BEKASI tak berbeda jauh dengan Jakarta. Kota satelit Jakarta itu memiliki denyut kehidupan kelompok pengguna sepeda motor sedinamis di Jakarta.

Dalam satu bulan terakhir, pada September 2013, Road Safety Association (RSA) mendapat ajakan untuk menggelar kopi darat keliling (kopdarling) bersama kelompok pesepeda motor di Bekasi. Pertama dari komunitas Xcyber, yakni komunitas pengguna sepeda motor Bajaj XCD 125 DTS-Si dan varian Bajaj lainnya, Sabtu (7/9/2013). Sedangkan yang kedua bersama Yamaha Vixion Club Indonesia (YVCI Bekasi, Sabtu (21/9/2013).

Lazimnya kopdarling RSA, topik bahasan utama adalah seputar keselamatan jalan, khususnya terkait dengan pesepeda motor. Dalam kopdarling di YVCI Bekasi, topik yang diusung adalah ‘Hak Utama di Jalan Raya’ dan ‘Manajemen Touring’.

Tim RSA diwakili jajaran pengurus yang cukup lengkap kali ini, yakni Ketua Umum Edo Rusyanto, Sekjen Lucky Subiyakto, dan Bendahara Yudhi. Lalu, Wakil Bendahara Rahmat Dito Faisal, dan Divisi Kegiatan Ahmad Haryanto.

Kopdarling yang dimulai sekitar pukul 22.30 WIB itu, agak istimewa karena terkait dengan persiapan pelantikan calon anggota YVCI Bekasi. Bahasan topik keselamatan jalan pada malam itu, menjadi salah satu bekal bagi para anggota YVCI Bekasi, khususnya bagi para calon anggota. “Mereka yang akan dilantik itu juga ada tes safety riding, tapi lebih banyak ke teknis. Nah, masukan dari RSA ini menjadi bekal cukup penting,” kata bro Odie, salah seorang anggota YVCI Bekasi yang juga relawan RSA Indonesia, Sabtu malam.

Tak heran jika pertanyaan yang meluncur ada yang menyerempet soal teknis. Sebut saja misalnya pertanyaan tentang bagaimana cara berbelok yang aman atau apa saja yang mesti diperhatikan sebagai bekal utama berkendara yang aman dan selamat.

Bro Dito dan bro Yudhi bergantian menerangkan aspek teknis hal-hal yang harus diperhatikan sebagai bekal utama. “Dua hal penting bagi pesepeda motor di antaranya adalah mengetahui cara berbelok dan mengerem yang aman,” urai bro Yudhi.

Pengereman yang maksimal dalam kondisi normal di jalan raya, jelas bro Yudhi, lewat mekanisme pengereman yang bersamaan antara rem depan dan rem belakang. Porsinya, rem depan sekitar 70% dan selebihnya rem belakang.

Aspek lain yang cukup penting, pada malam itu, Ketua Umum RSA mengajak para pesepeda motor agar lebih peduli dengan sesama. Prinsip dari berkendara yang aman dan selamat adalah mengurangi potensi fatalitas kecelakaan yang bakal dihadapi para pengguna jalan. “Kecelakaan bisa terjadi kapan saja dan dimana saja, apa yang kita lakukan adalah mengurangi risiko kecelakaan,” kata Edo Rusyanto.

Prinsip dasar lainnya adalah menempatkan perilaku berkendara yang aman dan selamat agar terhindar dari mahabahaya bagi diri sendiri dan orang lain. RSA menyodorkan resep ‘Segitiga RSA’, yakni berkendara yang taat pada aturan. Lalu, memiliki kemampuan berkendara yang mumpuni dan berperilaku yang peduli dengan sesama pengguna jalan. “Termasuk saling menghargai dengan para pemilik hak utama,” ujar bro Ahmad.

Diskusi informal sambil lesehan di pelataran parkir di kawasan Kota Harapan Indah, Bekasi, Jawa Barat berlangsung cukup hangat. Selain pembahasan yang cukup serius, sesekali obrolan juga diisi dengan canda tawa. Kelakar terkait perilaku berkendara yang aman menjadi jurus jitu untuk mempermulus pesan yang ingin disampaikan. Diskusi informal yang membangun harapan agar para pengguna jalan terhindar dari potensi kecelakaan lalu lintas jalan yang mematikan.

Sekadar menyegarkan ingatan kita, pada tahun 2012, sekitar 67,56% kendaraan yang terlibat dalam kecelakaan lalu lintas jalan di Bekasi, Jawa Barat adalah sepeda motor. Angka itu lebih tinggi dibandingkan keterlibatan sepeda motor dalam kecelakaan secara nasional yang sekitar 64%.

Data Ditlantas Polda Metro Jaya menyebutkan, setiap hari ada tiga kasus kecelakaan yang melibatkan sepeda motor di Bekasi, baik di Bekasi Kota maupun di Bekasi Kabupaten. Sekalipun jika dibandingkan setahun sebelumnya, keterlibatan sepeda motor menurun, namun angka 67,56% masih tergolong tinggi. Pada 2011, keterlibatan sepeda motor sekitar 71,55%.

Sementara itu, ini yang memprihatinkan, 78,57% dari korban yang tewas akibat kecelakaan di Bekasi adalah para pesepeda motor. Sebuah angka yang membuat kita bergidik. Betapa ringkihnya sepeda motor ketika di jalan raya. Walau, sekali lagi, peran para pengendara memegang andil besar.

Oh ya, pada 2012, korban kecelakaan dari kalangan pesepeda motor melonjak sekitar 20,2% dibandingkan tahun 2011. Sedangkan korban yang menderita luka berat melambung lebih tinggi, yakni sekitar 69,96%.

Ironisnya, faktor kelengahan saat berkendara menjadi pemicu yang paling tinggi, yakni sekitar 57,80% dari 1.460-an kasus kecelakaan di Bekasi pada 2012. Pemicu kedua terbesar adalah tidak terampil, yakni sekitar 22,35%. sedangkan pemicu ketiga terbesar adalah berkendara tidak tertib, yakni sekitar 18,40%.

Tepat pukul 01.00 WIB, Minggu (22/9/2014), tim RSA pamitan kembali ke Jakarta. Para anggota YVCI Bekasi meminta foto bersama sebelum tim RSA meninggalkan lokasi kopdarling. (edo rusyanto)

foto: lucky

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *