BANYAK kelompok pengguna sepeda motor di Indonesia yang memiliki pandangan soal pentingnya keselamatan di jalan (road safety). Salah satunya, Honda Street Fire Club Indonesia (HSFCI).

Kelompok para penunggang sepeda motor Honda CB 150 R ini sadar betul bahwa berkendara yang aman dan selamat perlu diimplementasikan. Safety riding alias keselamatan bersepeda motor bukan berhenti sebagai slogan. Karena itu, Road Safety Association (RSA) Indonesia merasa perlu hadir saat diundang dalam ajang Musyawarah Nasional (Munas) pertama mereka di Gedung Wahana, Gunung Sahari, Jakarta Utara, Sabtu, 19 April 2014 sore hingga malam hari. Munas dihadiri ratusan anggota HSCFI dari sekitar 38 kota di Indonesia.

“Bagaimana caranya menumbuhkan kesadaran safety di dalam diri kita?” Tanya Dino, dari HSFCI Depok, Jawa Barat.

Dia bertanya begitu mengingat di masyarakat masih tumbuh perilaku bahwa berkendara jarak dekat tidak perlu pakai helm. Padahal, kata dia, kecelakaan bisa terjadi di manapun, jarak dekat maupun jarak jauh.

Terkait hal itu, RSA Indonesia mengajak Dino maupun anggota HSFCI yang kumpul sore itu untuk meningkatkan lagi pemahaman soal keselamatan. Masalah safety riding atau road safety bukan semata masalah kewajiban memenuhi aturan atau etika di masyarakat, melainkan harus menjadi sebuah kebutuhan. Saat kebutuhan itu melekat menjadi kebutuhan mendasar manusia lainnya, seperti makan dan tidur, para pengendara sepeda motor bakal berkendara yang aman dan selamat. Salah satunya, seberapapun jarak yang akan ditempuh, memakai helm adalah mutlak sebagai ikhtiar melindungi kepala dari risiko lebih fatal saat terjebak dalam insiden atau kecelakaan lalu lintas jalan.
Di sisi lain, Arman dari HSFCI Samarinda, Kalimantan Timur menyodorkan fakta bahwa di sekeliling kita banyak anak-anak di bawah umur berkendara di jalan raya. Atau, anak-anak yang berjejalan di satu sepeda motor dengan orang tua mereka. “Semua itu karena transportasi publiknya tidak ada. Sepeda motor menjadi alat transportasi satu-satunya. Kenapa pemerintah tidak menyediakan transportasi bagi warganya?” Sergah dia.

Anak di bawah umur jelas-jelas belum memiliki surat izin mengemudi (SIM) yang merupakan persyaratan mutlak berkendara, termasuk bersepeda motor. Sedangkan orang tua yang memaksakan mengangkut penumpang lebih dari satu orang sehingga si kuda besi diisi tiga bahkan hingga empat dan lima orang, tentu memikul risiko yang tinggi. Keseimbangan saat berkendara bukan mustahil mengganggu konsentrasi yang membuka peluang lebih besar terjadinya kecelakaan di jalan.

Karena itu, RSA Indonesia memandang pentingnya pemerintah menyediakan moda transportasi public yang aman, nyaman, selamat, serta terjangkau secara akses dan finansial. Penggunaan angkutan umum diharapkan mampu mereduksi kasus kecelakaan lalu lintas jalan menjadi seminimal mungkin. Maklum, saat ini, keterlibatan kendaraan pribadi amat dominan dalam kecelakaan di Indonesia. Tahun 2013, dari 270-an kasus kecelakaan di jalan, lebih dari separuhnya melibatkan kendaraan pribadi, terutama sepeda motor. Ironisnya, korban yang ditimbulkan mencapai sedikitnya 70-an jiwa tewas sia-sia per hari.

Sementara itu, Putra dari HSFCI Jakarta menyoroti soal konvoi kendaraan di jalan raya. Dia mengaku pernah mendapat pernyataan bahwa konvoi bisa mendapat prioritas di jalan. Terkait hal ini, RSA Indonesia perlu menyegarkan ingatan bahwa konvoi yang legal sesuai perundangan, yakni Undang Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) adalah iring-iringan kendaraan yang mendapat pengawalan polisi lalu lintas. Bila sudah dikawal seperti itu priortas sudah di tangan. Hanya saja, persoalannya adalah bagaimana dengan etika berkendara di jalan raya. Bila ternyata mengusik nurani dan etika masyarakat, rasanya tidak elok meminta prioritas, apalagi ternyata tujuan konvoi bukan untuk urusan genting.

IKRAR HONDA BIKERS

Nah, soal genting dan penting menjadi sorotan. Prioritas semestinya untuk urusan yang genting seperti ambulans dan pemadam kebakaran. Jika hanya untuk kepentingan touring yang esensinya untuk bersenang-senang, rasanya menodai esensi keadaban sebagai manusia.

HSFCI merupakan bagian dari kelompok pesepeda motor yang dinaungi dealer utama Honda maupun PT Astra Honda Motor (AHM), memiliki “Ikrar Honda Bikers”. Ada lima ikrar tersebut yang esensi utamanya adalah menjadi pesepeda motor dan kelompok pesepeda motor yang menjunjung tinggi keadaban manusia Indonesia. Hal itu termasuk di dalamnya adalah mentaati aturan dan mengkampanyekan keselamatan di jalan kepada masyarakat.

Bila demiian, RSA Indonesia menilai bahwa HSFCI sudah memiliki bekal untuk menjadi agen keselamatan jalan. Menjadi kelompok yang menempatkan keselamatan sebagai sebuah kebutuhan sehari-hari, terutama saat berkendara di jalan raya.
Apakah ikrar itu bisa dilanggar? “Bisaaa” jawab anggota HSFCI. “Bisa tapi gak mau.” Ujar mereka lagi serempak.
Ya. Bisa tapi kalau tidak mau bakal tidak terwujud. Artinya, ikrar tersebut semestinya bisa diimpelementasikan. Mulai dari diri sendiri, keluarga, hingga kelompok. (edo rusyanto)

About Lucky

Disiplin, Tertib, Teratur. 3 hal inilah yang diajarkan oleh orang tua sejak saya kecil sehingga men-darah daging hingga saat ini. Semoga istiqomah.

Leave a Reply

Your email address will not be published.