Jum’at lalu, selepas waktu Sholat Jum’at atau tepatnya pukul satu siang saya beserta Edo Rusyanto yang merupakan rekan sekaligus senior saya di RSA tiba di Kantor Kementerian Perhubungan. Hari itu di Kementerian Perhubungan digelar sebuah forum diskusi berjudul “Upaya Melindungi Pengendara Motor dari Kecelakaan di Jalan”. Turut hadir sebagai pembicara adalah Ir. Hotma Simanjuntak selaku Direktur Keselamatan Transportasi Darat, AKBP Katon Pinem dari Kepolisian, serta Gunadi dari AISI. Dalam forum diskusi tersebut dipaparkan beragam analisa dan gagasan terkait situasi berlalulintas yang dihadapi oleh pengendara sepeda motor di Indonesia beserta upaya dalam menekan angka kecelakaan yang melibatkan pengguna sepeda motor.

Berbicara mengenai sepeda motor di Indonesia kita akan digiring kepada dua tesis yang saling bertolakbelakang. Di satu sisi sepeda motor berperan besar sebagai sarana mobilitas ekonomi masyarakat, ditengah karut marutnya sistem transportasi Indonesia maka sepeda motor menjadi alternatif bagi masyarakat  akan kebutuhan moda transportasi yang murah. Namun di sisi lain kita juga akan berhadapan dengan kenyataan pahit terkait melayangnya puluhan ribu nyawa pengendara sepeda motor tiap tahunnya, berdasarkan data Kepolisian tercatat 31.185 nyawa melayang sia-sia di jalan raya dan 72% diantaranya adalah pengendara sepeda motor.

Dalam upaya mereduksi angka kecelakaan yang melibatkan sepeda motor, Ir. Hotma berujar bahwa gagasan untuk melakukan pembatasan penggunaan sepeda motor masih sulit untuk dilakukan. Hal ini tidak lepas dari pemerintah yang masih gagal dalam menyediakan transportasi publik yang memadai sebagai alternatif dari penggunaan kendaraan pribadi. Adapun pembatasan produksi sebenarnya mungkin saja dilakukan, namun kita akan berhadapan dengan kenyataan bahwa pasar tenaga kerja di Indonesia masih memiliki tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap industri otomotif yang sebagian besar dikuasai oleh pihak asing. Upaya yang mungkin dan sepatutnya segera diimplementasikan adalah peningkatan pelayanan angkutan umun, penegakan hukum, dan peningkatan aspek teknis keselamatan dari sepeda motor itu sendiri

Berbicara mengenai konsep keselamatan jalan dan transportasi publik rasanya bangsa ini sudah kenyang dengan sekian banyak konsep dan gagasan brilian yang di tawarkan. Sayangnya hampir semuanya seolah impoten, gagasan yang berakhir hanya sebagai gagasan pula, tanpa implementasi yang nyata. Ketika sesi tanya jawab dibuka dan saya bertanya terkait apa saja implementasi yang akan segera dilaksanakan dalam upaya menekan angka kecelakaan pesepeda motor, jawaban yang muncul dari para pembicara cenderung homogen. Apa yang dipaparkan tidak jauh dari sulitnya koordinasi antar stakeholder dan political will yang lemah. Padahal dalam RUNKJ atau Rencana Umum Nasional Keselamatan Jalan terdapat spirit koordinasi antar stakeholder, namun tampaknya setiap pihak yang terkait dalam ranah transportasi dan berlalulintas di negeri ini masih gemar saling lempar tanggung jawab.

Tanpa adanya leadership, political will yang mumpuni, dan koordinasi yang baik antara tiap stakeholder, maka tidak heran jika setiap gagasan brilian yang muncul sulit untuk diimplementasikan secara efektif. Rakyat tidak butuh seminar, tidak mengerti forum, dan lelah dengan diskusi yang sebatas retorika semu, yang rakyat butuhkan adalah tindakany nyata. Disaat setiap harinya sekian banyak pengguna jalan mempertaruhkan nyawa, tindakan nyata yang diharapkan dapat menciptakan kondisi berlalulintas dan berkendara yang aman dan nyaman tak kunjung terwujud. Ironis namun empiris, sampai kapan?

Mukhammad Azdi

About Lucky

Disiplin, Tertib, Teratur. 3 hal inilah yang diajarkan oleh orang tua sejak saya kecil sehingga men-darah daging hingga saat ini. Semoga istiqomah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *