakit,” tutur surveillance coordinator Bloomberg Initiatives for Global Road Safety (BIGRS) Kota Bandung, Estiara Ellizar, Selasa, 3 April 2018 lalu.

Jurang data kecelakaan lalu lintas di Bandung terungkap dalam riset yang dikerjakan BIGRS pada 2017 lalu. Ketika itu mereka membandingkan data di Polrestabes dengan delapan rumah sakit umum.

Untuk jumlah korban meninggal dunia, misalnya, hanya terdapat 10 kasus yang cocok. Padahal, kepolisian mencapat 153 korban meninggal, sementara delapan rumah sakit mencatat 32 korban.

Dari perbandingan data kecelakaan ini, bisa diketahui bahwa ada kasus-kasus kecelakaan yang belum terangkum dalam data kepolisian. Sebaliknya, ada juga kasus-kasus kecelakaan yang belum terekam oleh rumah sakit.

BIGRS tahun ini memulai pelatihan penguatan kapasitas bagi 21 rumah sakit di Kota Bandung. Masing-masing rumah sakit mengirimkan dua petugas IGD (Instalasi Gawat Darurat) dan rekam medis untuk berlatih mempraktikkan pengkodean tiap-tiap kecelakaan lalu lintas.

“Dengan pelatihan ini, para petugas akan terampil melakukan pengkodean secara terperinci, mulai dari lokasi kejadian, penyebab kecelakaan, hingga jenis cedera. Jadi data yang mereka kirimkan sudah sangat terperinci,” ujar Estiara.

Dengan pengkodean yang rinci, diyakini Estiara, program-program terkait keselamatan lalu lintas bakal lebih efektif. Hal ini mencakup mulai dari kampanye hingga penegakan hukum.

Pemegang program BIGRS di Dinas Kesehatan Kota Bandung Siska Lestana menyatakan, selama ini sistem pelaporan korban kecelakaan belum mengungkap informasi rinci, mulai dari lokasi hingga penyebab kejadian. Dengan pelatihan ini, para petugas di IGD dan rekam medis akan menerapkan sistem pelaporan baru.

“Ke depan, laporan akan jauh lebih rinci. Keterangannya by name, by address. Juga lokasi kejadian apakah di dalam kota Bandung atau di luar. Semua akan terekam,” tuturnya.

Laporan tahunan
Pada Oktober 2017 lalu, BIGRS bekerja sama dengan Polrestabes Bandung menerbitkan Laporan Tahunan Keselamatan Jalan Raya 2015-2017. Dalam laporan tersebut diketahui pengguna sepeda motor, pesepeda, dan pejalan kaki merupakan kelompok paling rentan dengan menyumbang 95 persen dari total kematian di jalan raya. Dari sisi usia, remaja dan anak muda menjadi korban terbanyak.

Laporan tersebut juga menunjukkan penurunan jumlah kecelakaan dan jumlah korban meninggal dalam kurun 2013 hingga 2016. Jika pada 2016 jumlah korban meningga mencapai 125 orang, pada 2016 jumlahnya turun menjadi 84 orang.

Namun pada akhir Maret 2018 lalu, Kepala Satlantas Polrestabes Bandung AKBP Agung Reza mengungkapkan temuan terbaru. Sepanjang 2017, jumlah kecelakaan memang lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya. Namun dari jumlah korban meninggal dunia, justru jumlahnya melonjak drastis menjadi hampir dua kali lipat, yakni 154 orang. (*)

Sumber: Pikiran Rakyat

02May/18

Alliance Member Prespective Presented at The UNRSC

New York, www.rsa.or.id – The 25th meeting of the UN Road Safety Collaboration (UNRSC) was held 12–13 April 2018, at the UN Headquarters in New York, US. The UNRSC is an informal consultative mechanism that meets twice a year to facilitate international cooperation and strengthen global and regional coordination toward the global road safety agenda. The Alliance and several of its members are members of the UNRSC, along with multilateral agencies, governments, academics, funders, and corporations.

Lotte Brondum, Executive Director of the Alliance, presented preliminary findings from the recent members’ questionnaire about the Decade of Action 2011–2020 (Decade of Action). The presentation was well received and demonstrates that NGOs bring a unique perspective from the frontlines of road safety that our global stakeholders want to hear.

The overarching message of the presentation was that the Decade of Action has helped NGOs by giving them a mandate to drive government response and attention to road safety. It is vital that momentum is maintained beyond the 2020 target.

The presentation also highlighted a number of other findings:

  • NGOs’ roles have changed over the decade.
  • The Decade of Action has prompted change, and NGOs’ efforts have contributed to that.
  • NGO staff and founders are funding road safety out of their own pockets, and funding is needed to build capacity and make NGOs more effective.
  • Other challenges include a lack of coordination in road safety activity within each NGO’s country, with different stakeholders working in silos and duplicating efforts; sectoral egos are hampering progress. There is a need for better partnerships that use all sectors effectively, deal with corruption, and ensure that interventions are based on evidence.

More findings will be published from the questionnaire in future months and will inform our work, our advocacy, and our offerings.

02May/18

Mana Helmnya?

Jakarta, www.rsa.or.id – Jalan-jalan sama teman-teman memang mengasyikkan. Naik motor bareng-bareng ke tepat nongkrong memang menyenangkan. Ke sekolah naik motor memang mengenakkan. Tapi kalo sudah gitu, banyak anak remaja lupa pada apa yang mestinya diperhatikan. Masa depan yang terbentang begitu panjang nggak jarang menjadi korban.

Dikatakan oleh dr. Bernie Endyarni Medise, SpA(K) dalam seminar media Pekan Kesehatan Remaja di kantor IDAI, Jakarta, sebagaimana dilansir Riauaktual.com (16/3/2018), 30 persen remaja nggak pakai helm saat naik motor. Hal ini jadi penyebab kematian yang besar pada remaja.

Sementara WHO melaporkan, penyebab kematian remaja yang paling besar adalah kecelakaan lalu lintas. Senada dengan itu, Data Kementerian Kesehatan RI tahun 2011, menempatkan kecelakaan transportasi pada urutan pertama penyebab kematian remaja.

Dalam berlalu lintas, hendaknya kita berusaha menaati rambu-rambu dan peraturan lalu lintas yang berlaku. Bukan malah melanggarnya dengan dalih aturan itu adalah bagian dari hukum ‘tagut’ yang mesti ditentang. (*/ls)

Sumber: Panjimas

30Apr/18

Edukasi ke Anak-anak Rusun Cilincing, Intrachange Gandeng RSA Indonesia

Jakarta, www.rsa.or.id – Road Safety Association (RSA) Indonesia menjadi salah satu pemateri dalam acara “Festival Transportasi” yang digagas Indonesia Transportation Change (Intrachange), di Rusun Cilincing, Jakarta Utara, Sabtu (28/4).

Dalam acara yang berlangsung sejak pukul 08.00 hingga pukul 15.00 WIB itu, anggota Divisi Kegiatan RSA Indonesia, Citra Ayu Lestari didampingi Ketua Umum RSA Indonesia, Ivan Virnanda mengulas semua aspek keselamatan jalan kepada anak-anak, tentunya dengan cara penyampaian yang disukai anak-anak yang diselingi dengan bernyanyi bersama dan bermain games.

“Kami memberikan pemahaman kepada anak-anak mengenai menyeberang jalan yang baik, arti dari rambu-rambu lalu lintas, dan fungsi helm,” ujar Citra, di lokasi, Sabtu (28/4).

Citra menjelaskan, jumlah peserta yang terdiri dari anak-anak usia TK hingga SMP itu ada sekitar 200-an anak yang dibagi ke dalam 8 kelompok. Kelompok itu pun dibagi lagi menjadi 2 berdasarkan usia, kelompok pertama, usia TK hingga SD kelas 4 dan kelompok kedua, usia SD kelas 5 hingga usia SMP.

“Kelompok pertama, diberikan pemahaman mengenai menyeberang, rambu-rambu dan menggunakan helm jika dibonceng. Sedangkan kelompok kedua, diberikan pemahaman mengenai fungsi helm, rambu-rambu lalu lintas, kelengkapan berkendara dan kejahatan dijalan raya,” papar Citra.

Sementara, sebagai penggagas acara, Intrachange mengatakan Festival Transportasi ini dibuat sebagai bentuk pertanggungjawaban ilmu yang dimiliki untuk dibagikan kepada masyarakat. Hal itulah yang disampaikan Pengurus Intrachange, Rifqi Azmi.

“Dihadapan para ketua RT saya berbicara bahwa kehadiran kami ke rusun Cilincing adalah bentuk pertanggungjawaban ilmu kami kepada masyarakat. Diantara kami ada yang baru lulus SMA, kebanyakan sudah bergelar sarjana, dan beberapa sudah lebih dari sarjana. Sudah jadi kewajiban kami turun ke masyarakat,” ujar Rizqi melalui akun instagramnya, Minggu (29/4).

Rizqi juga mengungkapkan rasa terima kasih kepada para pegiat dan aktivis yang telah meluangkan waktunya untuk berbagi bersama anak-anak warga Rusun Cilincing, Jakarta Utara.

“Terimakasih teman-teman @jepretbusway @manajemenpelabuhanunj @itdpindonesia @bravofordisabilities @rsaindonesia @itl_trisaktijkt @buswayfansclub yang sudah memberikan sumbangsih nyata kepada masyarakat rusun Cilincing. Kalian semua adalah orang-orang hebat,” tutur Rizqi.

Sama seperti RSA Indonesia, Intrachange adalah sebuah Non Government Organization (NGO). Intrachange memiliki fokus pada pendidikan transportasi di Indonesia bagi anak-anak usia dini.

Penggagas Intrachange, Aditya Luhut Sibarani foto bersama Ketua Umum RSA Indonesia, Ivan Virnanda.

“Kita tahu bahwa anak-anak sangat berisiko terhadap kecelakaan lalu lintas, kekerasan saat bertransportasi (berjalan maupun menggunakan kendaraan baik pribadi maupun umum), serta pelanggaran norma umum di ruang publik,” kata penggagas Intrachange, Aditya Luhut Sibarani yang dilansir Kitabisa.com.

“Hal ini sangat mungkin terjadi bila pendidikan transportasi yang mumpuni tidak diberikan baik oleh keluarga maupun sekolah pada saat usia sekolah. Beberapa pelajaran penting seperti menyeberang jalan yang aman, cara menjaga diri di ruang publik, serta etika mengantri dan menggunakan transportasi publik belum menjadi materi wajib pendidikan formal dan informal,” ujar Aditya. (*/ls)

30Apr/18

Mengapa Pakai Helm? Anak-anak Rusun Cilincing: Takut Ditilang!

Jakarta, www.rsa.or.id – Penegak hukum dalam hal ini kepolisian ternyata masih menjadi sosok yang menakutkan bagi anak-anak usia taman kanak-kanak hingga sekolah dasar. Setidaknya, itulah yang mencuat ketika Road Safety Association (RSA) Indonesia menjadi salah satu pemateri dalam acara “Festival Transportasi” yang digagas Intrachange, di Rusun Cilincing, Jakarta Utara, Sabtu (28/4).

Ketika ditanya oleh Citra Ayu Lestari, anggota Divisi Kegiatan RSA Indonesia mengapa kita harus pakai helm saat menaiki sepeda motor, anak-anak yang hadir spontan menjawab, ”takut ditilang polisi!” Hal ini mengundang senyum tim RSA Indonesia yang hadir dan panitia.

Sontak, Citra pun menjelaskan tentang fungsi helm yang sesungguhnya kepada anak-anak seraya memeragakan cara pakai helm yang benar. Anak-anak usia TK hingga SMP itu pun menyimaknya dengan antusias.

Anak-anak menjawab seperti itu juga ada alasannya. Mereka kerap melihat petugas polisi merazia pengendara motor yang tidak menggunakan helm. Di sinilah, RSA hadir untuk menjelaskan kepada mereka bahwa fungsi helm yang sesungguhnya adalah untuk mengurangi cedera atau luka sebagai imbas dari benturan saat terjadi kecelakaan.

Dalam acara yang berlangsung sejak pukul 08.00 hingga pukul 15.00 WIB itu, Citra yang didampingi Ketua Umum RSA Indonesia, Ivan Virnanda mengulas semua aspek keselamatan jalan kepada anak-anak, tentunya dengan cara penyampaian yang disukai anak-anak yang diselingi dengan bernyanyi bersama dan bermain games.

“Kami memberikan pemahaman kepada anak-anak mengenai menyeberang jalan yang baik, arti dari rambu-rambu lalu lintas, dan fungsi helm,” ujar Citra saat ditemui di lokasi.

Citra juga menjelaskan, jumlah anak-anak yang mengikuti acara tersebut ada sekitar 200-an anak yang dibagi ke dalam 8 kelompok. Kelompok itu pun dibagi lagi menjadi 2 berdasarkan usia, kelompok pertama, usia TK hingga SD kelas 4 dan kelompok kedua, usia SD kelas 5 hingga usia SMP.

“Kelompok pertama, diberikan pemahaman mengenai menyeberang, rambu-rambu dan menggunakan helm jika dibonceng. Sedangkan kelompok kedua, diberikan pemahaman mengenai fungsi helm, rambu-rambu lalu lintas, kelengkapan berkendara dan kejahatan dijalan raya,” papar Citra.

Untuk diketahui, acara “Festival Transportasi” yang digelar Intrachange juga menggandeng beberapa lembaga lain pegiat transportasi, diantaranya, JepretBusway, Manajemen Pelabuhan UNJ, ITDP Indonesia , Bravo for Disabilities, dan Busway Fans Club. (*/ls)

28Mar/18

Polisi Simbol Hukum dan Peradaban?

Oleh: Brigjen Pol DR Chryshnanda Dwilaksana
Direktur Keamanan dan Keselamatan Korps Lalu Lintas (Dirkamsel Korlantas) Mabes Polri

Jakarta, rsa.or.id – Berita pelanggar menganiaya petugas polisi kembali terjadi. Kronologisnya diceritakan berdasarkan laporan Kapolsek Tanah Sareal perihal peristiwa tindak pidana pengeroyokan terhadap anggota Unit Lantas Polsek Tanah Sareal, Polresta Bogor Kota, beberapa waktu lalu.

Continue reading