Menjadi anak muda dan berbahaya tampaknya bukan hal yang baru untuk dibicarakan. Namun, menjadi muda dan penuh pertimbangan untuk berbeda dalam berpikir, terutama dalam melakukan tindakan yang berbeda dari anak muda lainnya, mungkin hal itu yang masih sukar terlihat sampai sekarang ini.

 

 

 

Apalagi jika sudah berbicara tentang bagaimana menekan ego di jalan raya, seperti tidak menerobos lampu merah, tidak masuk ke jalur bus Trans Jakarta, tidak mengambil hak pejalan kaki dengan menaiki trotoar, bahkan untuk tidak kebut-kebutan di jalan raya, merupakan beberapa tindakan yang masih sukar terlihat.

 

Entahlah, mungkin makna muda telah bergeser menjadi kata ‘semena-mena’ atau mungkin yang dimaksud muda adalah pembenaran emosi.

 

Hampir setiap hari setidaknya ada 3 orang meninggal sia-sia di jalan raya, itu menurut data WHO. Namun, tampaknya hal semacam ini pun, masih tidak digubris secara serius. Pelanggaran masih marak di mana-mana, beragam alasan pembenaran dari pelanggaran masih selalu diucapkan. Ya… apalagi kalau sudah kena tilang, ujung-ujungnya yang paling pertama mengajak damai dengan cara memberi uang kepada aparatur lalu lintas, yakni Polisi, ya, masyarakat itu sendiri, anak muda itu sendiri. Dan ujung-ujungnya hal yang pertama akan terucap adalah “Sial, anjing banget, deh. Gue abis dipalak, nih, gara-gara cuma nggak pake helm di pertigaan jalan deket rumah. Padahal, gue udah bilang kalau rumah gue deket banget. Apes….” Benarkah seperti itu?

 

Mari kita berpikir sejenak, resapi pelanggaran yang muncul pertama kali itu ulah siapa? Siapa yang membangun paradigam untuk korup? Untuk menjadi bangsa pencari rente?

 

Tulisan singkat ini hanya ingin menjelaskan apa yang terjadi, bicara tentang kegelisahan, bukan untuk menjadikan sipenulis sebagai yang paling tahu atau sok tahu.

 

Jika kita benci kepada koruptor, bukankah kita juga seharusnya tidak bertingkah layaknya koruptor. Jika kita ingin negara ini bebas korupsi, maka dengan mulai tindakan dari tidak menyerobot lampu merah, tidak naik ke atas trotoar untuk merampas hak pejalan kaki adalah langkah sederhana untuk tidak menjadi koruptor.

 

Kalau ada yang mengatakan ‘aturan dibuat untuk dirusak’. Maka coba Anda pikirkan kembali, jika ada orang lain yang masuk ke dalam rumah Anda, kemudian merusak barang-barang perabotan rumah Anda, bahkan memaki Anda di dalam rumah sendiri, apakah itu hal yang Anda inginkan? Apakah Anda masih berpikir aturan yang Anda buat pantas atau bisa dirusak seenaknya oleh orang lain, gara-gara Anda masih berprinsip ‘aturan dibuat untuk dirusak’.

 

Coba pikirkan kembali.

@novriliantobayu

About RSA Admin

RSA memfokuskan diri pada isu-isu pentingnya keselamatan jalan dengan menekankan ketaatan kepada peraturan lalu lintas, perilaku berkendara yang tepat dan standar minimum keterampilan berkendara.

3 thoughts on “Anak Muda dalam Keterasingan

  1. Queria te agradecer pela informação que você disponibiliza em
    seu site . Isso ajuda demais gente semelhantes a mim
    que querem aprender mais sobre este fascinante mundo.
    Parabéns

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *