Helm Cetok Mansur (bukan nama sebenarnya) sedang berkendara, dan dengan kelihaian yang dianggap cukup untuk melibas jalanan di ibu kota ini, dia memacu kendaraan roda dua nya. Dia mungkin berpikir, teknik berkendaranya jauh lebih baik, terbukti dia tidak pernah celaka fatal selama ini dengan gaya berkendara seperti itu. Tapi, malang tidak bisa dihindarkan, disaat niatnya mau menyusul mobil kontainer yang maha besar itu, ternyata mengalami kegagalan, dan kali ini “fatal”. Dia terjatuh dari motornya, sedangkan helm nya hanya mampu menahan kepala bagian atas saja yang tidak terluka…akhirnya..dia meninggal karena benturan keras di kepala. Kunci tali helm Darman (bukan nama sebenarnya) seperti biasa, berkendara ke tempat yang ditujunya dengan gontai, tanpa perasaan atau firasat apapun, tiba-tiba kendaraan di depan menghindari lubang, dan akhirnya ditabrak oleh Darman, beliau jatuh, dan juga, harus kehilangan nyawa, hanya karena helm terlepas, kini kembali, meninggal karena benturan keras di kepala. Sedangkan Sukri (bukan nama sebenarnya) harus menerima luka di sebagian mukanya, karena terseret aspal, pada saat berkendara dengan sepeda motornya, tapi beliau tidak mengancingkan tali helm. Ah…tragis… Selalu Pakai Helm Pada saat pulang kerja Marno dan Marni (bukan juga nama asli) yang kebetulan adalah suami istri, melewati jalan komplek yang sangat sepi, dan hanya sedikit kendaraan lain yang lalu lalang, tapi beda dengan cerita sebelumnya, Marno dan Marni adalah orang yang sangat sadar atas kelengkapan keselamatan. Di tengah jalan sepi itu, tiba-tiba menghadapi jalan yang sangat licin, dalam kecepatan kurang dari 05 Kmpj tiba2 Marno kehilangan kendali lalu terjatuh, kepala Marno pun membentur dengan keras aspal tempat Marno terjatuh, pada saat itu Marno sempat ling lung, karena benturan itu sempat membuat kepalanya pening sesaat. Dalam hati Marno, betapa beruntungnya memakai kelengkapan keselamatan walau hanya di daerah sepi sekalipun…banyak anggapan, bila berkendara dengan sepeda motor jarak dekat, tidak akan terjadi kecelakaan yang fatal…tapi…malang tidak ada pernah yang akan tahu. Teringat dengan dialog tanpa akhir ini :

Penanya : “Koq gak pake helm mas?” Penjawab : “Ah, dekat koq, lagian di dalam komplek” Penanya : “Kalo deket kenapa enggak jalan kaki mas?” Penjawab : “Capek ah..lebih baik naik motor..” Penanya : “Loh..terus..naik motor koq gak pake helm?” Penjawab : “kan deket????” Penanya : “?!?!?@?#?@?!@?##@!”

(melanjutkan cerita Marno dan Marni) Sayang, pada saat itu Marni tidak menggunakan boots yang biasa dipakai bila berkendara dengan Marno, walhasil, kaki Marni pun terluka, walau hanya lecet, tapi efek luka itu tetap meninggalkan perih di kaki Marni. Seperti juga pada saat Marno dan Marni menolong Sarip (bukan nama sebenarnya) di tengah jalan, dia mengalami kecelakaan tunggal akibat terbelit bendera Parpol, dia mengalami luka yang serius pada telapak tangan dan kaki nya, Marno bertanya kepada Sarip, “kenapa enggak pake sepatu, mas?”, Sarip pun menjawab dengan suara merintih sedang menahan perih lukanya, “biasanya saya pake sepatu mas, tapi tadi saya terburu-buru, jadi saya pakai sendal..”. Kecelakaan bukan hal yang dapat dengan mudah di prediksi, ingat para pembalap proffesional, dengan technical skill sudah jauh diatas kita? Mereka tetap mendapatkan kecelakaan..karena memang‚Ķkecelakaan bukan dipandang dari sejauh mana kita pandai mengendalikan kendaraan kita‚Ķ. Atau mau jadi contoh dari cerita ini selanjutnya? (based on true story)

About RSA Admin

RSA memfokuskan diri pada isu-isu pentingnya keselamatan jalan dengan menekankan ketaatan kepada peraturan lalu lintas, perilaku berkendara yang tepat dan standar minimum keterampilan berkendara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *