03Aug/18

Pergub Diteken, Ganjil Genap Resmi Diberlakukan

Jakarta, rsa.or.id – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah menandatangi peraturan gubernur (pergub) mengenai aturan perluasan ganjil-genap di Jakarta selama Asian Games 2018. Penandatangan tersebut telah dilakukan Selasa pagi ini. Adapun isi pergub tersebut salah satunya berisi sanksi bagi para pelanggar.

“Insya Allah sebelum kemari, saya diskusi dengan Pak Gubernur, sudah diparaf, ditandatangani. Isinya berkaitan dengan perluasan, termasuk sanksi,” ujar Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno.

Uji coba perluasan pembatasan kendaraan bermotor di Jakarta berdasarkan pelat nomor ganjil dan genap dimulai pada 2 Juli 2018 hingga 31 Agustus 2018.

Aturan ini rencananya akan secara resmi diberlakukan pada 1 Agustus 2018. Perluasan kawasan ganjil genap itu diberlakukan selama penyelenggaraan Asian Games 2018 pada 18 Agustus hingga 2 September 2018.

Salah satu yang jadi perhatian adalah periode pelaksanaan pemberlakuan ganjil genap. Sistem itu akan diterapkan Senin hingga Minggu dimulai pukul 06.00 WIB sampai 21.00 selama Asian Games. Itu artinya sistem tersebut akan diberlakukan selama 15 jam setiap hari.

Pergub yang mulai berlaku Rabu, 1 Agustus 2018 itu mempertimbangkan sejumlah aspek, yaitu; Perda DKI Jakarta No 5 tahun 2014 tentang Transportasi yang memberi wewenang Pemprov DKI Jakarta menerapkan pembatasan ganjil-genap.

Pembatasan ganjil-genap dilakukan untuk mensukseskan penyelenggaraan pesta olah raga Asian Games 2018 yang diselenggarakan di Jakarta dan Palembang.

Kemudian, ujicoba perluasan sudah dilakukan pada Senin, 2 Juli 2018 hingga Selasa, 31 Juli 2018. Evaluasi dari ujicoba itu memperlihatkan adanya peningkatan efisiensi dan efektifitas penggunaan ruang jalan dan pengendalian lalu lintas jalan.

Setelah Pergub ini keluar, bila semula hanya beberapa ruas jalan yang dikenai aturan ganjil-genap, kini terdapat 13 ruas jalan yang dikenai pembatasan, yaitu;
a. Jalan Medan Merdeka Barat
b. Jalan MH. Thamrin
c. Jalan Jenderal Sudirman
d. Jalan Sisingamangaraja
e. Jalan Jenderal Gatot Subroto
f. Jalan Jenderal S Parman (sebagian mulai Tomang sampai dengan simpang Slipi)
g. Jalan MT Haryono
h. Jalan HR Rasuna Said
i. Jalan Jenderal DI Panjaitan
j. Jalan Jenderal Ahmad Yani.
k. Jalan Benyamin Sueb (simpang Benyamin Sueb sampai dengan Kupingan Ancol)
l. Jalan Metro Pondok Indah (sebagian mulai dari Simpang Kartini sampai dengan Simpang Pondok Indah Mall)
m. Jalan RA Kartini (sebagian mulai dari simpang Ciputat Raya sampai dengan Simpang Kartini).

Selain rute yang diperluas, aturan ganjil genap juga menambah rentang waktu, aturan ganjil genap berlaku sepanjang Senin-Minggu dengan rentang waktu pukul 06.00 s/d 21.00 WIB atau setara dengan selama 15 jam terus menerus. Sedangkan masa berlakunya adalah saat Asian Games, yakni 18 Agustus 2018-2 September 2018.

Sementara itu, kendaraan bermotor yang dikecualikan dari aturan ini terdiri atas;
a. Kendaraan Pimpinan Lembaga Negara Republik Indonesia yakni :
1. Presiden RI/ Wakil Presiden RI;
2. Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat/ Dewan Perwakilan Rakyat/ Dewan Perwakilan Daerah; dan
3. Ketua Mahkamah Agung/ Mahkamah Konstitusi/ Komisi Yudisial.

Kendaraan Pimpinan dan Pejabat Negara Asing serta Lembaga Internasional yang menjadi tamu negara;
Kendaraan dinas operasional berplat dinas, TNI, dan Polri.
Kendaraan dinas operasional berplat dinas, kendaraan atlet dan official yang bertanda khusus (stiker) Asian Games;
Kendaraan pemadam kebakaran dan ambulans;
f. Kendaraan untuk memberikan pertolongan pada kecelakaan lalu lintas;
g. Kendaraan angkutan umum (plat kuning);
h. Kendaraan angkutan barang Bahan Bakar Minyak dan Bahan Bakar Gas;
i. Sepeda motor;
j. Kendaraan yang membawa masyarakat difabel;
k. Kendaraan untuk kepentingan tertentu menurut pertimbangan petugas Polri, seperti kendaraan pengangkut uang (Bank Indonesia, antar bank, pengisian ATM) dengan pengawasan dari Polri.

Sementara, untuk implementasi aturan ini, setiap jalan yang dilakukan pembatasan wajib diberikan rambu lalu lintas mengenai hal itu. Sedangkan pengawasannya dilakukan oleh Dinas Perhubungan DKI Jakarta.

Sedangkan, untuk pelanggaran aturan tetap mengacu pada Undang Undang (UU) No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Bagi para pelanggar, akan dikenakan Pasal 287 UU 22/2009 tentang LLAJ yang memuat ancaman sanksi penjara maksimal dua bulan atau denda paling banyak Rp 500 ribu.

*Dikutip dari berbagai sumber

17Jul/18

Senator Jakarta Minta Jokowi Batalkan 6 Ruas Tol

Jakarta, rsa.or.id — Anggota DPD RI atau Senator DKI Jakarta Fahira Idris meminta Presiden Jokowi berbesar hati untuk membatalkan proyek pembangunan enam tol dalam kota di DKI Jakarta.

Selain sebagai tindak lanjut sikap Jokowi saat menjabat Gubernur DKI Jakarta yang mengkritik proyek ini dan lebih mendukung pembangunan transportasi massal, juga sebagai pembuktian komitmen Pemerintah untuk menekan laju kendaraan pribadi dan mengalihkan ke transportasi publik.

Menurut Fahira, jika merujuk pada RPJMN 2015-2019 yang disusun Pemerintahan Jokowi, fokus pembangunan perkotaan terutama kota besar seperti Jakarta adalah mengembangkan sistem angkutan umum massal yang modern dan maju dengan orientasi kepada bus maupun rel serta dilengkapi dengan fasilitas alih moda terpadu. Pembangunan enam ruas tol di Jakarta, lanjut Fahira, sama sekali kontraproduktif dengan rencana pembangunan perkotaan yang disusun Pemerintah sendiri.

“Kalau pro transportasi publik, pembangunan jalan tol ini harus dibatalkan, bukan malah masuk dalam program strategis nasional. Saya harap Pak Jokowi berbesar hati membatalkan pembangunan enam ruas tol ini. Gubernur sekarang juga sudah tegas menolak. Jangan padamkan semangat Pemprov DKI yang begitu antusias menarik hati warganya menggunakan transportasi publik,” ujar Senator Jakarta Fahira Idris, di Komplek Parlemen, Senayan Jakarta, Selasa (17/7).

Ketua Komite III DPD RI ini mengungkapkan, apapun alasan dilanjutkan pembangunan enam ruas tol dalam kota, termasuk nantinya akan disediakan dan digunakan untuk fasilitas transportasi umum, tetap saja yang namanya jalan tol dibangun untuk mengakomodir kendaraan pribadi. Pasalnya, setiap pertambahan jalan di Jakarta satu kilometer saja, otomatis akan disertai pertambahan ribuan mobil. Pembangunan enam ruas jalan tol ini juga dipastikan akan menghambat program integrasi transportasi umum dengan satu tarif (Ok Otrip) yang sedang dilaksanakan Pemprov DKI saat ini.

“Banyak riset membuktikan semakin banyak dan panjang jalan dibangun maka akan semakin banyak kendaraan yang melintas. Artinya, bangun jalan takkan mengurai kemecetan. Kebenaran riset ini sudah kita saksikan sendiri di Jakarta yang bertambah macet walau jalan terus dibangun. Kenapa kekeliruan ini terus kita ulangi? Ini kita belum bicara dampak lingkungan hidup. Kita mau wariskan apa kepada anak-anak Jakarta di masa depan? Kota polusi?,” pungkas Fahira.

Sebagai informasi, proyek enam ruas tol dalam kota dibangun dengan tiga sesi yang meliputi rute Semanan-Sunter, Sunter-Pulo Gebang, Duri Pulo-Kampung Melayu, Kemayoran-Kampung Melayu, Ulujami-Tanah Abang, serta Pasar Minggu-Casablanca dengan total panjang 69,6 kilometer. (*)

11Jul/18

Miris! Melanggar Aturan Jadi Karakter Pemotor

Jakarta, rsa.or.id — Hasil penelitian dari sekelompok mahasiswa psikologi yang didukung RSA pada Desember 2016 memperlihatkan bahwa intensi perilaku melanggar aturan lalu lintas dalam hal ini melawan arus jalan oleh pesepeda motor didominasi oleh kebiasaan para pelanggar.

Ironisnya, perilaku melanggar aturan tersebut telah menjelma menjadi karakter si pelanggar, yaitu aspek kontrol terhadap diri dan sikap yang dimiliki si pelanggar.

Dan ternyata, pengaruh lingkungan dan tekanan sosial tidak terlalu mendominasi intensi perilaku tersebut.

Infografis Instagram RSA Indonesia

26Jun/18

Mudik dan Balik Lebaran 2018, 454 Meninggal dalam 1.921 Kecelakaan

Jakarta, rsa.or.id — Jumlah kecelakaan lalu lintas yang terjadi selama 7-23 Juni 2018, atau saat Operasi Ketupat 2018, mencapai 1.921 kasus. Periode tersebut berlangsung sejak H-8 sampai H+8 Lebaran 2018.

“Dari H-8 hingga H+8 Lebaran, jumlah kecelakaan lalu lintas ada 1.921 kejadian, turun 30 persen dibandingkan dengan Operasi Ramadniya tahun sebelumnya [2017] yang mencapai 2.745 kejadian,” kata Kepala Bagian Penerangan Satuan Divisi Humas Polri Kombes Pol Yusri Yunus dalam keterangan resminya, pada Minggu (24/6) seperti dikutip Antara.

Menurut Yusri, penurunan juga terjadi pada dampak kasus kecelakaan lalu lintas. Dia mencatat, sejak Operasi Ketupat 2018 dimulai hingga H+8 Lebaran 2018, kecelakaan lalu linta menyebabkan 454 korban tewas.

Data itu tercatat menurun 34 persen dibandingkan jumlah korban tewas dalam kecelakaan lalu lintas di periode yang sama tahun 2017, yang mencapai 683 jiwa.

Operasi Ketupat 2018 berlangsung selama 18 hari sejak 7 Juni-24 Juni 2018. Ada sebanyak 177 ribu personel gabungan TNI-Polri, Satpol PP, pemadam kebakaran dan jajaran instansi terkait yang disiagakan dalam operasi tersebut.

Polri pun menyiapkan sebanyak 3.097 pos pengamanan di seluruh Indonesia selama pelaksanaan Operasi Ketupat 2018.

Yusri menambahkan, pada H+8 Lebaran, terpantau ada peningkatan arus balik melalui Tol Jakarta-Cikampek menuju ke Jakarta sebanyak 66.279 kendaraan. Arus kendaraan itu berasal dari wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah.

“Arus balik pada H+8 terpantau lalu lintas dari wilayah Jabar dan Jateng menuju Jakarta naik 33 persen dari kondisi normal,” kata Yusri.

Ia menambahkan, terjadi perlambatan kecepatan dan kemacetan di tol akibat telah beroperasinya truk-truk barang. Padahal hal itu masih dilarang.

“Kurang efektifnya sosialisasi Peraturan Menhub tentang pengaturan lalu lintas pada masa angkutan Lebaran dan kurang tegasnya polantas di lapangan dalam melarang mobil barang beroperasi di tol mengakibatkan mobil-mobil barang sudah banyak yang lewat tol,” katanya.

Dikutip dari Tirto.id

21Jun/18

Hingga H+4 Lebaran 2018, 346 Orang Meninggal dalam 1.559 Kecelakaan

Jakarta, rsa.or.id — Divisi Humas Mabes Polri merilis hasil kecelakaan lalu lintas yang terjadi selama musim libur lebaran tahun ini. Hingga H+4 lebaran, Selasa, 19 Juni 2018, total ada 1.559 kecelakaan lalu lintas yang mayoritas terjadi di jalur darat.

Tak hanya itu, kecelakaan lalu lintas yang terjadi selama libur lebaran tahun ini, menewaskan sebanyak 346 orang‎. Namun jumlah tersebut mengalami penurunan dibanding tahun lalu.

Berdasarkan data yang diterima Okezone, sebanyak 2.237 kecelakaan terjadi tahun 2017. Sedangkan pada tahun 2018, jumlah kecelakaan hanya berjumlah 1.559.

Sementara korban meninggal akibat kecelakaan pada 2017 menelan jiwa sebanyak 865 orang. Sedangkan pada tahun ini, jumlah korban meninggal akibat kecelakaan menurun dengan total 346 orang.

“Adanya penurunan jumlah laka lantas selama operasi ketupat dari H-8 sampai dengan H+4 tahun 2017 dibandingkan tahun 2018,” kata Kabag Pensat Divisi Humas Mabes Polri, Kombes Yusri Yunus‎ dalam keterangan resminya, Rabu (20/6/2018).

Berdasarkan rincian di atas, kecelakaan lalu lintas pada tahun ini mengalami penurunan sebesar 30 persen dibanding tahun lalu. Sedangkan, korban meninggal dunia pada tahun ini mengalami penurunan 60 persen dibanding tahun lalu.

Dikutip dari Okezone

21Jun/18

Hingga H+3 Lebaran, 333 Orang Meninggal dalam Lakalantas

Jakarta, rsa.or.id — Hingga H+3 lebaran, ada sebanyak 333 orang meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas. Korban lakalantas itu terjadi dalam 1.478 kejadian kecelakaan.

Karopenmas Mabes Polri Brigjen Pol Mohammad Iqbal melalui pesan singkatnya, Selasa (19/6) merinci jumlah korban meninggal pada Operasi Ketupat 2018 hingga H+3 Lebaran sebanyak 333 orang.

Hal itu diklaimnya terjadi penurunan sebesar 59 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun 2017, yakni 815 orang.

Selain itu juga terjadi penurunan jumlah kecelakaan yang terjadi dalam masa Operasi Ketupat 2018 yang digelar mulai Rabu (7/6) hingga Senin (18/6) yang mencapai 1.478 kasus atau turun 30 persen dibandingkan periode yang sama dalam operasi serupa pada 2017.

“Dari H-8 hingga H+3 Lebaran jumlah kecelakaan lalu lintas ada 1.478 kejadian, turun 30 persen dibandingkan dengan Ops Ramadniya tahun sebelumnya yang mencapai 2.110 kejadian,” kata Iqbal. (*)

Dikutip dari Warta Ekonomi

21Jun/18

Ada 1.154 Kecelakaan dan 242 Orang Meninggal Saat Arus Mudik

Jakarta, rsa.or.id — Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) mencatat sebanyak 1.154 kecelakaan lalu lintas terjadi dalam arus mudik lebaran 2018. Angka ini merupakan catatan yang terhitung sejak 7 hingga 15 Juni.

Kepala Divisi Hubungan Masyarakat (Kadiv Humas) Polri, Inspektur Jenderal Setyo Wasisto, mengatakan jumlah kecelakaan lalu lintas pada arus mudik lebaran 2018 mengalami penurunan sebanyak 469 kejadian dibandingkan tahun lalu.

“(Dalam rentang waktu sama) di 2017 ada 1.623 kejadian, sementara tahun ini ada 1.154 kejadian,” ucap Setyo dalam keterangan tertulis yang diterima CNNIndonesia.com, Sabtu (16/5).

Dia menerangkan sebanyak 1.154 kejadian kecelakaan lalu lintas dalam arus mudik lebaran 2018 melibatkan 2.377 unit kendaraan dan menyebabkan 242 orang meninggal dunia.

Jumlah ini, lanjutnya, juga mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.

“Jumlah kendaraan yang terlibat kecelakaan turun 1.239 unit, sedangkan jumlah korban meninggal dunia turun 374 orang,” kata jenderal bintang dua itu.

Lihat juga: Para Perantau di Papua dan Mahalnya Tiket Pesawat untuk Mudik

Menurut dia, kecelakaan lalu lintas hingga hari lebaran, Jumat (15/6) didominasi jenis sepeda motor. Berangkat dari itu, Setyo pun menyarankan pengendara sepeda motor untuk lebih memanfaatkan pos-pos yang telah disediakan untuk beristirahat.

Lebih jauh, Setyo berkata arus lalu lintas di Tol Cikampek di hari lebaran padat karena masih ada masyarakat yang mudik.

Polisi mengambil upaya mengurai arus lalu lintas di daerah tersebut dengan melakukan rekayasa lalu lintas berupa contra flow atau lawan arus.

Selanjutnya, kata dia, arus kendaraan yang melewati Gerbang Tol Merak di hari lebaran mencapai 14.434 unit, kemudian melewati Gerbang Tol Ciawi sebanyak 26.784 unit, Gerbang Tol Cileunyi 33.393 unit, Gerbang Tol Cikarang Utama 77.836 unit, Gerbang Tol Palimanan 1.003 unit, dan Gerbang Tol Manyaran 26.317 unit.

Operasi Ketupat 2018 berlangsung selama 18 hari sejak 7 hingga 24 Juni mendatang. Sebanyak 177 ribu personel gabungan TNI, Polri, Satuan Polisi Pamong Praja, pemadam kebakaran, dan jajaran instansi terkait disiagakan dalam operasi ini.

Polri pun menyiapkan sebanyak 3.097 pos pengamanan di seluruh Indonesia selama pelaksanaan Operasi Ketupat 2018. (*)

Dikutip dari CNNIndonesia

16Jun/18

Polri: 193 Orang Meninggal Selama Arus Mudik Lebaran

Jakarta, Swamedium.com — Sedikitnya terdapat 193 orang meninggal dunia akibat kecelakaan selama arus mudik Lebaran 2018. Jumlah tersebut menurun drastis dibandingkan tahun sebelumnya, yakni sebanyak 478 orang.

“Sampai hari ini telah terjadi sebanyak 899 kejadian (kasus kecelakaan-red), hal ini mengalami penurunan sebanyak 420 kejadian dari tahun 2017, yaitu sebanyak 1.319 kejadian. Sedangkan untuk pelanggaran lalu lintas telah terjadi sebanyak 79.981 pelanggaran,” kata Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri Inspektur Jenderal Polisi Setyo Wasisto, dalam keterangan tertulis, Kamis (14/6/2018).

Berdasarkan laporan harian situasi Kamtibmas Oprasi Ketupat 2018 pada H-2 Lebaran Rabu 13 Juni, terjadi sejumlah kasus gangguan Kamtibmas.

Dia menambahkan, terdapat 417 kasus gangguan Kamtibmas yang terdiri atas pencurian dengan pemberatan, pencurian dengan kekerasan, pencurian kendaraan bermotor, dan penganiayaan berat.

“Polri menyampaikan terima kasih kepada TNI dan seluruh stakeholder terkait serta kepada seluruh masyarakat yang telah bersama-sama ikut menciptakan situasi yang kondusif pada arus mudik tahun 2018 dan H-1 menjelang Hari Raya Idul Fitri,” tuturnya.

Menurut dia, hingga saat ini Polri, TNI, dan pihak terkait akan terus berada di jalur mudik dan nonmudik, berpatroli dari kota dan menyambangi kampung-kampung untuk memberikan pelayanan, perlindungan dan pengayoman kepada masyarakat. Kegiatan pemantauan akan terus dilaksanakan hingga usai Lebaran nanti.

“Polri menjamin keamanan selama Lebaran tahun 2018 dengan memperketat pengamanan objek-objek vital, sentra-sentra ekonomi, tempat-tempat wisata dan rumah-rumah yang ditinggal mudik oleh pemiliknya. Agar seluruh masyarakat dapat mudik dan bersilaturahmi dengan keluarga selama Lebaran dan kami yang menjaga Kamtibmas dengan rekan-rekan TNI dan seluruh stakeholder terkait,” tuturnya. (*/ls)

Sumber: istimewa

14Jun/18

Hingga H-2 Lebaran, Ada 899 Kecelakaan dan 193 Orang Meninggal

Jakarta, rsa.or.id — Jumlah kasus kecelakaan yang terjadi dalam Operasi Ketupat 2018 dari H-8 hingga H-2 Lebaran atau dari Rabu (7/6) hingga Rabu (13/6) sebanyak 899 kasus dengan jumlah korban meninggal 193 orang.

“Dari H-8 hingga H-2 jumlah kecelakaan lalu lintas ada 899 kejadian, turun 32 persen dibandingkan dengan Ops Ramadniya tahun sebelumnya yang mencapai 1.319 kejadian,” kata Kadivhumas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto di Mabes Polri, Jakarta, Kamis.

Juga terjadi penurunan dampak kecelakaan dalam Operasi Ketupat 2018 hingga H-2 dibanding data korban meninggal dunia dalam Ops Ramadniya 2017 hingga H-2 Lebaran.

Setyo merinci jumlah korban meninggal pada Ops Ketupat 2018 hingga H-2 sebanyak 193 orang atau turun 59 persen dibandingkan periode yang sama di tahun 2017 yakni 478 orang.

Menurut dia, kecelakaan lalu lintas pada H-2 Lebaran didominasi oleh sepeda motor.

“Kendaraan yang terlibat kecelakaan lalu lintas pada jalur mudik dan jalur nonmudik didominasi oleh kendaraan sepeda motor karena tidak waspadanya pengendara dan banyaknya pengendara melanggar batas kecepatan,” katanya.

Ia menambahkan bahwa pada H-2 Lebaran, terjadi peningkatan arus mudik yang menuju ke Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur sebesar 33 persen. “Hal ini disebabkan masih banyaknya pemudik dengan menggunakan kendaraan pribadi,” katanya.

Dalam upaya mengurai kepadatan arus lalu lintas di jalan Tol Jakarta-Cikampek (Japek) dan Tol Cipali pada H-2, polisi memberlakukan rekayasa lalu lintas berupa contraflow dan one way di tol tersebut.

Ia pun merinci, pada H-2 Lebaran, arus kendaraan yang melewati Gerbang Tol Merak sebanyak 8.200 kendaraan atau naik 89,2 persen dibandingkan hari biasa, yang melewati GT Ciawi sebanyak 21.789 kendaraan atau naik 1,68 persen, yang melewati GT Cileunyi 39.206 kendaraan atau naik 2,92 persen, yang lewat GT Cikarang Utama 54.583 kendaraan atau naik 38 persen.

“Jumlah kendaraan yang melewati Exit GT Palimanan ada 50.941 kendaraan, yang melewati GT Kertasari 42.601 kendaraan dan GT Manyaran 31.764 kendaraan,” katanya.

Operasi Ketupat 2018 berlangsung selama 18 hari sejak 7 Juni-24 Juni 2018. Ada sebanyak 177 ribu personel gabungan TNI-Polri, Satpol PP, pemadam kebakaran dan jajaran dari instansi terkait yang disiagakan dalam operasi tersebut.

Polri pun menyiapkan sebanyak 3.097 pos pengamanan di seluruh Indonesia selama pelaksanaan Operasi Ketupat 2018. (*/ls)

Dikutip dari Antara

14Jun/18

Rules, Skills, Attitude: The Road Safety Triangle In Indonesia

Washington, rsa.or.id — Road Safety Association (RSA), Indonesia, have as their mantra a triangle of concepts corresponding to the initials of their name: Rules, Skills, Attitude.

Director, Rio Octaviano, explains why they have chosen these concepts as the focus of their activities in Indonesia: “The government has rules [for road behavior] but people don’t know about them…but once they know about the rules, they don’t change their behavior because it has become their character. They know about the rules and the punishment but they don’t care,” he says. Coupling this with low enforcement of rules and high levels of corruption, the road situation in Indonesia is serious: three people die on the roads every hour.

Rio is particularly passionate about the role that parents have in shaping young people’s attitudes and road behavior. He points to two actions that he believes would make a powerful impact on road safety in Indonesia: “Parents need to set an example for example by wearing a motorcycle helmet. They also need to stop giving underage children vehicles—motorcycles and cars—it’s killing them.”

Recently RSA conducted a pilot project, Road Safety Goes to Citizen, among residents in one complex in Jawa Barat to test the effectiveness of their road safety activities in teaching road safety rules and skills and changing attitudes.

Road Safety Goes to Citizen incorporated road safety banners in prominent places where residents of the complex would see them, followed by a seminar and a Facebook campaign. RSA questioned the residents before and after the interventions and discovered that their knowledge of road safety rules had increased by 21%, knowledge of skills by 5%, and safe attitudes by 6%.

RSA have presented their findings to the Minister of Transport to seek their support to extend this pilot to a wider number of people. RSA are the only registered road safety NGO in Indonesia, and they understand the responsibility that gives them to advocate at government level for improved legislation and enforcement and to be partners on the ground working on driver behavior. (*)

Source: http://roadsafetyngos.org/sh_events/rules-skills-attitude-road-safety-triangle-indonesia/