SUARA sang profesor meninggi. Ada aura gemas. Bagaimana tidak, topik yang sedang dibahas adalah dampak kecelakaan lalu lintas jalan terhadap korban dan keluarga korban. Kecelakaan bisa menambah jumlah orang miskin.

Kecelakaan yang merenggut jiwa seorang kepala keluarga yang menjadi tiang ekonomi keluarga, bisa menggoncangkan kehidupan keluarga. Tak heran jika penelitian Universitas Gadjah Mada(UGM) Jogjakarta, beberapa waktu lalu menyebutkan bahwa kecelakaan berdampak pada ekonomi keluarga. “Akibat kecelakaan menimbulkan penurunan kualitas hidup. Di Indonesia, sebanyak 62,5 % keluarga mengalami pemiskinan akibat kecelakaan,” tutur profesor Harnen Sulistio, guru besar Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, beberapa waktu lalu.

Artinya, jika saat ini ada sekitar 30 juta orang, bakal terus bertambah jika kecelakaan membubung. Sekadar menyegarkan ingatan kita, pada 2010 dan 2011, jumlah korban tewas akibat kecelakaan tak bergeser dari angka 31 ribuan jiwa. Bayangkan jika dari para korban tersebut adalah para kepala keluarga atau mereka yang menjadi tiang ekonomi keluarga.

Sekalipun ada santunan bagi korban jiwa dari Jasa Raharja, nilainya tak lebih dari Rp 25 juta per korban. Nominal Rp 25juta tak sebanding dengan kehilangan yang diderita keluarga korban.

Nah, jika temuan UGM tersebut masih relevan hingga kini, rasanya pemerintah mesti membuka mata lebar-lebar. Jargon mengentaskan kemiskinan menjadi lunglay manakala di sisi lain kecelakaan terus meningkat. Pemiskinan terus berlangsung. Pemicunya, kecelakaan lalu lintas jalan.

About RSA Admin

RSA memfokuskan diri pada isu-isu pentingnya keselamatan jalan dengan menekankan ketaatan kepada peraturan lalu lintas, perilaku berkendara yang tepat dan standar minimum keterampilan berkendara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *