TUAN tahu kah tuan, kita kehilangan 70-an nyawa anak bangsa. Setiap hari.

Mereka meregang nyawa bukan karena perang konvensional dengan senjata kimia. Bukan juga lantaran bom bunuh diri untuk memerangi ideologi. Mereka tumbang karena angkara murka di jalan raya. Tewas mengenaskan karena petaka bernama kecelakaan lalu lintas jalan.

Tahukah tuan, fakta data menuding kegenitan di jalan raya yang dipertontonkan lewat keangkuhan diri menjadi penggoda utama hadirnya sang petaka. Lewat atraksi labrak aturan disana-sini sang petaka terus digoda untuk hadir. Tak pandang usia, tak pandang kasta yang kita sandang, atraksi tadi bak menu makan sehari-hari. Akarnya ada di dalam arogansi.

Lantas dimana sang penjaga berada? Manakala pelanggaran aturan dianggap sebagai biang kerok terjadinya kecelakaan di jalan, mestinya dia hadir. Mencengkeram para penunggang kuda besi maupun gerobak besi yang mempertontonkan arogansi.

Kapan tuan sudi mengepalkan tangan untuk meninju sang jagal jalan raya?

Menanti hadirnya kesadaran sepenuh hati tak semudah membalikkan telapak tangan. Kesadaran itu terkubur oleh materialisme yang kokoh menindas nurani. Mereka hidup di tengah ambisi menggapai harta benda untuk dijadikan berhala. Sikat sana, sikat sini dianggap lumrah. Terobos sana, terobos sini dianggap ideologi menghibur diri.
Tahukah tuan bahwa setiap hari juga kita meradang oleh ratusan orang yang menggelepar dengan luka. Mereka dicabik-cabik sang jagal jalan raya. Ketika melewati proses kritis dan bahkan ketika mampu bertahan, tahukah tuan bahwa produktifitas mereka merosot. Angka-angka produktifitas yang diharapkan memutar roda pertumbuhan ekonomi pun terusik. Dimana telinga tuan untuk mendengar ini?

Tuan, jalan raya bukan ladang pembantaian. Walau angka-angka menyebut kini lebih baik dibandingkan lima tahun lalu, rasanya belum pantas tuan berbangga diri. Kita tahu, lima tahun lalu 80-an anak bangsa meregang nyawa dan kini, 70-an tiap hari. Masih panjang perjalanan untuk menghapus kelamnya jalan raya kita.

Tuan-tuan, mari simpan ego institusi yang menggelora di dalam kotak besi. Kunci rapat-rapat dan buang kuncinya di dasar samudera paling dalam. Rapatkan barisan dengan sepenuh jiwa memerangi teror sejati di jalan raya. Kita sudah dalam kondisi darurat. Tak perlu menyombongkan ego diri, saatnya bergerak bersama.

Saat tuan membaca tulisan ini, sudilah tuan untuk berjanji, saat di jalan raya tidak saling menikam sesama anak negeri. Kepongahan yang membius menjadi senjata paling tajam untuk menikam lewat jubah kecelakaan. Kita hancurkan angkara murka untuk menang sendiri. Kita tinju sang jagal jalan raya. Kita jadikan lalu lintas jalan yang lebih humanis. Karena kita sepakat, jalan raya bukan ladang pembantaian. (edo rusyanto)

About Lucky

Disiplin, Tertib, Teratur. 3 hal inilah yang diajarkan oleh orang tua sejak saya kecil sehingga men-darah daging hingga saat ini. Semoga istiqomah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *