[FAQ] Bioethanol

(ditulis ulang biar bisa diarsipkan)

Secara harga BBM makin nyundul langit dan mesin mobil kita tetap perlu asupan bahan bakar yg prima, saya dan teman2 di klub cap TeRuCI sejak beberapa bulan yg lalu mencoba2 memakai berbagai alternatif u/ meningkatkan mutu bensin bersubsidi yg kita tenggak. Mulai dari pil koplo (dynotabs, mpg-caps, griffon), booster oktan cair (powerclean, dll) sampai akhirnya kita sampai di Bioethanol.

Bioethanol yg dimaksud di sini adalah substitusi BBM yg berasal dari proses fermentasi gula (sugar) melalui proses kimia penguapan (steaming) ethylene. Bahan baku gula diperoleh dari: corn, maize and wheat crops, waste straw, willow and popular trees, sawdust, reed canary grass, cord grasses, jerusalem artichoke, myscanthus and sorghum plants *kecuali jagung dan gandum, gw ga tau terjemahan Indonesianya nih*, selain juga kacang2an dan kelapa sawit.

Ethanol atau ethyl alcohol (C2H5OH) berupa cairan bening tak berwarna, terurai secara biologis (biodegradable), toksisitas rendah dan tidak menimbulkan polusi udara yg besar bila bocor. Ethanol yg terbakar menghasilkan karbondioksida (CO2) dan air.

Ethanol adalah bahan bakar beroktan tinggi dan dapat menggantikan timbal sebagai peningkat nilai oktan dalam bensin. Dengan mencampur ethanol dengan bensin, akan mengoksigenasi campuran bahan bakar sehingga dapat terbakar lebih sempurna dan mengurangi emisi gas buang (spt karbonmonoksida/CO).

Oplosan paling umum adalah 10% ethanol dan 90% bensin (E10). Mesin mobil tidak perlu dimodifikasi untuk memakai E5 ~ E20 dan demiian pula halnya garansi mesin tidak akan terpengaruh karenanya. Hanya mesin-mesin khusus spt mesin F1 dan A1 yg bisa mengkonsumsi E85 (oplosan 85% ethanol dan 15% bensin).

Terios TX Deluxe Matic 2007 saya sudah sepuluh hari terakhir menggunakan bioethanol E5 (1,5 liter dicampur ke dalam 30 L Premium 88), RON yg didapat a/ 90,5, sementara menurut buku manual perawatan dan dipajang di tutup lubang bensin, oktan minimal yg kudu diminum si Teri McQueen a/ RON90. Kenapa? Ya secara bioethanol yg saya oplos memiliki RON 140! Nilai oktan yg digunakan oleh mesin2 F1 dan A1. Alhasil kalau dipaksakan diminum murni, bisa-bisa meledug tuh mesin kaleeeeeee.

Performa mesin yg saya rasakan semakin maknyussss, enteng di tarikan dan laju saat manteng di RPM atas. FC sih relatif, tergantung driving style. Saya belum selesai mengukur FC, tapi u/ gambaran saat pulang dari touring TeRuCI saba Bandung, saya isi bensin di SPBU Cipularang Km 75 sampai ke rumah di Cipinang Elok via Kalimalang, PWI, Diskum, terus mampir di rumah mertua di Cipinang Lontar (kurleb 100 km), bar fuelmeter turun 1 strip, atau sekitar 6 liter (dari bensin di leher) atau sekitar 1:16,667! Padahal saya ga nyupir santai sepanjang tol, average speed 80kpj dengan top speed 120kpj. Coba bayangkan kalau pake transmisi manual, yg konon lebih irit 10% dari matic.

Bahan bakar ini pernah diujikan di mobil Timor DOHC, yg perbandingan hasil uji dgn premium, pertamax dan pertamax plus bisa dilihat dalam tabel berikut.

Hasil uji dynotest di mesin Timor DOHC:

terlihat dari grafik, Bio-ethanol mampu meningkatkan Tenaga walau dengan Timing pengapian standar.. ketika timing pengapian dinaikkan, Tenaga jauh bertambah. hal ini berefek pada peningkatan akselerasi mobil & efesiensi Bahan bakar (dikutip dari sini)

Dengan perhitungan harga bioethanol per liter sekitar Rp. 10.000 (retail) + harga premium 88 saat ini yg Rp. 6000/L, kita bisa dapatkan Premium 90 dgn harga Rp. 6346/L saja! Untuk mendapatkan Pertamax (RON 92) cukup keluar biaya Rp. 6692 sementara u/ Pertamax Plus (RON 95) cukup bayar Rp 7250/L! Bandingkan dengan harga Pertamax dan Pertamax Plus saat ini yg nyaris menyundul Rp. 9000/L!

(disarikan dari beberapa sumber/ciput 2008)
Thanks to Oom Coen for inspiration.

About RSA Admin

RSA memfokuskan diri pada isu-isu pentingnya keselamatan jalan dengan menekankan ketaatan kepada peraturan lalu lintas, perilaku berkendara yang tepat dan standar minimum keterampilan berkendara.

Leave a Reply

Your email address will not be published.