Baru saja bertemu dengan teman SMA, dan kebetulan beliau sekarang di kepolisian, dan menjabat kasat reskrim Karang Anyar, JaTeng.
Memang tidak berhubungan dengan tugas beliau, tapi ketertarikan dia adalah menjabarkan pengetahuan tentang hukum lalu lintas di Indonesia.
Banyak banget yang gue utarain ke dia, tapi point penekanan gue ada di ketegasan hukum, pembahasanpun melebar kemana-mana.

Keluhan-keluhan tentang ketegasan aparat pun mulai gue keluarkan, seperti, bila ingin komparasi dengan negara lain, mari kita bandingkan dengan Singapore. Tapi pasti jawabannya adalah, di sana adalah negara kecil, jauh lebih mudah mengatur nya. Ok, kalau gitu, kita perkecil lingkup wilayahnya, misalnya, Jakarta Timur dicanangkan sebagai kawasan tertib lalu lintas, dari Polres memerintahkan kepada seluruh polsek untuk membuat kawasan tertib lalu lintas, kita ambil contoh, zona aman anak sekolah, yang ditandai dengan karpet merah membentang di jalan. Kita buat, karpet merah itu membentang sejauh 2 Km, jadi siapapun yang memasuki wilayah itu, harus tertib lalu lintas, apapun kekurangan dalam kendaraan bermotornya, di razia petugas, atau bagaimanapun caranya, itu hanya salah satu contoh.

Dari pembicaraan tersebut, maka terkaitlah masalah rekrutmen taruna polisi, yang “dituduh” menjadi biang masalah. Dan, menurut beliau, sistem rekrutmen tidak salah, sudah ada pada koridornya, hanya saja, culture yang merubah segalanya. Para rekruter yang selalu mengambil kesempatan, kembali lagi ini adalah masalah ego dari individu.

Pak Chrisnanda ternyata adalah editor temen gue itu, dalam beberapa tulisanya, Pak Chris lah yang memberikan masukan. Pak Chris sebetulnya ingin berada didalam penegasan hukum tersebut, tapi beliau selalu saja terbentur oleh kebusukan sistem negara ini. Akhirnya, jagoan kita itu terpaksa berjalan dengan himpitan-himpitan semu, yang sangat terasa.

Gue ungkapkan kalimat dari Syamsul, bahwa banyaknya kendaraan bermotor itu adalah “pemiskinan rakyat” karena sangat berkorelasi dengan keselamatan yang dalam tingkat membahayakan di jalan raya. Kata temen gue, selama sepeda motor dikucurkan 1600 motor per hari, maka sangat sulit sistem-sistem lalu lintas di tegakkan. Maka, memang mau tidak mau, pemerintah harus tegas dalam penerapan dan pembatasan kendaraan bermotor ini.

Secara garis besar, bila kita berkiblat kepada negara-negara di eropa, disana sangat sulit mendapatkan kendaraan bermotor, bahkan di Italy, mereka menanamkan, bahwa Riding itu berbahaya, atau tidak Safe. Sama dong kaya gue, kalo gue berusaha bilang ke semua rider, naik motor itu gak gampang…berarti gue dah ada sedikit-sedikit mirip sama orang italy wajahnya.

Bahkan gue sempat menantang, Polisi tegakkan hukum, apabila ada pergesekan sosial, serahkan kepada para ormas-ormas, LSM, atau apapun yang terbentuk dari sosial masyarakat, biarkan kami yang meredam. Tapi, aparat tetap konsisten dalam tugasnya menegakkan hukum.

Sebetulnya, kalo diterusin, bisa gak pulang dari Kalibata, bisa nginep ama beli apartemen langsung cash…karena memang pembahasan ini sangat alot, dan selalu saja going nowhere, maka mengertilah gue, betapa sulitnya menjadi Polisi baik, dan berusaha menegakkan hukum yang benar itu.

uh.. Indonesia Raya!

 

source

About RSA Admin

RSA memfokuskan diri pada isu-isu pentingnya keselamatan jalan dengan menekankan ketaatan kepada peraturan lalu lintas, perilaku berkendara yang tepat dan standar minimum keterampilan berkendara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *