“Barangkali, inilah kenangan yang tak pernah aku inginkan untuk selalu ada dalam kepalaku.”

Sepulang sekolah, seperti biasa Ayah mengabariku untuk menjemput dan mengantarku pulang. Dan, sudah seperti biasanya juga Ayah melakukan itu tepat sebelum aku mengabarinya lebih dulu. Di rumah sebelum ia berangkat, Ayah selalu ingat untuk mengenakan helm, berpamitan kepada Ibu, dan tak lupa mengecup manja adikku yang baru berumur satu bulan. Ayah merupakan pribadi yang teratur, ia selalu mempersiapkan sesuatu sebelum memulai kegiatannya.

1 jam telah berlalu dan aku tampak gusar menunggu kedatangan Ayah. Aku lihat teman-teman sekolahku lainnya sudah dijemput oleh orangtuanya masing-masing. Sebelum pulang sekolah, Ibu guru juga berpesan agar tidak menerima tumpangan dari orang tak dikenal atau sekadar mengobrol.

Aku memang masih kecil, masih menjadi beban keluarga dan tak mengerti aturan sosial yang berlaku, terlebih tentang bagaimana orang bisa sangat jahat kepada orang lain, padahal orang itu tersenyum dan menawarkan bantuan. Aku masih belum mengerti akan kerumitan itu.

1 jam beralu, berganti menjadi 2 jam lamanya dan aku masih setia menunggu Ayah di depan pintu gerbang sekolah. Tak ada lagi teman-temanku dan orangtua siswa yang lalu-lalang untuk menjemput anak mereka. Sementara ibu guru tak kalah cemas denganku dan senantiasa sudah berapa kali menawarkan bantuannya untuk mengantarku pulang. Aku sebenarnya tak tega melihat guruku harus ikut menunggu. Aku katakan padanya “Tidak usah bu, Ayah sedang dalam perjalanan, dan aku sudah berjanji menunggunya.” Namun tampaknya ibu guru tak patah arang.
“Tak apa nak, biar ibu antar kamu pulang. Mungkin ayahmu lupa atau ada pekerjaan yang mendesak, sehingga pergi kesuatu tempat dan lupa mengabarkanmu,”
“Tidak, bu. Ayah selalu menepati janjinya. Ayah tak seperti itu.”

Kami terdiam dan memandangi awan putih yang telah bergerak melangkah pergi. Kini awan putih itu telah tersingkir oleh awan hitam yang memaksakan kehendaknya. “Tuhan mungkin sebentar lagi menurunkan hujan.” ucapku dalam hati.

Lama sudah kami menunggu. Dan, hujan pun turun dengan derasnya, membasahi alam dan ruang di antara kecemasan. Aku masih berdiri mematung dan tak terbersit pun ingin melangkah pergi. “Biar hujan membasahiku, biarkan hujan menenggelamkan kegundahanku tentang anak yang menunggu ayah.”

Hingga sebuah petir tiba-tiba ke luar menghujam. Petir itu seakan mengabarkan apa yang semestinya ia kabarkan. Berkali-kali kilat dan petir silih berganti. Dan, Ayah masih belum tampak.

Tampaknya… atau mungkin?

Seseorang dari kejauhan berlari melambaikan tangan ke arahku, memberikan isyarat. Orang itu, lelaki yang nampaknya aku kenal tiba begitu cepat dihadapanku dan seakan ingin melahapku melalui ucapannya. Ia bercerita panjang lebar tentang pesan yang tak ingin kudengar. Maka jika waktu itu Tuhan memotong kupingku, aku akan lebih bersyukur terhadapnya.

Lelaki itu nampak begitu bingung harus memulai penjelasannya dari mana. Hingga ia tak mampu lagi untuk mencari kata yang tepat bagiku. Seorang anak yang berumur 6,5 tahun dikabarkan menerima pesan yang tak pantas untuk kupingnya. “Ayahmu telah pergi, nak. Sebuah mobil baru saja menabraknya diperempatan lampu merah. Ketika itu Ayahmu menerobos lampu merah yang baru menyala. Ketika ia pikir lampu hijau yang ia lihat masih ada sekitar 5 detik lagi mampu ia lewati, tapi naas sebuah mobil dari arah kiri perempatan melaju dengan kencang dan tak sempat mengerem kendaraannya ketika melihat Ayahmu melaju.”

Dan, kembali lagi hujan pun turun dengan derasnya, membasahi alam dan ruang di antara takdir yang tak ingin aku miliki. Aku masih berdiri mematung dan tak terbersit pun ingin melangkah pergi. “Biar hujan membasahiku, biarkan hujan menenggelamkanku tentang cerita anak yang menunggu ayah.”

oleh @novriliantobayu

 

About RSA Admin

RSA memfokuskan diri pada isu-isu pentingnya keselamatan jalan dengan menekankan ketaatan kepada peraturan lalu lintas, perilaku berkendara yang tepat dan standar minimum keterampilan berkendara.

Leave a Reply

Your email address will not be published.