Acara Idenesia di Metro TV tayang Sabtu 31 Maret 2012 yang rutin dipandu oleh komposer lagu, Yovie Widianto itu kali ini bertema ‘Tertawalah Sebelum Tertawa Itu Dilarang” dengan bintang tamu para komedian ternama seperti Indro Warkop, Iszur Muchtar dan Setiawan Tiada Tara.

Dalam talkshow tersebut, Yovie sebagai pemandu acara meminta para tamunya untuk menampilkan dialog berupa parodi dari keseharian yang sering terjadi di sekitar kita. Ketiga komedian itu pun berdiri dan melakoni dialog humor yang saya bisa katakan sebagai suatu humor yang cerdas.

Indro pun menjadi tokoh sentral dalam dialog parodi tersebut, ia menjadi seorang polisi lalu lintas dan Iszur Muchtar serta Setiawan menjadi kakak beradik yang mengendarai motor berboncengan. Adegan dimulai dengan Iszur mengendarai motor tentunya hanya peragaan saja, dengan memboncengi Setiawan, lalu diberhentikan oleh Indro sebagai polantas. Kira-kira dialog selanjutnya seperti ini :

Indro : “selamat siang pak”, (sambil memberi hormat kepada Iszur dengan posisi tangan di depan dada)
Iszur : selamat siang, kok hormatnya tidak di kepala pak?
Indro :” ya, ini sudah siang, kalo masih pagi masih banyak jenderal yang lewat, hormatnya harus disini” (sambil memeragakan posisi hormat yang benar). “Kalo sudah siang, hanya rakyat biasa yang lewat, jadi hormatnya cukup disini saja” (posisi tangan di depan dada)
Iszur : ”oh gitu pak”  (sambil tersenyum lebar). Kenapa saya di-setop,pak?
 Indro : “bapak tidak lihat tadi itu lampu merah?” 
Setiawan : (pembonceng yang menyela sapaan Indro), saya lihat lampu merah pak, tapi saya tidak lihat bapak! 
Indro : “oh jadi gitu, kamu lebih takut ke polisi daripada rambu ya?”
Setiawan dan Iszur : tertawa tersipu malu
Indro : “bisa saya lihat surat-suratnya?”
Iszur : “bisa pak” (sambil mencolek adiknya supaya menyiapkan uang untuk damai dengan Indro)
Setiawan : “sebentar pak, saya izin kesitu sebentar, saya mau pipis” (sambil tersenyum, ternyata dia menyelipkan uang di surat-surat yang akan diberikan ke Indro)
Setiawan : “ini pak polisi, surat-suratnya.”
Indro : “oh ya, saya periksa dulu ya” (sambil memutar badannya membelakangi Iszur dan Setiawan, lalu mengintip uang yang diselipkan) 
Indro : “Ada yang mau pipis lagi gak?” (sambil mengembalikan surat-surat dan uang yang diselipkan ke Iszur, rupanya uang damai yang diselipkan adiknya, Setiawan masih kurang)
Iszur : (melipir ke pojok dan mengeluarkan uang dari dompet lalu memasukkan ke surat-surat kendaraan)
Indro : “ mana pak? Bisa saya cek lagi surat-suratnya?”
Iszur :” bisa, bisa pak, ini pak”
Indro pun melakukan gerakan badan seperti tadi, membelakangi pengendara motor dan mengintip uang yang diselipkan dan tersenyum puas.
Indro : “ini pak surat-suratnya, silahkan teruskan perjalanan bapak dan hati-hati ya pak!”
Iszur dan Setiawan : tertawa terkekeh-kekeh

Adegan humor parodi pun berakhir. “Tadi itu saya jadi Polisi India, kalo di Indonesia Polisinya tidak seperti itu” sergah Indro. Penonton pun bertepuk tangan riuh.

Ya, diatas adalah sebuah humor yang cerdas sekaligus merupakan sindiran telak terhadap kondisi realitas penegakan hukum lalu lintas jalan di negeri ini. Saya ingat dalam obrolan di tengah acara, Indro sempat mengatakan, ”Humor atau lawakan yang muncul itu sebagian besar adalah spontanitas. Spontanitas karena memang hal itu yang dilihat, dirasakan dan dialami oleh si pelawak. Kalo mau lihat kondisi negeri ini ya lihatlah humor dan lawakan yang sekarang ada.”

Indro mengatakan juga, bahwa lawakan saat ini lebih kualitatif, walau ia tidak menampik masih ada lawakan yang sekedar mengejar rating saja atau kuantitatif.

Semoga apa yang disampaikan oleh para komedian senior tersebut dapat menyadarkan pihak-pihak terkait agar lebih giat lagi memperbaiki kinerjanya.

About Lucky

Disiplin, Tertib, Teratur. 3 hal inilah yang diajarkan oleh orang tua sejak saya kecil sehingga men-darah daging hingga saat ini. Semoga istiqomah.

One thought on “Humor Cerdas, Sindiran Terhadap Penegakan Hukum Lalu Lintas Jalan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *