MALAM itu kami berbincang agak serius. Maklum, kolega saya bercerita tentang anaknya yang ditabrak pemotor. Dia berniat meminta ganti rugi kepada sang penabrak. “Cukup mengganti biaya operasi kaki anak saya yang Rp 11 juta,” ujar bro Wyno, kolega saya di Jakarta, Senin (15/10/2012) malam.

Raut wajahnya serius. Kami berbincang soal apa solusi yang sebaiknya ditempuh. Oh ya, kolega saya bercerita, anaknya ditabrak saat berjalan kaki. Sang anak yang berusia 11 tahun hendak menyeberang, tiba-tiba ada pemotor yang melaju cukup kencang. Brakkk! Luka parah dikaki dan harus dioperasi.

“Sang pemotor mengaku anak saya menyeberang tiba-tiba, padahal, anak saya ketika melihat motor melaju kencang langsung berbalik arah kembali ketempat semula saat mau menyeberang,” sergah dia sambil membenarkan kacamatanya.

Upaya damai sebenarnya sudah ditempuh. Sang penabrak diminta tanggung jawabnya. Namun, saat diminta mengganti biaya berobat, sang penabrak enggan. “Dia cuma mau bantu Rp 5 juta,” katanya.

Upaya damai dimediasi petugas. Sayangnya, hingga Senin malam itu, tidak ada titik temu. Kolega saya berkukuh biaya operasi sang anak ditanggung penuh karena merasa sang anak posisinya menjadi korban. “Saya sempat mikir untuk mempidanakan saja sang penabrak biar jera,” tegas dia.

Saya jadi teringat Undang Undang (UU) No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Khususnya pasal 229 yang mengatur soal jenis-jenis kecelakaan. Ada kecelakaan ringan, sedang, dan berat.

Kategori ringan adalah kecelakaan yang mengakibatkan kerusakan kendaraan dan/atau barang. Lalu, kecelakaan sedang merupakan kecelakaan yang mengakibatkan luka ringan dan kerusakan kendaraan dan/atau barang. Sedangkan, kecelakaan berat mengakibatkan korban meninggal dunia atau luka berat.

Nah, yang dimaksud dengan luka ringan adalah sakit yang tidak memerlukan perawatan inap di rumah sakit atau selain yang di klasifikasikan dalam luka berat.

Sementara itu, luka berat adalah luka yang mengakibatkan korban; jatuh sakit dan tidak ada harapan sembuh sama sekali atau menimbulkan bahaya maut, tidak mampu terus-menerus untuk menjalankan tugas jabatan atau pekerjaan, dan kehilangan salah satu pancaindra. Selain itu, menderita cacat berat atau lumpuh, terganggu daya pikir selama 4 (empat) minggu lebih, gugur atau matinya kandungan seorang perempuan, dan luka yang membutuhkan perawatan di rumah sakit lebih dari 30 hari.

Kolega saya merasa bahwa kecelakaan anaknya masuk kategori luka berat. Dia mengaku bakal memproses kasus tersebut ke ranah pidana. Dalam UU No 22/2009, khususnya pasal 310 ayat 3 disebutkan

pengemudi yang karena kelalaiannya mengakibatkan kecelakaan lalu lintas dengan korban luka berat bisa dipidana paling lama lima tahun atau denda paling banyak Rp 10 juta.

Nah, soal pergantian uang akibat kecelakaan ternyata diatur dalam UU No 22/2009, khususnya di pasal 236. Dalam ayat satu pasal itu disebutkan, pihak yang menyebabkan terjadinya kecelakaan wajib mengganti kerugian yang besarannya ditentukan berdasarkan putusan pengadilan. Tapi, diayat dua ditegaskan, kewajiban mengganti kerugian dapat dilakukan di luar pengadilan jika terjadi kesepakatan damai di antara para pihak yang terlibat. Tuh kan, pantesan ada yang bilang, damai itu indah kawan. (edo rusyanto)

About Lucky

Disiplin, Tertib, Teratur. 3 hal inilah yang diajarkan oleh orang tua sejak saya kecil sehingga men-darah daging hingga saat ini. Semoga istiqomah.

One thought on “Damai Itu Indah Kawan

  1. Tanya Pak. Kenapa jika sudah terjadi kesepakatan damai pun polisi selalu minta jatah/fee sebagai mediator? Apakah memang ini ada aturannya, istilahnya si penabrak dan yang tertabrak harus sama-sama memberi uang kepada polisi. Karena saya pernah mengalami kecelakaan tingkat sedang, setelah di mediasi oleh polisi dan terjadi kesepakatan damai si polisi meminta fee, padahal nilai kesepakan tersebut saja tidak dapat mengcover semua biaya kerusakan dan pengobatan.
    “Damai itu memang indah Pak” dari sudut pandang tertentu kiranya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *