Dhaka, rsa.or.id – Selama lebih dari seminggu, Bangladesh dicekam unjuk rasa massal yang dipicu oleh kematian dua bocah dalam suatu kecelakaan lalu lintas.

Para demonstran, sebagian besar anak muda, menuntut agar pemerintah mengambil tindakan nyata untuk meningkatkan keselamatan di jalanan.

Gerakan ini berkembang menjadi pelik, dan telah terjadi berbagai kekerasan di jalan-jalan ibukota, Dhaka, yang dihuni oleh 18 juta orang.

Inilah runutan peristiwa yang pelik itu.

Apa yang memicu protes pertama?

 

Kecelakaan itu bisa saja berlalu begitu saja sebagai kejadian sehari-hari di kota dengan lalu lintas sangat berbahaya di negara di mana lebih dari 4.000 pejalan kaki tewas dalam kecelakaan lalu lintas tahun lalu.

Namun ternyata tidak. Kecelakaan itu justru memicu kemarahan luas di media sosial dan kemudian menyebabkan gelombang demonstrasi anak-anak sekolah.

Protesting students in DhakaEPA
Para pengunjuk rasa memblokade jalan-jalan dan persimpangan.

Puluhan ribu murid sekolah turun ke jalan-jalan di Dhaka, memblokir jalan dan persimpangan, yang menyebabkan kelumpuhan kota.

Para pengunjuk rasa menghentikan truk, bus dan mobil, memeriksa SIM pengemudi dan mengecek apakah kendaraan berada dalam kondisi layak jalan.

“Yang kami inginkan adalah lenyapnya korupsi, dan bahwa SIM tak lagi dibagikan seperti permen,” kata seorang remaja berusia 17 tahun kepada BBC.

Bagaimana jadi mengarah pada kekerasan?

Unjuk rasa yang jarang terjadi di Bangladesh itu berlanjut berhari-hari dengan ribuan murid dan mahasiswa yang praktis melumpuhkan ibukota negeri. Jalur-jalur bus di dalam kota dan yang menuju atau berangkat dari Dhaka dibatalkan.

Saat menangani pengunjuk rasa Sabtu lalu, polisi dilaporkan menggunakan gas air mata dan peluru karet, melukai puluhan remaja – meskipun pihak berwenang menyangkal hal ini.

Terjadi pula bentrokan antara demonstran dan kelompok pro-pemerintah, yang disebutkan merupakan anggota Liga Chhatra Bangladesh (BCL), organisasi mahasiswa yang terkait dengan partai Liga Awami yang berkuasa.

A woman cries after clashes with police during a student protest in Dhaka on August 5, 2018NurPhoto/Getty Images
Sejumlah kekerasan dituduhkan pada para anggota Liga Chhatra Bangladesh (BCL), organisasi mahasiswa yang terkait dengan partai Liga Awami yang berkuasa.

BCL juga dituduh terlibat dalam serangan terhadap wartawan – termasuk tindakan menghancurkan ponsel dan kamera – yang oleh koran Daily Star disebut sebagai “pelanggaran kebebasan pers yang sangat tercela.”

Di tengah situasi kekerasan pada Sabtu malam lalu, sejumlah orang bersenjata menyerang konvoi kendaraan yang membawa duta besar AS.

Pada hari Minggu (5/8), aktivis HAM yang juga fotografer terkenal Shahidul Alam ditahan akibat unggahannya di Facebook tentang unjuk rasa itu. Ia ditahan beberapa jam setelah wawancara televisi dengan Al Jazeera, yang di dalamnya ia mengkritik keras cara pemerintah dalam menangani demonstrasi.

“Kami menginterogasi dia karena memberikan informasi palsu ke berbagai media dan karena pernyataan-pernyataan provokatif yang diucapkannya,” kata seorang perwira polisi Moshiur Rahman kepada AFP.

Bagaimana para siswa menggalang diri?

Dengan gerakan protes yang hampir seluruhnya didorong anak-anak muda, tidak mengherankan bahwa media sosial memainkan peran kunci, baik dalam menyebarkan berita awal tentang tewas tertabraknya dua siswa, maupun dalam menggalang demonstrasi.

https://twitter.com/sifat70/status/1026160890779844608

Para pengguna medsos terguncang atas reaksi keras pemerintah tetapi bersikeras bahwa mereka akan terus turun ke jalan,

Para aktivis juga berbondong-bondong ke media sosial untuk menggalang peliputan media lokal dan internasional.

https://twitter.com/saarahmaaria/status/1026386097721335808


Apa tanggapan sejauh ini?

Pemerintah menjanjikan untuk melakukan reformasi terkait keselamatan di jalan raya. Senin (6/8) ini kabinet menyepakati Undang-Undang Angkutan Jalan Raya yang baru yang sejak lama tertunda.

Namun para pejabat menegaskan bahwa mereka menginginkan agar unjuk rasa protes yang mempermalukan pemerintah Sheikh Hasina itu untuk segera berakhir.

Dhaka policeEPA
Terjadi berbagai aksi bentrokan kekerasan antara polisi dan pengunjuk rasa.

Pemerintah memblokir layanan internet 3G dan 4G sepanjang Sabtu malam – sehingga menghalangi upaya para pengunjuk rasa untuk melakukan penggalangan dan berbagi informasi atas aksi mereka.

Hari Minggu kemarin, PM Hasina menyerukan para siswa untuk pulang.

Partai Liga Awami yang dipimpinnya juga membela tindakan para aktivis partai yang dituduh melakukan kekerasan. “Apakah kita akan mencium mereka jika mereka merangsek ke kantor Liga Awami?” kata sekretaris jenderal mereka, Obaidul Quader.

https://twitter.com/usembassydhaka/status/1026033802466873344

Perserikatan Bangsa-Bangsa, PBB, mengungkapkan kecemasan atas keselamatan anak-anak muda yang terperangkap dalam aksi protes.

“Kami sangat prihatin dengan laporan-laporan kekerasan, dan meminta semua pihak untuk tenang,” kata koordinator PBB di Bangladesh Mia Seppo.

Kedutaan AS di Bangladesh juga mengkritik tindakan polisi terhadap para pengunjuk rasa melalui pernyataan keras mereka.

Sumber: Tempo

About RSA Admin

RSA memfokuskan diri pada isu-isu pentingnya keselamatan jalan dengan menekankan ketaatan kepada peraturan lalu lintas, perilaku berkendara yang tepat dan standar minimum keterampilan berkendara.