BANYAK romantika di jalan raya. Ada drama hingga aksi mendebarkan. Ironisnya, lebih dari 280 ribu jiwa melayang sepanjang 20 tahun terakhir di jalan raya. Ya. Betul. Angka 280 ribu itu hanya kasus di Indonesia. Kalau di tingkat global angkanya bisa jutaan, bahkan lebih. Jalann raya tak selamanya bermuka ramah.

Para relawan Road Safety Association (RSA) Indonesia menganggap perjuangan masih super panjang. Tak mudah mewujudkan lalu lintas jalan yang aman, nyaman, dan selamat. Ada segudang variabel yang mesti diterapkan. RSA yang sejak lima tahun terakhir malang melintang menyuarakan keselamatan jalan ke berbagai lapisan masyarakat, tak boleh frustasi. Maklum, pada 2011, alih-alih turun, fatalitas kecelakaan lalu lintas jalan justeru naik dari 31.234 menjadi 32.627 jiwa. Artinya, rata-rata 89 jiwa tewas per hari di jalan raya. Menyedihkan.


Dalam forum Selasaan di kantin Nyi Ageng Serang, Kuningan, Jakarta Selatan, para relawan RSA menggodog banyak aksi. Mulai dari kampanye keselamatan jalan di taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Lalu, merajut jejaring ke komunitas otomotif hingga kelompok masyarakat berbasis religius. Bahkan, merangsek ke stakeholder keselamatan jalan di level birokrat dan kepolisian hingga membangun jejaring dengan lembaga swadaya masyarakat (LSM) serupa di mancanegara. RSA yang baru berusia lima tahun, sudah merangsek ke Amerika Serikat untuk hadir dalam forum LSM road safety sedunia.

Dalam forum Selasaan yang digelar setiap Selasa malam, tak jarang dirancang untuk aksi turun ke jalan. Materi aksi tentu saja seputar menyuarakan pentingnya keselamatan jalan untuk semua. Kami juga kerap kedatangan tamu dalam forum Selasaan.

Baru-baru ini dari aktifis di @cfdindonesia, @trotoarian atau Koalisi Pejalan Kaki, @pedulilantas, dan klub pemotor Satu Darah chapter Jakarta. Banyak hal yang dibahas. Mulai dari perilaku pengguna jalan, kebijakan pemerintah yang dianggap masih minim soal keselamatan jalan, hingga aksi yang akan digelar.

Salah satu yang ditelorkan adalah aksi ‘Kampanye Keselamatan Jalan’ di ajang Car Free Day yang digelar di kawasan Bundaran HI, Jakarta baru-baru ini. Bahkan, teman-teman Satu Darah mengajak RSA untuk berbagi pengalaman soal berkendara yang aman dan selamat dengan anggota mereka. Satu Darah yang berbasis di Belanda, ingin membekali anggotanya pemahaman soal perilaku berkendara yang aman dan selamat. Di Jakarta, klub ini pada Oktober 2012 memiliki 50 anggota.

Bagi RSA, penyebaran perilaku keselamatan jalan tak mengenal lelah. Lintas elemen masyarakat dengan satu tujuan, kurangi fatalitas kecelakaan jalan. Tentu, resep RSA bertumpu pada tiga hal, keterampilan berkendara, perilaku yang aman dan selamat, serta ketaatan pada aturan yang ada. Singkat kata rules, skill, and attitude. (edo rusyanto)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *