5 Koridor Baru Trans Jakarta?
PEMERINTAH Daerah DKI Jakarta berencana memiliki 15 koridor Transjakarta. Hingga kini, setidaknya sudah 10 koridor yang beroperasi melayani warga Jakarta dan sekitarnya. Artinya, bakal ada lima koridor lagi yang bakal beroperasi.
Dalam rancangan koridor Transjakarta yang dilansir dinas perhubungan (dishub) DKI Jakarta terlihat bahwa lima koridor tersebut berada di jalur padat kendaraan. Sebut saja misalnya, Kalimalang-Blok M, Ciledug-Blok M, dan Depok-Manggarai. Selain itu, ada rute Tanjung Priok-Pluit dan Pulogebang-Kampung Melayu.
Khusus untuk rute yang terakhir, rencananya beroperasi pada 2011, namun belum beroperasi penuh. Kemungkinan pada 2012 bakal beroperasi penuh sepanjang koridor tersebut. Itu kalau saya tidak keliru.
Oh ya, untuk tiga koridor, yakni Depok-Manggarai, Kalimalang-Blok M, dan Ciledug-Blok M, infrastruktur yang dipakai kabarnya memakai jalan laying. Transjakarta melintas di atas. Wah, seru dong.
Jika kelima koridor tersebut bisa beroperasi pada 2012 rasanya bakal sedikit banyak mengurangi beban jalan Jakarta yang disesaki oleh kendaraan pribadi. Kita tahu, sejak beroperasi pada 2004, Transjakarta cukup punya andil mengurangi pemakaian kendaraan pribadi. Tapi, apa iya kelima koridor itu bisa terwujud tahun ini? Kapan pak Kadishub?
AKSI DAMAI RSA : Menolak Pembatasan Sepeda Motor
Road Safety Association bersama para relawan, melakukan aksi damai dengan melakukan konvoi sampai dengan 700 motor, untuk menuntut pembatalan pembatasan sepeda motor masuk ke jalan protokol, sebelum pemerintah sanggup memberikan pelayanan transportasi publik yang aman nyaman dan terjangkau.
Sowan ke Socio Bikers UNJ
SORE digayuti mendung. Jakarta lazimnya hari-hari kerja, dipadati arus kendaraan. Perjalanan saya dari Cibubur ke Rawamangun membutuhkan waktu hampir 50 menit.
Kampus Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Jumat (23/12/2011) sore masih ramai oleh mahasiswa yang lalu lalang. Tampak ada aktifitas pembangunan di kompleks kampus yang terletak di Jl Pemuda, Jakarta Timur itu. Usai membayar karcis parkir Rp 1.000, saya mencari lokasi parkir. Ratusan sepeda motor memadati jalan di sekitar gedung fakultas ilmu budaya (FIB) dan fakultas ilmu sosial (FIS). Bro Azdi, mahasiswa UNJ memandu saya memarkirkan motor. “Motor menjadi favorit mahasiswa,” kata bro Wahyu, mahasiswa UNJ lainnya.
Sore itu, kami dari Road Safety Association (RSA) diundang komunitas Socio Bikers untuk berbagi dalam soal keselamatan jalan dalam ajang Diskusi Kamis Sore (DKS). Selain saya, ada bro Roky, bro Lucky, dan bro Rio, sang ketua umum RSA. Belakangan, setelah diskusi berlangsung sekitar dua jam, datang bro Joan.
Ajang seperti ini kerap kami lakukan. Berbagi soal keselamatan jalan dengan para intelektual muda.
“DKS agenda rutin kami, kali ini kami ingin membahas soal road safety,” tutur bro Paceng, aktifis DKS yang juga mahasiswa sosiologi UNJ.
Sedangkan Socio Bikers adalah komunitas pengguna sepeda motor para mahasiswa Sosiologi UNJ yang berdiri sejak 8 Desember 2006. “Kami juga ada kegiatan touring,” jelas bro Bram.
Soal keselamatan jalan, bro Paceng berpendapat, implementasi keselamatan jalan harus dimulai dari diri sendiri. Maklum, problem mendasar adalah seputar perilaku pengendaranya.
“Ada kultur yang membentuk perilaku individualis. Bahkan ada motto bahwa peraturan ada untuk dilanggar. Masyarakat lebih peduli diri sendiri,” ujar bro Pak De, antusias.
Bro Rio menimpali bahwa soal kecelakaan lalu lintas jalan titik beratnya ada pada faktor manusia. “Motornya tidak salah, tapi bagaimana the man behind the gun,” tukasnya.
Dia menyoroti ekses dari kecelakaan. Pendekatan yang dibutuhkan saat ini adalah sejauhmana kecelakaan bakal berdampak pada korban, keluarga, dan orang sekitar. “Kita beritahu soal dampak sosial dan ekonomi, selain kerugian jiwa,” seloroh Rio.
Bro Ega senada. Bahkan, dia berharap penjelasan regulasi keselamatan jalan memakai kerangka pendekatan psikologis.
Tak urung saya sodorkan fakta soal dampak sosial dan ekonomi tahun 2010. Saat itu, akibat kecelakaan lalu lintas jalan, setiap hari ada 86 korban jiwa. Sedangkan ekses ekonominya, secara langsung dan tidak langsung, menimbulkan kerugian hingga Rp 200 triliun. Artinya, jika kecelakaan bisa dicegah kerugian itu bisa diperkecil.
DKS menempati bangunan mirip pendopo di sudut Gedung K, FIS UNJ. Kami duduk melingkar beralaskan lantai plesteran semen. Di sekitarnya lalu lalang mahasiswa dan civitas akademika. Sebagian lagi asyik masyuk bercengkerama dan aksi unjuk kesenian bermusik di tepi jalan. “Mereka adalah mahasiswa FIB,” tutur bro Azdi.
Aksi Konkret
Diskusi terus mengalir. Mulai soal rendahnya sinergi para stakeholder keselamatan jalan, teknis keselamatan jalan bagi pemotor, hingga rendahnya kemauan politik pemerintah. “Sudah terlalu banyak teori, tapi praktiknya minim,” sergah bro Rio.
Karena itu, menurut bro Ega, pihaknya berharap ada tindak lanjut dari diskusi kali ini. Dia berharap, tindak lanjut itu merupakan aksi konkret bagi lingkungan.
Sontak bro Rio menyodorkan gagasan soal gerakan sadar keselamatan jalan di lingkungan kampus. Ajak rektorat agar peduli soal keselamatan jalan dengan menjadikan kampus sebagai kawasan percontohan keselamatan jalan.
Saya juga sodorkan soal pemanfaatan moment sebagai ajang penularan virus keselamatan jalan. Mulai dari komunitas mahasiswa hingga ajang penerimaan mahasiswa baru. Tentu dibarengi dengan reward dan punishment-nya.
“Kami berharap juga bisa menggelar seminar untuk warga kampus untuk menjangkau lebih luas lagi,” tukas bro Ega.
Ya. Kegiatan diskusi seperti DKS di UNJ adalah ajang berbagi dan menanamkan kesadaran keselamatan jalan. Setelah itu yang tak kalah penting adalah implementasinya. Banyak aspek untuk mencegah dan mengurangi kecelakaan lalu lintas jalan.
“Salah satunya yang penting adalah mewujudkan transportasi massal yang aman dan nyaman,” tegas bro Rio.
RSA sudah sejak empat tahun belakangan meneriakan soal pentingnya transportasi massal yang aman, nyaman, selamat, tepat waktu, dan terjangkau. Walau, kami juga menyadari pentingnya aspek lain seperti pengubahan perilaku menjadi lebih mau berbagi ruas jalan. Lalu, penegakan hukum yang tegas dan konsisten, serta kelengkapan rambu dan marka jalan. Dan, yang tak kalah penting, mengajak para produsen otomotif untuk lebih giat mengedukasi konsumennya.
“Sekarang kan kendaraan banyak sehingga terjadi pelanggaran,” kata bro
Bram, wakil ketua Socio Bikers.
Diskusi yang bergulir sejak sekitar pukul16.44 hingga 19.45 WIB memang sudah semestinya dituntaskan dengan aksi nyata. Mulai dari diri sendiri.
Implementasi Rules-Skill-Attitude Dalam Ruang Kontestasi Berkendara Indonesia (Bag.2 – Habis)
Rules-Skill-Attitude Sebagai Solusi
Lantas bagaimana kita menyikapi realitas yang kita hadapi sebagai
pengguna jalan dan beradaptasi dengan lingkungan berlalulintas yang
berbahaya bagi keselamatan kita? Dalam hal ini pemahaman akan aturan
(Rules) berlalulintas, kemampuan (skill) berkendara yang baik, dan
sikap (Attitude) dalam berkendara dapat menjadi senjata kita untuk
bertahan dan selamat dari “medan perang” yang kita lalui.
Keseluruhannya dirangkum dalam sebuah segitiga tak terpisahkan,
Rules-Skill-Attitude.
Rules atau peraturan berlalulintas tidak dibuat tanpa perhitungan yang
matang, ia dibuat guna menciptakan kondisi berlalulintas yang aman dan
nyaman. Tidak dilaksanakannya aturan-aturan dalam berlalulintas adalah
salah satu faktor utama dari kesemrawutan dalam situasi berlalulintas
yang kita lalui. Semakin banyak peraturan berlalulintas yang dilanggar
maka kita semakin banyak pula berperan dalam menciptakan “medan
perang” yang semakin berbahaya bagi setiap pengguna jalan. Adapun
skill atau kemampuan dalam berkendara adalah tingkat penguasaan
seorang pengendara dalam menggunakan kendaraanya dengan aman dan
nyaman. Tanpa adanya skill yang memadai tentu seorang pengendara tidak
akan mampu mengendalikan kendaraannya dengan baik dan akan menjadi
satu hal yang berbahaya bagi si pengendara maupun orang lain di
sekitarnya.
Implementasi Rules-Skill-Attitude Dalam Ruang Kontestasi Berkendara Indonesia (Bag.1 dari 2)
Rules-Skill-Attitude Sebagai Upaya Adaptasi Terhadap Situasi
Berkendara yang Berbahaya
Situasi berlalulintas di Indonesia dapat diibaratkan seperti sebuah
“medan perang. Hal ini dikarenakan kondisi berlalulintas di negara
kita sudah merenggut begitu banyak korban sebagai akibat dari buruknya
sistem transportasi yang tidak disertai dengan masih minimnya upaya
beradaptasi dengan situasi tersebut. Jalan raya yang menjadi tempat
dimana kita berkendara juga menjadi arena persaingan atau kontestasi
dengan sesama pengguna jalan yang lain. Persaingan tersebut meliputi
perebutan space atau ruang di jalan raya yang kian hari semakin terasa
sempit, proses adaptasi terhadap situasi berlalulintas yang kita lalui
akhirnya menjadi penting demi meminimalisir potensi bahaya terhadap
pengguna jalan.
Kasih Ibu Kepada Beta
Kasih ibu, kepada beta, tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi, tak harap kembali, bagaikan surya menyinari dunia.
BANYAK diantara kita ingat penggalan syair di atas. Sebuah pengungkapan rasa hormat pada ibu yang melahirkan kita kedunia. Menyirami kasihnya tanpa henti. Tanpa pamrih.
22 Desember, bangsa Indonesia merayakan Hari Ibu. Sejenak kita merenung, betapa ibu mewarnai hidup kita. Membentuk watak kita. Wanita tiang keluarga.
Ibu pula yang bisa membentuk karakter kita soal keselamatan saat berkendara. Bersepeda motor yang aman dan selamat. Mau menghargai sesama pengguna jalan. Ibu berkata, hati-hati di jalan nak.
Apa Imbas Mobil Pribadi Tidak Boleh Minum Premium?
Ada judul berita yang memikat perhatian saya. ‘Mobil Pribadi Dilarang Pakai Premium’. Hal itu mencuat di harian ekonomi, Investor Daily, edisi Rabu (14/12/2011).
Harian yang terbit di Jakarta itu, menyoroti tingginya subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang cukup tinggi. Tentu saja jika tepat sasaran kita semua bisa memaklumi. Tapi, kalau sebaliknya, pasti banyak yang mencibir. Maklum, jumlahnya bisa mencapai puluhan bahkan ratusan triliun rupiah dalam satu tahun.
Pelayanan Publik Masih Buruk
ASYIK nih bahas soal masih buruknya layanan publik di Indonesia. Kebetulan, RSA Indonesia diundang Ombudsman RI dalam rapat koordinasi di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (15/12/2011), untuk membahas hal itu.
Usai memarkir sepeda motor di bagian belakang hotel, saya masuk ke ruang pertemuan berkarpet warna coklat yang sudah dipadati ratusan undangan. Saya hadir setelah Wakil Presiden Boediono memberikan sambutan. Sesi diskusi pun dimulai, mengobok-obok soal lemahnya pelayanan publik di Tanah Air. Bahas kualitas layanan publik di hotel bintang lima nan sejuk.

“Semoga seminar ini bukan semata menghabiskan anggaran,” ujar Taufik Effendi, wakil ketua Komisi II DPR RI, saat memaparkan materi, Kamis.
Sentilan itu sontak direspons senyum dan gelak tawa para peserta. Terlebih ketika Taufik menusuk dengan menyoroti empat aspek untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik.
Dia menyebutkan, harus ada perubahan cara berpikir. “Mentalitas aparat masih rendah,” katanya.
Murah Bikin Sembrono?
BERAPA kerugian akibat kecelakaan lalu lintas jalan di Indonesia? Jangan kaget, pada 2010, pemerintah menaksi nilainya mencapai sekitar Rp 220 triliun. Fantastis!
Oopsss…itu belum seberapa. Ada kerugian yang tak ternilai harganya, jiwa manusia. Pada 2010, tak kurang dari 31.234 jiwa tewas sia-sia di jalan raya. Memprihatinkan.
Artinya, setiap hari ada sekitar 86 jiwa yang tewas dan setiap hari kerugian yang muncul sekitar Rp 603 miliar. Miris.
Lengah, Tidak Tertib, dan Mabuk
ARTIKEL ini bukan cerpen. Judul di atas juga bukan fiksi. Ini fakta. Pada 2010, faktor manusia menjadi penyebab utama kecelakaan lalu lintas di jalan. Data Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya menyebutkan, sekitar 90,92% kecelakaan di wilayah polda tersebut, disebabkan oleh faktor manusia.
Nah, pertanyaannya, apa saja faktor-faktor manusia selaku pengendara yang bisa menyebabkan kecelakaan? Ini dia data yang dirilis Polda Metro Jaya.













