<a href="http://rsa.or.id/rsa-ganti-pengurus/"><b>RSA Ganti Pengurus</b></a> <a href="http://rsa.or.id/saat-erci-depok-dan-rsa-bahas-pentingnya-aturan-di-jalan/"><b>Saat Erci Depok dan RSA Bahas Pentingnya Aturan di Jalan</b></a> <a href="http://rsa.or.id/siaran-pers-akkhir-tahun-rsa-buang-ego-sektoral-perkuat-sinergi-stake-holder/"><b>SIARAN PERS AKHIR TAHUN RSA: Buang Ego Sektoral, Perkuat Sinergi Stake Holder</b></a> <a href="http://rsa.or.id/siaran-pers-road-safety-association-rsa-indonesia-hasil-survey-2014-rsa-indonesia-tentang-keselamatan-di-jalan/"><b>SIARAN PERS Road Safety Association (RSA) Indonesia: Hasil Survey Tentang Keselamatan di Jalan</b></a> <a href="http://rsa.or.id/siaran-pers-tegakkan-keadilan-di-jalan-raya/"><b>SIARAN PERS: Tegakkan Keadilan di Jalan Raya</b></a>
 

Utusan Khusus PBB, Jean Todt Bertemu RSA Indonesia

Utusan Khusus PBB, Jean Todt Bertemu RSA Indonesia

Utusan khusus Perserikatan Bangsa Bangsa, Jean Todt dalam kapasitasnya sebagai ‘United Nations Special Envoy for Road Safety’ datang berkunjung ke Indonesia.

Dalam kunjungannya ke Indonesia, Jean Todt menyempatkan bertemu Road Safety Association (RSA) Indonesia dan menyampaikan program road safety, mengingat Indonesia mempunyai angka kecelakaan yang cukup tinggi.

Pada kesempatan tersebut, RSA Indonesia menyampaikan program road safety yang sudah, sedang dan akan dilakukan RSA untuk kepentingan road safety di Indonesia. Sejak 2007, RSA Indonesia bergerak ke seluruh sel-sel masyarakat melakukan sosialisasi dan edukasi pentingnya keselamatan di jalan raya. Di lini advokasi, RSA Indonesia berperan aktif menjadi kelompok penekan yang mengkritisi setiap kebijakan para pemangku kebijakan (stake holder) keselamatan jalan di Indonesia.

Aspek penegakan hukum dan peran Pemerintah yang dinilai masih kurang menjadi sorotan lainnya pada diskusi yang berlangsung Rabu (17/02) di Kedutaan Besar Perancis. Termasuk fasilitas jalan yang belum mendukung sehingga mengganggu keamanan dan kenyamanan pengguna jalan.

Keprihatinan terhadap masih tingginya angka kecelakaan di Indonesia terungkap dalam diskusi selanjutnya.
“Data Kepolisian Indonesia pada 2015 menunjukkan angka kecelakaan turun selama 5 tahun terakhir, namun masih terhitung tinggi untuk ukuran dunia,”ujar Jean Todt yang juga menjabat sebagai Presiden Federation Internationale de l’Automobile (FIA).

“Kecelakaan di jalan raya merupakan salah satu pembunuh paling berbahaya di dunia dan pembunuh nomor satu untuk masyarakat usia produktif,”tambahnya lagi.

Pada diskusi penutup, Jean Todt, pria berusia 69 tahun yang pernah memimpin tim balap F1 Ferrari Scuderia menyampaikan apresiasi dan harapan kepada RSA Indonesia untuk terus konsisten melakukan program road safety.

“Saya menghargai apa yang sudah dilakukan RSA Indonesia dan berharap kalian dapat terus konsisten sama seperti yang dilakukan NGO lainnya di seluruh dunia,” tutup Jean Todt. (*)

Siaran Pers: Tahun 2015, Tahun Kelabu Transportasi Publik di Indonesia

Siaran Pers: Tahun 2015, Tahun Kelabu Transportasi Publik di Indonesia

Jakarta, Kamis, 31 Desember 2015 – Indonesia masih darurat jalan raya. Bagaimana tidak, sepanjang tahun ini setiap hari terjadi 250-an kasus kecelakaan lalu lintas jalan. Buah pahit kecelakaan membuat Indonesia setiap harinya kehilangan 70-an jiwa anak bangsa. Belum lagi, mereka yang mesti menderita luka-luka. Fakta kecelakaan ini termasuk di dalamnya kecelakaan yang melibatkan transportasi publik atau angkutan umum massal.

Sepanjang 2015 kita belum berhenti didera petaka di jalan raya khususnya kecelakaan yang melibatkan angkutan umum massal. Sejumlah petaka fenomenal masih menyayat hati anak negeri. Ada bus pariwisata terbalik di ruas jalan tol, ada bus yang menabrak pejalan kaki, hingga bus penumpang umum yang menerobos perlintasan kereta yang memakan banyak korban. Belum lagi kecelakaan lalu lintas yang melibatkan angkutan umum massal di beberapa tempat di Indonesia seperti di Serang, Indramayu, Banyuwangi, Semarang hingga Waena, Jayapura.

Kita tak boleh lupa, mereka bergelimpangan karena petaka yang mayoritas dipicu perilaku. Data Korlantas Polri memperlihatkan bahwa hampir dari separuh kecelakaan tahun 2015 dipicu oleh faktor manusia. Dimana aspek utama sebagai biang keladi di faktor manusia terdiri atas dua hal, yakni perilaku tidak tertib dan aspek lengah saat berkendara.

Tahun 2015 menjadi tahun kelabu bagi keamanan dan keselamatan transportasi publik di negeri tercinta ini. Bukan saja karena perilaku sopir yang ugal-ugalan juga di strata yang paling tinggi, di tingkat pemangku kebijakan (stakeholders) yakni tidak adanya koordinasi. Masih segar dalam ingatan kita, pelarangan kendaraan umum berbasis aplikasi oleh Pemerintah sempat menjadi perhatian. Belakangan pelarangan yang dikeluarkan Kementerian Perhubungan tersebut dibatalkan oleh Presiden RI Joko Widodo. Beliau mengatakan angkutan umum seperti ojek masih dibutuhkan masyarakat dan beliau meminta Kemenhub untuk mengkaji ulang pelarangan tersebut.

“Kita melihat Pemerintah belum serius menangani permasalahan transportasi publik. Tidak adanya koordinasi di tingkat atas, rakyat pengguna jasa transportasi bisa menjadi korban,”ujar Ivan Virnanda, Ketua Umum Road Safety Association (RSA) Indonesia.

Secara umum, sarana dan prasarana transportasi publik yang ada saat ini masih jauh dari harapan yang diamanatkan Undang-Undang. RSA Indonesia yang selalu mendahulukan Aturan (Rules) dalam mensosialisasikan berkendara dan berlalu lintas aman dan selamat, meminta Pemerintah untuk segera merealisasikan amanat Undang-Undang No. 22 tahun 2009 terutama Pasal 138 dan Pasal 139 yang mengatur tentang kewajiban pemerintah untuk menyediakan angkutan umum yang aman, nyaman, selamat dan terjangkau.

RSA Indonesia melihat jika angkutan umum massal memenuhi aspek aman, nyaman, selamat, tepat waktu, terjangkau secara akses dan finansial, serta ramah lingkungan, rasanya penggunaan kendaraan bermotor pribadi seperti mobil penumpang dan sepeda motor bisa tereduksi secara alamiah.

Karena itu, memasuki 2016, RSA Indonesia menyerukan,

Pertama, para pihak terkait segera merealisasikan amanat Undang-Undang No. 22 tahun 2009 yang mengatur kewajiban pemerintah dalam menyediakan angkutan umum yang aman, nyaman, selamat dan terjangkau sebelum triwulan 2016.

Kedua, para pemangku kepentingan bersinergi dan berkoordinasi dengan maksimal serta menghapus ego sektoral.

Ketiga, penegak hukum agar melakukan penegakan hukum yang tegas, konsisten, kredibel, transparan, dan tidak pandang bulu. (*)

Untuk Kontak:
Ivan Virnanda, Ketua Umum Road Safety Association (RSA)
Mobile: +621811941355
Email: chairman@rsa.or.id

Email: sekretariat@rsa.or.id
www.rsa.or.id
Facebook Page: Road Safety Association
Twitter: @RSAIndonesia
Instagram: RSAIndonesia

  • Undang-undang nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, terkait definisi angkutan umum dan ruang lingkupnya.
  • Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 28 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas PM No. 46 Tahun 2014 tetang SPM Angkutan Orang dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak dalam Trayek;
  • Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 29 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas PM No. 98 Tahun 2013 tetang SPM Angkutan Orang dengan Kendaraan Bermotor Umum dalam Trayek.
  • PP Nomor 74 Tahun 2014 tentang Angkutan Jalan: terkait dengan perihal angkutan orang dengan kendaraan bermotor umum menggunakan Mobil Penumpang Umum & Mobil Bus Umum
  • Peraturan Kepala Kepolisian RI Nomor 5 Tahun 2012, terkait dengan tanda nomor kendaraan bermotor umum adalah dasar kuning, tulisan hitam

Siaran Pers: RSA Indonesia dan Koalisi Pejalan Kaki Ajak Cegah Kecelakaan

Siaran Pers: RSA Indonesia dan Koalisi Pejalan Kaki Ajak Cegah Kecelakaan

Jakarta, 24 November 2015 – Kecelakaan lalu lintas jalan masih menjadi catatan hitam Indonesia. Sepanjang 2015 setidaknya setiap hari 70-an jiwa melayang sia-sia di jalan raya. Korban yang bergelimpangan tersebut buah getir dari 250-an kasus kecelakaan yang terjadi setiap hari di seantero Nusantara.

Kondisi di dunia tidak jauh berbeda. Badan Kesehatan Dunia (WHO) dalam laporan Global Road Safety 2015 menyatakan bahwa 1,25 juta jiwa tewas akibat kecelakaan setiap tahun. Tiga kelompok yang rentan kecelakaan adalah sebanyak 23% pesepeda motor, pejalan kaki (22%), dan pesepeda kayuh (6%) atau sekitar 49% dari total korban kecelakaan dunia. WHO telah menginisiasi  program pengurangan kematian dan korban luka akibat lalu lintas jalan sebesar 50% pada 2020. Salah satu upaya masyarakat global adalah lewat Dekade Aksi Keselamatan Jalan 2011-2020.

Melihat kondisi tersebut Road Safety Association (RSA) Indonesia dan Koalisi Pejalan Kaki (KPK) meminta Negara lebih serius menangani masalah kecelakaan. Di sisi lain, kedua kelompok masyarakat itu mengajak publik untuk lebih sadar untuk berlalu lintas jalan yang aman dan selamat.

“Perhatian pemerintah terhadap keselamatan jalan kami rasakan masih timpang dibandingkan dengan kasus lain seperti penyalahgunaan narkoba dan terorisme. Untuk dua kasus tersebut, pemerintah sangat sigap bahkan membentuk badan nasional yang khusus menangani kasus tersebut, mengapa dengan keselamatan jalan tidak dilakukan hal yang sama?,” tutur Ivan Virnanda, ketua Umum RSA Indonesia, di Jakarta, Selasa (24/11).

RSA Indonesia dan KPK meminta Kepolisian RI menegakkan hukum dengan lebih tegas, konsisten, transparan, kredibel, dan tidak pandang bulu. Lalu, pemerintah menyediakan sarana transportasi umum yang aman, nyaman, selamat, terjangkau secara akses dan finansial. Sementara masyarakat diminta untuk selalu mematuhi aturan yang berlaku, memiliki keterampilan berkendara yang mencukupi dan sudi berbagi ruas jalan dan menghargai sesama pengguna jalan.

Sementara itu, terkait dengan Hari Perenungan Korban Kecelakaan Dunia (World Day of Remembrance for Road Traffic Victims) RSA Indonesia dan KPK menggelar aksi bersama pada ajang Car Free Day, di Jakarta, Minggu (22/11). Dalam ajang bersama itu diserukan agar pengguna jalan lebih waspada saat berlalu lintas jalan dan membuka mata negara untuk lebih serius.

Di sisi lain, kata Ivan, pelaku kecelakaan lalu lintas adalah penjahat jalanan. Kecelakaan lalu lintas merupakan tindak kriminal apalagi jika menyebabkan hilangnya nyawa. “Sanksi penjara dan administratif telah menunggu sang pelaku,” katanya.

Ajang World Day of Remembrance for Road (WDOR) diinisiasi European Federation of Road Traffic Victims (FEVR) pada tahun 1995. Hal itu lantas bergulir menjadi program internasional yang diperingati setiap tahunnya setelah diadopsi oleh Perserikatan Bangsa Bangsa pada 26 Oktober 2015. RSA Indonesia sebagai jaringan aliansi LSM Keselamatan Jalan Dunia merasa patut menyuarakannya di Indonesia. Tema WDOR tahun ini yang diperingati pada 15 November 2015 adalah “It’s time to Remember – Say No to Road Crime.’ (*)

Kontak:
RSA Indonesia: Ivan Virnanda: 0811 941 355
Koalisi Pejalan Kaki: Alfred: 0852 8023 0523

PRESS RELEASE: Launch of Alliance Empowerment Program

17 November, 2015 Siaran Pers RSA
PRESS RELEASE: Launch of Alliance Empowerment Program

17 NOVEMBER 2015, BRASILIA — On Tuesday the Global Alliance of NGOs for Road Safety announced the launch of the “Alliance Empowerment Program,” a capacity building program sponsored by FedEx. It aims to improve the ability of non-governmental organizations (NGOs) working in road safety around the world to design and implement initiatives that significantly reduce the risk of injury and fatality on the world’s roads.

The announcement was made at an NGO rally held during the 2nd Global High-Level Conference on Road Safety in Brasilia, Brazil. More than 200 representatives were present at the rally, including representatives from NGOs working around the world, ministers, and road safety advocates from the corporate, philanthropic, and multilateral sectors.

The Alliance Empowerment Program will be administered by the Global Alliance of NGOs for Road Safety, a coalition organization representing more than 140 NGOs operating in road safety in over 70 countries. The program aims to serve all Alliance-member NGOs and will feature face-to-face training workshops conducted in key regions of the world, webinars, online tool-kits, and mentorship services for NGOs. Training content will focus on relevant road safety topics and will provide technical training relating to project management, implementation, and advocacy.

“NGOs have significant potential to reduce traffic-related injuries and fatalities and advocate for road safety by implementing community initiatives. We want to make sure that they have the necessary skills to meet challenges and are able to respond to the needs they see in their communities.” said Lotte Brondum, Administrative Director of the Global Alliance of NGOs for Road Safety. “The Alliance Empowerment Program will provide this training to road safety NGOs around the world so that more lives can be saved and we can reach the targets included in the new Sustainable Development Goals.”

Approximately 1.25 million people die on the world’s roads each year, according to the World Health Organization’s newly published Global Status Report on Road Safety 2015. Traffic crashes are the number one killer of young people aged 15-29, and the eighth leading cause of death among all people worldwide. As a result, road safety is increasingly recognized as a major global health issue. Road safety targets were officially included in the post-2015 Sustainable Development Goals adopted at a UN summit held in September.

“The risk of dying on the roads is very real, and families all over world feel the devastating effects of traffic crashes,” stated Tabatha Stephens, Manager, FedEx Global Citizenship. “Thankfully, traffic crashes and their consequences can be significantly reduced through well-designed preventative measures. FedEx recognizes that NGOs play a critical role in promoting and implementing these measures in their communities and we want to support them in reaching their full potential to save lives.”

Currently, the Global Alliance of NGOs for Road Safety is conducting a needs assessment among member NGOs to gather information on area-specific weaknesses, to inform the exact content of the training program. Once implemented, the program will be systematically monitored and evaluated to determine its effectiveness in improving member NGO’s capacity to develop road safety initiatives that produce significant, measurable results.

For more information, please follow the Alliance website and see our program backgrounder.

For media inquiries, contact:

Bailey Marshall
Networks Manager
Global Alliance of NGOs for Road Safety
bailey@roadsafetyngos.org

Hadiri Pertemuan LSM Keselamatan Jalan Dunia, RSA Usung #IndonesiaRoadAlert

Hadiri Pertemuan LSM Keselamatan Jalan Dunia, RSA Usung #IndonesiaRoadAlert

Indonesia kembali hadir dalam pertemuan antar LSM Keselamatan Jalan Sedunia yang diadakan di Brasilia, Brazil (18-19/11) setelah beberapa pertemuan yang digagas oleh Global Alliance of NGOs for Road Safety yang terbentuk setelah pertemuan di Washington DC 2011 silam.

Indonesia tengah berduka dengan hilangnya nyawa setiap hari, tercatat 76.000 kasus kecelakaan sepanjang Januari-Juni 2015. “73 jiwa tewas setiap hari akibat kecelakaan di Indonesia,” jelas Ivan Virnanda, Ketua Umum Road Safety Association (RSA) Indonesia

Sementara Sekjen, Nursal, mengatakan, “Kami cemburu dengan kasus Terorisme, kami cemburu dengan kasus penyalahgunaan narkoba mendapat perhatian sangat besar oleh negara”.
“Apakah jumlah kematian yang disebabkan Terorisme dan Narkoba mencapai angka lebih dari 73 nyawa setiap hari?”, sergah Lucky Subiakto, selaku Badan Pengawas.

Dengan hashtag #IndonesiaRoadAlert kelanjutan dari #IndonesiaDaruratJalanRaya, RSA Indonesia akan menyuarakan dan mencari solusi terbaik dalam ajang internasional ini, bahkan RSA juga menjadi inisiator dalam wadah komunikasi antar anggota aliansi seluruh dunia ini.

Dalam pertemuan kali ini yang bertajuk 2nd Global High Level Conference on Road Safety, konferensi ini akan mengumpulkan sekitar 1500 delegasi, diantaranya Kementerian Kesehatan, Kementerian Perhubungan dari berbagai negara, juga ada delegasi senior dari PBB, juga organisasi kemasyarakatan dan sektor swasta. Maka bisa diharapkan, amplifikasi setelah pertemuan ini membuat salah satu solusi ke depannya.

Rio Octaviano, sebagai Badan Kehormatan Road Safety Association akan hadir setelah beberapa pertemuan sebelumnya beliau menjadi perwakilan dalam pertemuan-pertemuan antar LSM Keselamatan Jalan seluruh dunia, juga tidak luput dukungan penuh dari Adira Insurance melalui program mereka Get Home Safely yang membuat perjalanan mulia ini menjadi terwujud. “Indonesia akan terus bergerak sesuai kapasitasnya masing-masing,” tutup Rio.

Siaran Pers RSA Indonesia: Pemerintah Wajib Jamin Keselamatan di Kalimalang

Siaran Pers RSA Indonesia: Pemerintah Wajib Jamin Keselamatan di Kalimalang

PEMERINTAH DKI Jakarta diminta lebih menjamin keselamatan para pengguna jalan di kawasan Jl Raya Kalimalang. Jalan yang menghubungkan Jakarta dengan Bekasi itu rawan memicu kecelakaan lalu lintas jalan.

Di tengah gemuruh penambahan lajur dan pembangunan jalan tol Bekasi-Cakung-Kampung Melayu (Becak Kayu) di Kalimalang, pemerintah perlu lebih peduli soal keselamatan pengguna jalan. Lajur yang semula hanya dua akan ditambah menjadi empat menimbulkan sejumlah rintangan (obstacle) dalam proses pembangunannya. Ketika itulah butuh rambu tambahan sekaligus penerangan lampu yang maksimal guna menghindari terjadinya insiden jalan.

Negara wajib menjamin infrastruktur transportasi benar-benar mengusung jalan yang berkeselamatan. Lihat saja Undang Undang (UU) No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ), khususnya pasal 22 yang menegaskan bahwa penyelenggara jalan wajib melaksanakan uji kelaikan fungsi Jalan sebelum pengoperasian Jalan.

Lalu lihat juga Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 32 Tahun 2011 khususnya pasal 1 ayat (1) yang berbunyi manajemen dan rekayasa lalu lintas adalah serangkaian usaha dan kegiatan yang meliputi perencanaan, pengadaan, pemasangan, pengaturan, dan pemeliharaan fasilitas perlengkapan jalan dalam rangka mewujudkan, mendukung dan memelihara keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas. Bahkan, dalam ayat (3) ditegaskan bahwa keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan adalah suatu keadaan terhindarnya setiap orang dari risiko kecelakaan selama berlalu lintas yang disebabkan oleh manusia, kendaraan, jalan, dan/atau lingkungan.

Artinya, secara gamblang ditegaskan bahwa seharusnya dalam pembangunan jalan, pengguna jalan wajib dibebaskan dari risiko kecelakaan lalu lintas jalan. Apalagi kita tahu bahwa faktor jalan menjadi salah satu pemicu kecelakaan lalu lintas jalan. Di Jakarta dan sekitarnya, seperti dilansir Ditlantas Polda Metro Jaya, kontribusi faktor jalan meningkat sekitar 57% pada 2014. Tahun itu, setiap dua minggu terjadi satu kasus kecelakaan yang dipicu faktor jalan.

Tiga aspek besar yang memicu kecelakaan di dalam faktor jalan adalah jalan berlubang (82,14%). Lalu, jalan rusak (10,71%) dan jalan licin (7,14%).

Lantas, bagaimana proses pembangunan infrastruktur di Jl Raya Kalimalang saat ini?
Road Safety Association (RSA) Indonesia menilai pembangunan jalan itu justeru membuka peluang terjadinya kecelakaan. Terjadi degradasi keselamatan jalan yang cukup tinggi. Misalnya, banyak dusaspun beton yang diletakan pada posisi yang kurang tepat. Hal ini dapat dilihat di pertigaan Universitas Borobudur, Jakarta Timur arah dari Cawang. Pengendara harus bermanuver ke arah serong kiri memotong arus dari arah Jl Pahlawan Revolusi.

Di sisi lain, hal itu diperparah oleh kondisi jalan yang belum layak, seperti banyaknya jalanan tidak rata. Ini sangat berbahaya untuk pengguna kendaraan roda dua maupun roda empat. Mereka harus menurunkan kecepatan yang ironisnya terkadangdilakukan tiba-tiba. Lalu, rambu lalu lintas juga tidak berfungsi dengan baik yang kemungkinan akibat dari pembangunan jalan yakni pemindahan beberapa tiang listrik.
Kondisi sepanjang Jl Raya Kalimalang dari arah Bekasi maupun dari arah Cawang, Jakarta Timur banyak sekali rintangan (obstacle) yang muncul tiba-tiba tanpa ada rambu peringatan agar pengendara berhati-hati.
Padahal, Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan, Dinas Pekerjaan Umum (DPU) menyebutkan bahwa dalam pembangunan badan jalan harus dilengkapi dengan rambu lalu lintas, karena berpotensi terhadap gangguan arus lalu lintas jalan.
Karena itu, Pemerintah DKI Jakarta perlu lebih serius mengingat ketika para pengguna jalan diharuskan manuver secara tiba-tiba, hal ini sangat membahayakan. RSA Indonesia meminta dipasangnya rambu-rambu peringatan pada titik-titik tertentu dimana ketika jalur tersebut berpotensi terjadi manuver. Pemerintah wajib menjamin rasa aman untuk semua jenis kendaraandalam melakukan antisipasi obstacle yang terjadi selama perjalanan.
RSA Indonesia yang mengusung konsep Rules, Skills, dan Attitude mencoba mengajak pengguna jalan harus lebih awas dan ekstra waspada saat berkendara. Kepatuhan pada rambu-rambu jalan menjadi salah satu kunci ikhtiar agar selamat di jalan raya. Di sisi lain, Pemprov DKI Jakarta mesti menyediakan rambu dan memperbaiki rambu-rambu yang rusak mengingat hal itu berpotensi memicu terjadinya kecelakaan di Jl Raya Kalimalang. Dan publik juga perlu diinformasikan kapan proses pembangunan jalan di Kalimalang tersebut rampung. (*)

Untuk kontak RSA Indonesia:
Ivan Virnanda (Ketua Umum)
HP. 0811941355

Siaran Pers RSA Indonesia: Pernyataan Sikap Terkait Pembatasan Sepeda Motor di Jakarta

Siaran Pers RSA Indonesia: Pernyataan Sikap Terkait Pembatasan Sepeda Motor di Jakarta

JAKARTA – 25 November 2014, Setidaknya saat ini ada empat aturan yang terkait dengan pembatasan motor. Keempatnya mencakup UU No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ), PP No 32/2011 tentang Manajemen dan Rekayasa, Analisis Dampak, Serta Manajemen Kebutuhan Lalu Lintas, PP No 97 tahun 2012, yakni Retribusi Pengendalian Lalu Lintas dan Retribusi Perpanjangan Izin Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing, dan Perda DKI Jakarta No 5 tahun 2014 tentang Transportasi.

UU No 22 tahun 2009 tentang LLAJ yang diteken Presiden saat itu, yakni Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan bahwa pembatasan sepeda motor merupakan bagian dari manajemen kebutuhan lalu lintas. Dalam pasal 133 UU tersebut dicantumkan bahwa pembatasan lalu lintas sepeda motor pada koridor atau kawasan tertentu pada waktu dan jalan tertentu. Lalu, dalam pasal 70 di PP 32/2011 diatur tentang kriteria yang harus dipenuhi untuk membuat aturan pembatasan lalu lintas sepeda motor.

Kriteria tersebut paling sedikit terdiri atas, pertama, memiliki perbandingan volume lalu lintas kendaraan bermotor dengan kapasitas jalan pada salah satu jalur jalan sama dengan atau lebih besar dari 0,5 (nol koma lima). Dan, kedua, telah tersedia jaringan dan pelayanan angkutan umum dalam trayek yang memenuhi standar pelayanan minimal pada jalan, kawasan, atau koridor yang bersangkutan.

Pada aturan yang sama ditegaskan juga bahwa pembatasan untuk kendaraan perseorangan dan barang dapat memakai sistem retribusi atau pungutan daerah. Pungutan tersebut berlaku di jalan provinsi.

Lalu, PP No 97 tahun 2012 yang ditetapkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 30 Oktober 2012 itu secara gamblang mengatakan ada empat obyek pungutan yang dikecualikan, salah satunya sepeda motor. Selain sepeda motor, tiga obyek lainnya yang dikecualikan adalah kendaraan penumpang umum, kendaraan pemadam kebakaran, dan ambulans. Inilah PP yang kondang disebut PP electronic road pricing (ERP).

Dalam PP 97/2012 ini ditegaskan lagi soal kriteria kepadatan lalu lintas jalan yang berdasarkan criteria pertama, memiliki perbandingan volume lalu lintas kendaraan bermotor dengan kapasitas jalan pada salah satu jalur jalan sama dengan atau lebih besar dari 0,9 (nol koma sembilan). Dan, kedua, kecepatan rata-rata sama dengan atau kurang dari 10 (sepuluh) km/jam, berlangsung secara rutin pada setiap hari kerja.

Sementara itu, Perda DKI Jakarta No 5/2014 menegaskan bahwa untuk melaksanakan pengendalian lalu lintas jalan, pemerintah daerah dapat melakukan pembatasan kendaraan bermotor perseorangan yang dioperasikan di jalan dan/atau pergerakan lalu lintas. Salah satu caranya adalah dengan membatasi lalu lintas sepeda motor pada kawasan tertentu dan/atau waktu dan/atau jaringan jalan tertentu.

Ketentuan lebih lanjut semestiya dilengkapi oleh peraturan gubernur.

Kebijakan di hilir soal pembatasan lalu lintas kendaraan sebenarnya tidak perlu dilakukan bila persoalan di hulunya, yakni angkutan umum massal yang nyaman cukup tersedia. Angkutan umum massal yang aman, nyaman, selamat, tepat waktu, terjangkau secara akses dan finansial, serta ramah lingkungan menjadi dambaan publik. Andai angkutan seperti itu tersedia cukup banyak, rasanya penggunaan kendaraan bermotor pribadi seperti mobil penumpang dan sepeda motor bisa tereduksi secara alamiah.

Di sisi lain, andai perilaku individual masyarakat kota dapat dikurangi, maka penggunaan kendaraan pribadi pun dapat menyusut. Kita selalu sibuk dengan persoalan di hilir dan lalai atas persoalan di hulu, termasuk dalam permasalahan kecelakaan lalu lintas jalan. Bila pemprov menerapkan pembatasan sepeda motor, kendaraan substitusinya juga harus sepadan sehingga hak bermobilitas warga masih dapat terpenuhi.

Empat usulan RSA Indonesia:

  1. Sosialisasikan alasan-alasan pembatasan sepeda motor kepada masyarakat luas melalui media massa dan media sosial. Materi sosialisasi mencakup seberapa besar tingkat kecelakaan di kawasan yang akan diterapkan pembatasan. Selain itu, sejauhmana tingkat kemacetan yang ditimbulkan oleh sepeda motor di kawasan yang dimaksud.
  2. Sampaikan ke publik hasil uji coba. Sejauhmana dampaknya terhadap masalah kecelakaan dan kemacetan di kawasan yang diujicoba.
  3. Penuhi kaidah-kaidah yang diamanatkan oleh UU No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) maupun aturan turunannya seperti Peraturan Pemerintah (PP) No 32/2011 tentang Manajemen dan Rekayasa, Analisis Dampak, Serta Manajemen Kebutuhan Lalu Lintas, serta Perda No 5/2014 tentang Transportasi.
  4. Sesegera mungkin wujudkan transportasi publik yang aman, nyaman, aman, selamat, tepat waktu, terjangkau secara akses dan finansial, serta ramah lingkungan. Angkutan umum yang sesuai standar pelayanan minimum (SPM) yang sepadan. (*)

 

 

Edo Rusyanto

Ketua Umum RSA Indonesia

 

Kontak:

Email: sekretariat@rsa.or.id

Website: http://rsa.or.id

Facebook: Rsa Indonesia

Twitter: @RSAIndonesia

Siaran Pers RSA Indonesia: Mereka Berteriak Ketika Beban Bertambah Berat

Siaran Pers RSA Indonesia: Mereka Berteriak Ketika Beban Bertambah Berat

Mereka Berteriak Ketika Beban Bertambah Berat

JAKARTA, Minggu, 16 November 2014 – Road Safety Association (RSA) Indonesia menggelar aksi simpatik di enam kota berbeda, Minggu, 16 November 2014. Aksi bertajuk ‘World Day Of Remembrance (WDOR) for Road Traffic Victims alias Hari Perenungan Korban Kecelakaan Dunia’ dibalut dalam berbagai kegiatan.

Gelombang di empat kota bergerak pada pagi hari, sedangkan dua kota lainnya memilih sore hari. Empat yang pertama terdiri atas Jakarta, Bandung (Jawa Barat), Jogjakarta, dan Kudus (Jawa Tengah). Sedangkan dua yang dimaksud adalah Palembang (Sumatera Selatan) dan Padang (Sumatera Barat).

“Kami ingin jumlah korban dan fatalitas kecelakaan terus bisa menurun. Saat ini, kecelakaan sudah menambah beban berat korban maupun keluarga korban. Sekitar 60% keluarga korban kecelakaan terkena dampak finansial,” kata Edo Rusyanto, ketua Road Safety Association (RSA) Indonesia di sela aksi damai WDOR 2014, di Jakarta, Minggu pagi.

Suara-suara senada bersahutan dari para relawan RSA Indonesia yang hadir di Jakarta. Termasuk dari para relawan ‘Indonesia Ayo Aman Berlalu Lintas’ atau IAABL yang hadir pagi itu. Suasana serupa juga mencuat di lima kota lainnya. Di Jakarta, sebelum acara dimulai seluruh peserta yang hadir diajak merenung sejenak, memberikan doa bagi para korban kecelakaan, dan tentu saja berharap kian mengecil jumlah korban yang berjatuhan. Kita tahu, di Indonesia setiap hari 70-an jiwa tewas akibat kecelakaan di jalan. Angka itu setara dengan tiga orang tiap jam, sedangkan di dunia tiap jam sekitar 141 jiwa tewas akibat kecelakaan.

Aksi simpatik WDOR yang digagas RSA Indonesia itu dibalut dengan beragam kegiatan. Di Jakarta misalnya, ada aksi bincang pagi yang melibatkan wakil IAABL Yulian Warman, Kasundit Dikyasa Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Warsinem, Direktotorat Keselamatan Transportasi Darat Kemenhub Yani, dan Ketua Umum RSA Indonesia Edo Rusyanto. Selain itu, dilengkapi dengan longmarch di kawasan Car Free Day (CFD) Jakarta di kawasan Bundaran HI, Jakarta. Serta, diselingi aksi pembagian buku cetakan panduan keselamatan di jalan.

“Di Jogjakarta kami juga melakukan longmarch serta membentangkan spanduk pesan keselamatan jalan. Kegiatan dimulai dari pukul 06.00 pagi,” papar Ali Syahid, koordinator Kulo Bikers Sanes Gankster di Jogjakarta, Minggu pagi.

Sementara itu dari Bandung, Ibrahim selaku PIC RSA Indonesia di Bandung mengaku menggelar acara serupa di kawasan CFD Bandung di Dago. Selain aksi bentang spanduk dan interaksi, aksi simpatik di Bandung juga diselingi dengan kuis bernuansa keselamatan jalan yang melibatkan warga di area CFD.

Aksi Nyata

Yani dari Kemenhub mengaku pihaknya sudah kian meningkatkan sinergi dengan para pemangku kepentingan (stakeholder) keselamatan jalan yang lainnya. Dia menyebut, pihaknya sudah kian solid dengan kementerian terkait maupun dengan jajaran kepolisian dan pemerintah daerah. Kemenhub, lanjut dia, juga sudah lebih membuat aksi konkret bagi keselamatan masyarakat, seperti membuat zona selamat sekolah.

“Kita berharap jangan sampai kian banyak pengguna jalan yang masuk daftar statistik kecelakaan,” sergahnya.

Sedangkan Ditlantas Polda Metro Jaya mengaku bakal lebih serius menindak mereka yang melanggar aturan dengan kategori berpotensi memicu kecelakaan. “Misalnya, melawan arus dan menerobos lampu merah,” tegas AKBP Warsinem.

Peran masyarakat, bagi Yulian Warman, juga amat penting untuk menyuarakan dan memperluas kesadaran berkendara yang aman dan selamat. “Kami akan terus menyebarluaskan keselamatan jalan, termasuk bekerjasama dengan RSA Indonesia,” kata dia.

Peran publik tak bisa dianggap remeh mengingat selamat ini kerap disebutkan bahwa faktor utama pemicu kecelakaan lalu lintas jalan adalah faktor manusia. “Kami, TACI Palembang peduli akan keselamatan di jalan,” kata Kriswindo, koordinator TACI Palembang yang menggelar aksi di Palembang, Minggu sore.

Sebagai bagian dari peranan publik, para relawan di Padang juga menyuarakan tentang beratnya beban yang akan dipikul oleh korban maupun keluarga korban kecelakaan. Relawan di Padang menyuarakannya dengan membentangkan spanduk, membagikan flyer, dan aksi pampang poster di lokasi strategis kota Padang, Minggu sore.

Beragam kelompok relawan RSA Indonesia juga turut ambil bagian pada aksi kali ini. Di Jakarta hadir antara lain, KBSG, Kopdar Pengicau, Bismania Community. HSX125 Community, RYC, YJOC, Mahasiswa UPN, STIRCOM dan TACI. Belum termasuk puluhan klub dan komunitas yang juga bergabung dalam aksi ini di lima kota lainnya.

Partisipasi publik dan bersinerginya para stakeholder keselamatan jalan dapat bahu membahu untuk memangkas fatalitas kecelakaan lalu lintas. Aksi simpatik WDOR 2014 hanya salah satu fitur. Perlu gerakan terus menerus untuk mengajak publik agar lebih sudi toleran dan mentaati aturan yang ada. “RSA Indonesia berharap target menurunkan fatalitas hingga 85% pada 2035 dapat segera terwujud,” ujar Edo Rusyanto. (*)

Informasi kontak:

Edo Rusyanto, Ketua Umum Road Safety Association (RSA)
Mobile: +621818141867
Email: edorusyanto@gmail.com

A Ahmad Fauzi, Humas Road Safety Association (RSA)
Mobile: 0878.7888.0970
Email: humas@rsa.or.id

Siaran Pers RSA Indonesia: Rakyat Menggugat!!!

Siaran Pers RSA Indonesia: Rakyat Menggugat!!!

JAKARTA, Kamis, 13 November 2014 – Rakyat menggugat. Fakta memperlihatkan sepuluh tahun terakhir Indonesia harus kehilangan 220 ribu lebih jiwa anak bangsa di jalan raya. Mereka bergelimpangan lantaran kecelakaan lalu lintas jalan.

Tak kurang dari satu juta anak negeri yang menderita luka-luka dari petaka jalan raya tersebut. Sebanyak 41% dari korban tersebut harus menderita luka berat. Mereka tidak mampu terus-menerus untuk menjalankan tugas jabatan atau pekerjaan. Mereka kehilangan salah satu pancaindra, bahkan mereka menderita cacat berat atau lumpuh.

Kita juga disodori fakta bahwa mayoritas keluarga korban kecelakaan harus terganggu finansialnya. Keluarga yang ditinggalkan oleh penyangga tiang ekonomi harus pontang-panting membangun ekonomi mereka. “Pertanyaannya, bagaimana dengan masa depan anak-anak mereka?” sergah Edo Rusyanto, ketua umum Road Safety Association (RSA) Indonesia, di Jakarta, Kamis (13/11/2014).

Di tengah itu semua, RSA Indonesia mengajak seluruh rakyat Indonesia merenung sejenak akan kebengisan sang jagal jalan raya. Bagaimana kecelakaan mencabik-cabik kehidupan keluarga yang ditinggalkan. Bagaimana kecelakaan merenggut jiwa anak-anak negeri yang kemungkinan menjadi penerus bangsa dan negara. Mereka bisa jadi adalah calon pemimpin bangsa, calon intelektual, bahkan bisa jadi mereka adalah calon penegak hukum yang bersih dan berwibawa.

“Pada Minggu, 16 November 2014, RSA Indonesia bersama segenap relawan di berbagai kota menggelar aksi simpatik bertajuk Hari Perenungan Korban Kecelakaan Dunia,” jelas Edo Rusyanto.

Dia menambahkan, tema kali ini yang diusung adalah “Kecelakaan Menambah Beban Berat Hidup Rakyat”.

Pada tahun ini, tambahnya, kota-kota yang menggelar aksi simpatik itu terdiri atas Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Kudus, Padang, dan Palembang. Mereka bahu membahu untuk mengajak publik agar lebih peduli terhadap masalah keselamatan berlalu lintas jalan. Mengingatkan masyarakat bahwa kecelakaan bukan saja merenggut orang-orang tercinta, tapi juga bisa memporakporandakan ekonomi keluarga.

RSA Indonesia menyerukan agar pelaksanaan aksi simpatik berjalan aman, nyaman, dan selamat. Tidak membuat lalu lintas jalan menjadi lebih tambah karut marut. Karena itu, pilihan aksi tahun ini memakai lokasi area Car Free Day di kota-kota terkait. Misalnya, di Jakarta digelar di area CFD di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat mulai pukul 07.00-11.00 WIB.

Mari gandengkan tangan, mari serukan kepada Negara bahwa mereka bertanggung jawab untuk melindungi para pengguna jalan raya. Mari serukan kepada kita sesama rakyat pengguna jalan bahwa ada jagal jalan raya yang tak pernah lelah mengintai kelengahan kita. Terus waspada, fokus, dan konsentrasi ketika berkendara. Wujudkan lalu lintas jalan yang humanis, lalu lintas jalan yang mengusung keadaban kita sebagai manusia. Sudi toleran dan menghargai aturan di jalan. Semangat!!! (*)

Untuk kontak RSA Indonesia:
Email: sekretariat@rsa.or.id
Twitter: @RSAIndonesia
Facebook: RSA Indonesia
Mobile:
0818-141-867 Edo (Ketua Umum)
0811-891-892 Lucky (Sekjen)

image