Melawan LUPA. Data memperlihatkan kecelakaan lalu lintas jalan sudah demikian mengkhawatirkan. Sekadar menyegarkan ingatan. Melawan LUPA!

Ya. Indonesia patut berduka. Dalam rentang 20 tahun terakhir, 1992-2011, sekitar 280 ribuan jiwa tewas akibat kecelakaan di jalan raya. Artinya, dalam 20 tahun terakhir, setiap hari ada 38 orang tewas akibat kecelakaan di jalan raya. Bahkan, sepanjang 2010-2011, rata-rata per hari korban tewas sekitar 85 jiwa per hari.
Itu belum termasuk korban yang luka berat dan luka ringan. Dalam 20 tahun terakhir, mereka yang luka-luka rata-rata sebanyak 107 orang per hari.

Korban kecelakaan dalam 20 tahun terakhir itu, lebih dahsyat dibandingkan korban letusan Gunung Krakatau pada 1883 yang menelan 36 ribu jiwa. Letusan Gunung Krakatau yang menimbulkan gelombang tsunami, 26-27 Agustus 1883 diperkirakan 30 ribu kali kekuatan bom atom Hiroshima, Jepang. Butuh ratusan tahun untuk meletusnya Gunung Krakatau sehingga menewaskan sekitar 36 ribu jiwa. Bandingkan dengan kecelakaan, dalam 20 tahun terakhir Indonesia kehilangan 280 ribuan jiwa akibat kecelakaan.

Petaka di jalan raya bahkan lebih dahsyat dibandingkan korban tsunami Aceh pada 2004 yang tercatat hampir 127 ribu jiwa. Ya, angka itu untuk korban yang tercatat di Indonesia. Korban tsunami Aceh di seluruh dunia tercatat sekitara 283 ribuan jiwa.

Tsunami butuh waktu 96 tahun untuk merenggut ratusan ribu jiwa, sebelum di Aceh, tsunami dahsyat terjadi di Italia pada 1908, menewaskan 75 ribu jiwa. Sedangkan Tsunami Italia terjadi 153 tahun setelah tsunami Lisboa Tengah yg terjadi pada 1755. Saat itu, gempa 9 skala richter dan tsunami menewaskan sekitar 60 ribu jiwa.

Mestikah kita diam melihat korban bergelimpangan di jalan raya? Pada 2010 dan 2011, rata-rata 85 jiwa tewas setiap hari. Saatnya kita bertindak. Mulai dari diri sendiri. Berkendara yang aman dan selamat menjadi kebutuhan. Sudi berbagi ruas jalan. Para pengguna jalan meningkatkan keterampilan berkendara, sudi berbagi, dan mau ikuti aturan yang ada. Ada keluarga tercinta yang menunggu kita pulang selamat ke rumah.

Para penegak hukum bertindak tegas, konsisten, kredibel, tidak pandang bulu, dan transparan. Bukankah pak polisi selalu bilang, kecelakaan kerap kali diawali dengan pelanggaran aturan di jalan? Artinya, jika pelanggaran dikurangi, potensi kecelakaan juga bisa direduksi dong?

Sedangkan para penanggung jawab jalan, baik itu kementerian pekerjaan umum maupun pemerintah daerah, wajib memastikan kondisi infrastruktur dalam kondisi baik. Tidak rusak. Tidak membahayakan pengguna jalan.

Para penyelenggara transportasi sudah saatnya mewujudkan angkutan umum massal yang aman, nyaman, selamat, tepat waktu, dan terjangkau. Tingginya pemakaian kendaraan pribadi bukan mustahil bisa memicu kecelakaan di jalan.
Pemerintah daerah menyiapkan supra dan infrastruktur jalan. Rambu, marka, bahkan penerangan jalan berfungsi maksimal.

Sudah cukupkah untuk meredam dahsyatnya petaka di jalan raya? Ya. Sinergi mutlak. Ayo para stakeholder bersinergilah. Cukup sudah 280 ribuan jiwa lebih tewas akibat kecelakaan lalu lintas di Indonesia. Saatnya bertindak dan melawan lupa ada derita di jalan raya. (edo rusyanto)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *