SAMA-SAMA belum pernah ke Serpong Plaza, saya dan bro Eko, sekjen Road Safety Association (RSA), sempat tanya sana-sini. Termasuk ke bro Hery, salah satu anggota Independent Bikers Club (IBC) yang tinggal tak jauh dari kawasan di Tangerang Selatan itu.

Sabtu (16/4/2011) sore itu, kami bermaksud mengisi acara diskusi keselamatan jalan di acara Hari Ulang Tahun ke-2 Yamaha Vixion Club Indonesia (YVCI) chapter Tangerang. Perjalanan cukup lancar, hanya sesekali tersendat di pintu masuk dan keluar tol. Butuh waktu sekitar 60 menit dari Kuningan, Jakarta Selatan menuju Serpong. Sempat menikmati guyuran hujan deras di sekitar Karang Tengah, hingga Serpong Plaza, Tangerang Selatan, Banten.

 

 

Kehangatan sambutan rekan-rekan YVCI mengobati rasa dinginnya udara akibat terpaan hujan deras. Di pintu masuk plaza yang disulap menjadi ajang syukuran pemotor Vixion tersebut, berkumpul belasan anggota YVCI dan sejumlah tamu undangan. Sejumlah sepeda motor Vixion anggota YVCI tampak berjajar rapi di depan dan samping lobby plaza itu.

Jadwal kami untuk berbagi soal keselamatan jalan sekitar pukul 16.45 WIB. Artinya, ada waktu sekitar 20 menit untuk kami beristirahat. Di tengah plaza yang dijadikan lokasi acara, tampak sang vokalis Band July sedang menghibur tamu yang datang. Plaza terasa berbeda dengan pusat perbelanjaan lainnya. ”Plaza ini memang sepi karena terjepit oleh pusat perbelanjaan lain di wilayah tersebut,” ujar bro Azdi, mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) saat bertemu dengan saya di acara tersebut. Bro Azdi sedang merampungkan skripsi mengenai keselamatan jalan, khususnya terkait pemotor.

Keselamatan Kebutuhan

Kami sengaja memilih tema Keselamatan Adalah Kebutuhan. Materi dibalut dalam sajian realitas disekitar kita yang setiap hari disodorkan kecelakaan lalu lintas jalan yang menelan tiga korban jiwa. Mayoritas, mereka yang tewas di wilayah Polda Metro Jaya, adalah para pemotor. Kelompok masyarakat yang mencoba bertahan hidup di tengah sistem transportasi darat yang belum aman, nyaman, dan selamat.

RSA berbasis pada pentingnya penegakan hukum, perilaku berkendara yang sudi berbagi dengan sesama pengguna jalan, dan keterampilan berkendara sebagai unsur pelengkap. Para tamu dan anggota YVCI Tangerang yang hadir tergolong antusias. Terlebih, dalam pemaparan materi kami balut pula dengan sajian video-video mengenai kecelakaan dan keselamatan jalan, serta etika berkendara.

”Menelepon dan mengirim SMS saat bersepeda motor mengganggu konsentrasi. Berbahaya dan bisa celaka,” tegas Bro Ide, dari YVCI chapter Cilegon, sore itu ketika menanggapi salah satu materi soal pesatnya kecelakaan lalu lintas jalan yang dipicu penggunaan ponsel.

Di wilayah Polda Metor Jaya, pada 2010, kecelakaan yang dipicu penggunaan ponsel meningkat sekitar 1.200-an persen dibandingkan 2009. Sebuah fakta yang memprihatinkan.

Penegakan hukum menjadi salah satu upaya penting dalam mereduksi terjadinya kecelakaan. Maklum, kita semua mahfum bahwa pelanggaran aturan jalan membuka potensi terjadinya kecelakaan. Karena itu, dengan aparat yang tegas dan konsisten dalam menegakan aturan lalu lintas, diprediksi bakal punya andil besar dalam mengurangi korban kecelakaan. ”Lantas bagaimana jika petugas yang melanggar aturan seperti memakai lampu belakang mika putih yang menyilaukan? Atau, ketika tidak sedang bertugas menggunakan motor masuk ke jalan tol?” sergah bro Oka dari Yamaha MX Club Indonesia (YMCI).

Sebuah pertanyaan yang tak mudah menjawabnya. Bagi kami di RSA, penegakan hukum semestinya tak pandang bulu. Karena itu, kami berharap semua pihak mendukung hal tersebut.

Sudah cukup lebih dari 200 ribu jiwa yang tewas di jalan raya sepanjang 1992-2010. Sudah cukup lebih dari setengah juta anak negeri yang menderita luka akibat kecelakaan lalu lintas jalan. ”Bagaimana mengurus santunan bagi korban kecelakaan yang meninggal dunia?” Tanya bro Herman dari Xeoner chapter Tangerang.

Ya. Bagi korban kecelakaan berhak atas santunan dari PT Jasa Raharja. Kita tahu, para pemilik kendaraan dibebani sumbangan wajib dana kecelakaan lalu lintas jalan (SWDKLLJ), khusus pemotor, jika di bawah 250cc, dikenai sumbangan Rp 35 ribu.

Syarat untuk mengurus santunan di antaranya adalah dengan melampirkan surat keterangan korban kecelakaan lalu lintas jalan dari kepolisian dan surat keterangan dari rumah sakit. Keluarga korban atau ahli waris bisa mengurus santunan bagi korban yang meninggal dunia.

Diskusi mengalir cukup antusias. Tak terasa waktu sudah memasuki pukul 18.00 WIB, waktu untuk ibadah sholat Maghrib bagi para muslimin. Para tamu HUT YVCI Tangerang juga mulai berdatangan, walau di luar sana hujan masih turun. Saya dan bro Eko, menutup diskusi sekaligus pamitan kepada para peserta. Panitia selanjutnya memberikan hadiah bagi empat penanya dalam diskusi kali ini. Hujan menemani perjalanan saya dan bro Eko menuju Jakarta petang itu. (edo rusyanto)

Facebook Twitter More...

About RSA Admin

RSA memfokuskan diri pada isu-isu pentingnya keselamatan jalan dengan menekankan ketaatan kepada peraturan lalu lintas, perilaku berkendara yang tepat dan standar minimum keterampilan berkendara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *