Media massa baik cetak, televisi, maupun online memiliki peran sentral dalam kehidupan bermasyarakat di era modern saat ini. Ditengah tingginya tingkat kebutuhan masyarakat akan informasi maka media massa dengan beragam bentuknya pun hadir. Media massa tak hanya berperan dalam menyuguhkan informasi semata, ia juga menjadi sarana mencari hiburan (entertainment) sekaligus media pembentuk pola berpikir masyarakat. Menurut pakar media massa Harold D. Laswell secara teoritis media massa memiliki tiga fungsi. Tiga fungsi tersebut antara lain sebagai media informasi, sebagai media pendidikan, dan sebagai media hiburan. Yang menjadi permasalahan saat ini adalah rupanya fungsi sebagai media informasi dan hiburan cenderung mengkebiri fungsi edukasi dari media massa itu sendiri. Di era persaingan yang ketat antar media saat ini, hampir setiap media massa berlomba memberikan informasi dengan tema yang dirasa cukup populer, meski harus menghadapi resiko berupa kualitas konten yang cenderung semakin terabaikan.

Belum lama ini salah satu tabloid otomotif yang cukup ternama menarik perhatian saya, dalam artikelnya mereka mengulas mengenai modifikasi sepeda motor dengan tema “tampil gaya saat ke sekolah”. Dilihat dari sudut pandang informasi dan hiburan maka artikel tersebut sungguh sangat menggiurkan bagi redaksi media untuk ditampilkan. Motor yang menjadi model dalam artikel tersebut adalah produk baru dan saat ini pun masanya pelajar SMA memulai tahun ajaran baru, tidak heran jika artikel tersebut dapat begitu menarik minat pembaca. Tapi jika dilihat dari sudut pandang edukasi maka konten artikel tersebut dapat dikatakan cenderung kontraproduktif. Kenapa begitu? Asumsi saya didasarkan pada dua aspek, yakni aspek keselamatan jalan dan aspek psikologi pembaca. Dilihat dari aspek keselamatan jalan, maka ini terkait dengan konten artikel yang menginformasikan (atau mengajak) pemakaian ban berukuran ekstra kecil atau biasa disebut ban cacing. Pemakaian ban cacing memang harus diakui masih populer di kalangan pengguna sepeda motor, maka tidak heran kalo ban cacing jadi menarik untuk dijadikan artikel di sebuah tabloid otomotif. Namun sayangnya, penggunaan ban cacing sesungguhnya sangatlah tidak direkomendasikan untuk pemakaian sehari-hari, harusnya dewan redaksi tabloid cukup cerdas untuk tidak semakin mempopulerkan penggunaan ban cacing, lantas kenapa tetap ditulis? Simpel saja, mungkin demi memburu minat para pembaca.

Jika dilihat dari kacamata psikologis pembaca, maka  artikel tentang ban cacing tersebut juga kurang mendidik. Sebagaimana kita tahu artikel tersebut ditujukan kepada anak SMA yang notabene masih mengemis uang jajan pada orang tua, nah artikel tersebut mendorong mereka untuk semakin berperilaku konsumtif. Sejujurnya usia remaja masihlah sangat riskan untuk mengendarai sepeda motor, oleh karenanya tidak perlu rasanya mereka semakin diprovokasi untuk melakukan modifikasi yang cenderung bersifat pemborosan, apalagi jika modifikasi tersebut tidak sesuai dengan kaidah keselamatan jalan. Jangan heran jika anak muda sekarang memiliki hobi “begajulan” di jalanan kalau yang mereka baca saja tidak mendidik. Kritik ini sesungguhnya tidak semata ditujukan kepada tabloid yang saya ulas diatas, namun lebih kepada semua media yang mewartakan tentang dunia otomotif. Masih banyak sekali media yang kurang arif dalam kacamata saya manakala mereka menyampaikan konten artikelnya. Meskipun begitu harus diakui pula bahwa masih ada artikel-artikel yang edukatif dan memang berguna bagi pembacanya, harusnya artikel seperti ini yang semakin digalakkan. Saya percaya bahwa sesungguhnya media bisa berperan dalam membentuk pola pikir masyarakat yang konstruktif dan positif, ya jika mereka mau.

Mukhammad Azdi

About Lucky

Disiplin, Tertib, Teratur. 3 hal inilah yang diajarkan oleh orang tua sejak saya kecil sehingga men-darah daging hingga saat ini. Semoga istiqomah.

2 thoughts on “Degradasi Fungsi Media Massa Dalam Isu Keselamatan Jalan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *