BARANGKALI inilah salah satu kelompok masyarakat yang cukup kondang di masyarakat Jakarta. Mereka dikenal karena memiliki jumlah massa yang cukup besar. Bahkan, para petinggi dan politisi pun sesekali nimbrung di ajang mereka.

Itulah sosok majelis taklim Majelis Rasulullah. Setiap Senin malam, saya kerap berpapasan dengan aktifitas mereka di kawasan Perdatam, Pancoran, Jakarta Selatan.

“Di acara pengajian rutin jumlah jamaah yang hadir sekitar 50 ribuan. Tapi, kalau di Tabligh Akbar yang digelar di Monas, bisa satu juta orang,” ujar Syamsuri, ketua Grup Helm Majelis Rasulullah (GH MR), saat berbincang di kopdar, di Slipi, Jakarta Barat, Ahad (13/1/2013) siang.

Kopdar kali ini adalah kali ketiga saya hadir di tengah-tengah mereka. Sedangkan bagi Road Safety Association (RSA) adalah kali keempat sepanjang tiga tahun terakhir. Kali ini saya bersama tim RSA yakni Lucky Subiakto (Sekjen), Ivan Virnanda (Humas), dan Rio Octaviano (Bawas).

Hal yang memincut perhatian saya adalah hadirnya beberapa sosok anak muda yang gigih menularkan pentingnya memakai helm saat bersepeda motor. Terdengar amat simple.

Tapi, bagi saya, ini sebuah kepedulian luar biasa. Beberapa gelintir berteriak di tengah puluhan ribu jamaah. Butuh kegigihan.

“Grup Helm mesti terus semangat, tidak usah malu untuk terus meneriakan pentingnya memakai helm dan parkir yang rapih,” ujar Dendi, salah seorang ‘crew’ Majelis Rasulullah.

Crew adalah sebutan untuk relawan yang membantu ketertiban saat berjalannya acara majelis taklim tersebut. Termasuk, membantu kelancaran saat konvoy di jalan. Sekalipun, konvoy resmi mereka dikawal polisi lalu lintas.

Sekalipun anggota Grup itu, tercatat ribuan orang di jejaring sosial facebook, namun yang aktif di lapangan hanya belasan. “Bahkan, untuk ajang besar seperti tabligh akbar di Monas, kami hanya punya 100 crew,” jelas bang Ubay.

Dia mengaku, pihaknya memiliki keterbatasan sumber daya manusia (SDM) untuk menggencarkan kesadaran berkendara yang aman dan selamat. Tak sebatas teori, kata dia, pihaknya butuh support di tingkat praktik. “Mendukung secara nyata di lapangan,” ajaknya.

Sontak ajakan itu direspons Tim RSA dengan merancang pelatihan berkendara yang aman dan selamat. Soal tempat, waktu, dan peserta dibahas kemudian. Prinsipnya, membuat latihan untuk kemudian mereka yang sudah ikut menularkan kepada yang lainnya. Getok tular.

Kepada GH Majelis Rasulullah saya tekankan agar terus berikhtiar. Menjaga keselamatan di jalan adalah ikhtiar agar semua pengguna jalan menjadi aman, nyaman, dan selamat.

Rio menambahkan bahwa pentingnya mengikuti aturan yang ada. Ketaatan pada aturan diharapkan mengurangi potensi kecelakaan di jalan.

Sedangkan Lucky menegaskan, keselamatan mesti menjadi kebutuhan. (edo rusyanto)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *