Bandung, www.rsa.or.id – Integrasi data kecelakaan lalu lintas antara kepolisian dan rumah sakit di Kota Bandung belum optimal. Integrasi data menjadi kunci efektivitas kebijakan dan intervensi menekan angka kecelakaan dan korban.

“Dengan data yang akurat, kita bisa merumuskan kebijakan dan intervensi yang akurat. Selama ini masih ada jurang data kecelakaan antara kepolisian dengan instansi-instansi lain, termasuk rumah sakit,” tutur surveillance coordinator Bloomberg Initiatives for Global Road Safety (BIGRS) Kota Bandung, Estiara Ellizar, Selasa, 3 April 2018 lalu.

Jurang data kecelakaan lalu lintas di Bandung terungkap dalam riset yang dikerjakan BIGRS pada 2017 lalu. Ketika itu mereka membandingkan data di Polrestabes dengan delapan rumah sakit umum.

Untuk jumlah korban meninggal dunia, misalnya, hanya terdapat 10 kasus yang cocok. Padahal, kepolisian mencapat 153 korban meninggal, sementara delapan rumah sakit mencatat 32 korban.

Dari perbandingan data kecelakaan ini, bisa diketahui bahwa ada kasus-kasus kecelakaan yang belum terangkum dalam data kepolisian. Sebaliknya, ada juga kasus-kasus kecelakaan yang belum terekam oleh rumah sakit.

BIGRS tahun ini memulai pelatihan penguatan kapasitas bagi 21 rumah sakit di Kota Bandung. Masing-masing rumah sakit mengirimkan dua petugas IGD (Instalasi Gawat Darurat) dan rekam medis untuk berlatih mempraktikkan pengkodean tiap-tiap kecelakaan lalu lintas.

“Dengan pelatihan ini, para petugas akan terampil melakukan pengkodean secara terperinci, mulai dari lokasi kejadian, penyebab kecelakaan, hingga jenis cedera. Jadi data yang mereka kirimkan sudah sangat terperinci,” ujar Estiara.

Dengan pengkodean yang rinci, diyakini Estiara, program-program terkait keselamatan lalu lintas bakal lebih efektif. Hal ini mencakup mulai dari kampanye hingga penegakan hukum.

Pemegang program BIGRS di Dinas Kesehatan Kota Bandung Siska Lestana menyatakan, selama ini sistem pelaporan korban kecelakaan belum mengungkap informasi rinci, mulai dari lokasi hingga penyebab kejadian. Dengan pelatihan ini, para petugas di IGD dan rekam medis akan menerapkan sistem pelaporan baru.

“Ke depan, laporan akan jauh lebih rinci. Keterangannya by name, by address. Juga lokasi kejadian apakah di dalam kota Bandung atau di luar. Semua akan terekam,” tuturnya.

Laporan tahunan
Pada Oktober 2017 lalu, BIGRS bekerja sama dengan Polrestabes Bandung menerbitkan Laporan Tahunan Keselamatan Jalan Raya 2015-2017. Dalam laporan tersebut diketahui pengguna sepeda motor, pesepeda, dan pejalan kaki merupakan kelompok paling rentan dengan menyumbang 95 persen dari total kematian di jalan raya. Dari sisi usia, remaja dan anak muda menjadi korban terbanyak.

Laporan tersebut juga menunjukkan penurunan jumlah kecelakaan dan jumlah korban meninggal dalam kurun 2013 hingga 2016. Jika pada 2016 jumlah korban meningga mencapai 125 orang, pada 2016 jumlahnya turun menjadi 84 orang.

Namun pada akhir Maret 2018 lalu, Kepala Satlantas Polrestabes Bandung AKBP Agung Reza mengungkapkan temuan terbaru. Sepanjang 2017, jumlah kecelakaan memang lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya. Namun dari jumlah korban meninggal dunia, justru jumlahnya melonjak drastis menjadi hampir dua kali lipat, yakni 154 orang. (*)

Sumber: Pikiran Rakyat

About RSA Admin

RSA memfokuskan diri pada isu-isu pentingnya keselamatan jalan dengan menekankan ketaatan kepada peraturan lalu lintas, perilaku berkendara yang tepat dan standar minimum keterampilan berkendara.