17Nov/19

Peringati WDOR, RSA Ajak Pengguna Jalan Berkomitmen Turunkan Angka Kecelakaan

Jakarta, rsa.or.id — Seluruh negara di dunia setiap tahun menjadikan tanggal 17 November sebagai Hari Mengenang Korban Kecelakaan Lalu Lintas Dunia atau ‘World Day of Remembrance for Road Traffic Victims’ (WDOR). Namun hal itu tidak serta merta menurunkan angka fatalitas kecelakaan.

Untuk itu, Road Safety Association (RSA) Indonesia, sebuah LSM Keselamatan Jalan di Indonesia, tak pernah surut semangat untuk terus berupaya menurunkan angka fatalitas kecelakaan lalu lin tas dengan menggandeng seluruh pengguna jalan.

“Hari ini semua elemen pengguna jalan, pemotor, pemobil, pesepeda juga pejalan kaki bersatu, hilangkan friksi. Kami mengajak masyarakat untuk mencegah kecelakaan dengan selalu mematuhi aturan lalu lintas sekaligus menyelamatkan anak bangsa dari kecelakaan lalu lintas,” kata Rio, Badan Kehormatan RSA, saat acara peringatan WDOR 2019, di Perempatan Jatiwaringin, Pangkalan Jati, Jakarta Timur, Minggu (17/11/2019).

Selain mengenang korban kecelakaan lalu lintas dunia, RSA Indonesia juga menggelar ‘People’s Declaration’ atau Deklarasi Bersama. Penandatanganan deklarasi ini merupakan pergerakan dari Aliansi Global LSM keselamatan seluruh dunia, dan Indonesia diwakili oleh LSM Keselamatan Jalan, Road Safety Association (RSA) Indonesia.

Deklarasi ini juga bagian dari komitmen bersama atau ‘Commit To Act’ dalam melaksanakan program Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yang telah mencanangkan bersama seluruh negara di dunia untuk menurunkan angka fatalitas kecelakaan hingga 50 persen di tahun 2030.

Menurut Rio, hasil dari tanda tangan deklarasi ‘Commit to Act’ ini akan diumumkan pada pertemuan LSM Keselamatan Jalan Sedunia yang akan berlangsung di Swedia, pada 18 Februari 2020. Pertemuan tersebut akan dihadiri oleh pemerintah seluruh negara dibawah PBB yang berkomitmen untuk menurunkan angka fatalitas kecelakaan lalu lintas.

RSA Indonesia juga membuka penandatanganan deklarasi bersama ‘Commit to Act’ secara daring (online) dengan membuka tautan berikut:

http://www.roadsafetyngos.org/peoples-declaration/

Secara khusus, RSA Indonesia mengapresiasi semua peserta yang telah meluangkan waktu dalam acara peringatan WDOR 2019 ini. Dari pengguna jalan hadir antara lain: klub dan komunitas sepeda motor, komunitas pesepeda, komunitas pejalan kaki, komunitas driver ojol, dan relawan ranjau paku.

Sementara dari ‘stakeholder’ keselamatan jalan di Indonesia, hadir perwakilan Kementerian Perhubungan dalam hal ini Direktorat Perhubungan Darat, Kementerian Kesehatan, serta bantuan pengamanan dari Dinas Perhubungan DKI Jakarta dan Satpol PP Jakarta Timur.

“RSA menyampaikan penghargaan setinggi tingginya buat semua rekan rekan yang hadir meluangkan waktu sejak pagi jam 8 hingga jam 12 siang, mengajak pengguna jalan untuk selalu berperilaku aman dan selamat saat berlalu lintas,” pungkas Rio. 

Narahubung
Rio +62 812-1271-978

10Nov/19

Ayo Ikut Ambil Bagian, Tandatangani Deklarasi Bersama WDOR 2019

Jakarta, rsa.or.id — Dalam acara Hari Mengenang Korban Laka Lantas Sedunia atau ‘World Day of Remembrance for Road Traffic Victims’ (WDOR) pada 17 November 2019 mendatang, bakal digelar juga ‘People Declaration’ atau Deklarasi Bersama. Penandatanganan Deklarasi Bersama ini merupakan pergerakan dari Aliansi Global LSM Keselamatan Seluruh Dunia, dan Indonesia diwakili oleh LSM Keselamatan Jalan, Road Safety Association (RSA) Indonesia.

Hasil dari tanda tangan deklarasi yang juga disebut ‘Commit to Act’ ini akan diumumkan pada pertemuan LSM Keselamatan Jalan Sedunia yang akan berlangsung di Swedia, pada 18 Februari 2020. Dimana pada pertemuan tersebut akan dihadiri oleh pemerintah seluruh negara dibawah PBB yang berkomitmen untuk menurunkan angka fatalitas kecelakaan lalu lintas.

Untuk penandatanganan Deklarasi Bersama ‘Commit to Act’ secara daring (online) dapat membuka tautan berikut:

http://www.roadsafetyngos.org/peoples-declaration/

atau tandatangani langsung di acara Peringatan Korban Laka Lantas sedunia dan Deklarasi pada tanggal 17 November 2019, di perempatan Jatiwaringin-Pangkalan Jati, Jakarta Timur, pukul 09.00 – 12.00 WIB.

“Saatnya kita Revolusi Keselamatan Jalan di Indonesia. Patuhi Aturan Lalu Lintas dan Selamatkan Generasi Bangsa,” demikian tutup rilis RSA. (*/ls)

10Nov/19

Hari Mengenang Korban Kecelakaan Lalu Lintas Sedunia, RSA Kembali Turun ke Jalan

Jakarta, rsa.or.id — Tanggal 17 November, diperingati sebagai hari Mengenang Korban Laka Lantas Sedunia atau ‘World Day of Remembrance for Road Traffic Victims’ (WDOR). Dengan semangat menurunkan angka fatalitas kecelakaan lalu lintas, Road Safety Association (RSA) Indonesia berkomitmen untuk beraksi dimulai dari diri sendiri dan mengajak seluruh pengguna jalan untuk ikut ambil bagian.

“Selamatkan anak bangsa dari kecelakaan lalu lintas, selalu patuhi aturan lalu lintas demi nyawa kita dan generasi penerus kita,” demikian isi rilis tertulis RSA.

Untuk itu, RSA mengajak seluruh pengguna jalan menghadiri dan mengikuti giat Peringatan Korban Laka Lantas sedunia dan Deklarasi Bersama ‘Indonesia untuk Dunia’ di Perempatan Jatiwaringin-Pangkalan Jati, Jakarta Timur, pada 17 November 2019, pukul 09.00-12.00 WIB. (*/ls)

16Jul/19

Viral, Video 2 Pemotor Ngotot Terobos Busway

Jakarta, rsa.or.id — Video 2 orang pengendara sepeda motor yang ngotot masuk jalur bus TransJakarta (busway) viral di media sosial. Kedua pemotor tersebut tetap ingin masuk jalur TransJakarta meski sudah dilarang petugas.

Dalam video tersebut, tampak kedua pemotor tetap berada di depan portal. Salah satu dari pemotor tersebut bahkan turun dari motor dan beradu argumen dengan seorang petugas.

Di video berdurasi 15 detik tersebut, tampak portal di busway masih ditutup meski kedua pemotor tetap ingin melintas. Ada empat petugas yang berjaga di lokasi tersebut.

Akibat kejadian ini, sebuah bus TransJakarta tampak tertunda perjalanannya. Terdengar klakson dibunyikan beberapa kali akibat kejadian ini.

Juru bicara PT TransJakarta, Wibowo, mengatakan peristiwa itu berlngsunh pada Senin (15/7/2019) pukul 16.30 WIB. Dia menyebutkan peristiwa itu terjadi di Koridor 3, di daerah Jalan KH Hasyim Asyari, Jakarta Pusat, tepatnya di portal Sangaji.

Kedua pemotor tersebut tetap bergeming meski sudah dilarang petugas. Wibowo mengatakan kedua pemotor tersebut telah ditilang oleh pihak kepolisian.

“Pengendara motor sudah ditindak oleh pihak berwajib,” kata Wibowo.

Sumber: Detik

03Jun/19

“One Way” di Tol Jakarta-Palimanan Disetop

Cikampek, rsa.or.id — PT Jasa Marga bersama pihak kepolisian menghentikan penerapan sistem “one way” atau satu arah dari Jakarta sampai Palimanan yang dilakukan untuk mengurai kemacetan selama arus mudik lebaran 2019.

“Rekayasa jalan tol dengan sistem one way dihentikan. Jadi sekarang, jalan Tol Jakarta-Cikampek dan jalan Tol Cipali kini normal dua arah,” kata Corporate Communications Department Head PT Jasa Marga Irra Susiyanti, di Cikampek, seperti dikutip dari Antara, Senin (3/6/2019).

Dia mengatakan, atas diskresi pihak kepolisian, PT Jasa Marga mulai Senin sore menghentikan rekayasa lalu lintas “one way”.

Sebelumnya, selama beberapa hari petugas melakukan one way mulai dari kilometer 70 Gerbang Tol Cikampek Utama Jalan Tol Jakarta-Cikampek hingga kilometer 414 Gerbang Tol Kalikangkung Jalan Tol Batang-Semarang.

Menurut dia, dengan dihentikannya sistem one way, maka saat ini jalur tol telah berfungsi normal dua arah, baik yang menuju Jakarta, maupun yang akan meninggalkan Jakarta.

Sementara itu, dari pantauan Antara jalan Tol Jakarta-Cikampek dua arah pada Senin ini ramai lancar. Pengemudi bisa memacu kendaraannya hingga 80-90 kilometer per jam. Tidak terjadi kepadatan arus lalu lintas di jalan Tol Jakarta-Cikampek wilayah Karawang.

Sumber: Ayobandung.com

03Jun/19

Hari Ketiga Mudik, Korlantas Polri Menindak 11.524 Pelanggaran

Jakarta, rsa.or.id — Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri mencatat sebanyak 11.524 penindakan pelanggaran lalu lintas saat Operasi Ketupat 2019 pada H-3 Hari Raya Idul Fitri. Dari 11.524 pelanggaran yang ditindak, sebanyak 3.238 di antaranya penilangan dan 8.286 berupa teguran.

“Pada umumnya yang ditindak ini karena pemudik mengantuk di jalan dan tidak mematuhi rambu lalu lintas,” ujar Kepala Posko Operasi Ketupat 2019 Korlantas Polri, Kombes (Pol) Bakharuddin Muhammad Syah di Kantor Korlantas Polri, Jakarta Selatan, Senin (3/6/2019).

Bakharuddin mengatakan, para pengemudi, baik yang menggunakan mobil dan motor, harus beristirahat setiap empat jam sekali.

Pengaturan waktu istirahat ini untuk meminimalisasi kecelakaan karena pemudik tidak fokus dalam berkendara. Dalam penindakan pelanggaran lalu lintas selama Operasi Ketupat 2019, Korlantas Polri merujuk pada sejumlah aturan, seperti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Selain itu, Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Umum. Kemudian, Peraturan Kapolri Nomor 9 Tahun 2011 tentang Manajemen Operasi Kepolisian.

“Kami meminta pemudik untuk tidak berburu-buru sampai ke tempat tujuan. Perhatikan peraturan yang sudah tertera,” kata dia.

Bakharuddin juga mengimbau para pemudik untuk menggunakan data dan informasi terkait sarana, prasarana, serta peraturan lalu lintas yang terdapat di posko-posko mudik setiap daerah.

Adapun, hingga Minggu (2/6/2019), terdapat 294.000 kendaraan yang melintasi Tol Jawa Tengah. Angka kecelakaan lalu lintas yang tercatat dari 30 Mei-Juni sebanyak 284 kecelakaan.

Sumber: Kompas

03Jun/19

Hingga H-3 Lebaran: 284 Kecelakaan, 61 Orang Meninggal Dunia

Jakarta, rsa.or.id — Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menjelaskan data kecelakaan dan korban meninggal selama arus mudik dari H-7 hingga H-3 lebaran 2019. Hingga H-3, tercatat ada 284 kecelakaan dan 61 orang yang meninggal dunia.

Jumlah kecelakaan selama arus mudik sendiri dinilai menurun jika dibandingkan dengan arus mudik pada tahun lalu. Ada sejumlah faktor yang disebut membuat angka kecelakaan dan korban yang meninggal selama arus mudik menurun.

“Ini bicara kecelakaan, secara umum memang turun, dibanding tahun lalu,” ujar Ketua Posko Harian Tingkat Nasional Angkutan Lebaran 2019, Sigit Irfansyah, di Posko Nasional, Kemenhub, Jalan Medan Merdeka Barat, Senin (3/6/2019).

Salah satu faktor yang membuat kecelakaan menurun selama arus mudik ialah masyarakat yang lebih sadar akan keselamatan berkendara. Faktor mudik gratis juga dinilainya mengurangi jumlah kecelakaan.

“Kedua mungkin juga karena ada mudik gratis, karena mudik gratis paketnya sepeda motor dan orangnya diangkut pakai bus,” ujar Sigit.

Berikut data jumlah kecelakaan dan korban meninggal saat H-7 hingga H-3 lebaran pada musim mudik 2018 dan 2019:

H-7 Lebaran:
Tahun 2018:
Jumlah kecelakaan: 70
Korban meninggal: 14

Tahun 2019:
Jumlah kecelakaan: 41
Korban meninggal: 6

H-6 Lebaran:
Tahun 2018:
Jumlah kecelakaan: 180
Korban meninggal: 40

Tahun 2019:
Jumlah kecelakaan:65
Korban meninggal: 9

H-5 Lebaran:
Tahun 2018:
Jumlah kecelakaan: 163
Korban meninggal: 40

Tahun 2019:
Jumlah kecelakaan: 47
Korban meninggal: 12

H-4 Lebaran:
Tahun 2018:
Jumlah kecelakaan: 152
Korban meninggal: 25

Tahun 2019:
Jumlah kecelakaan: 67
Korban meninggal: 18

H-3 Lebaran:
Tahun 2018:
Jumlah kecelakaan: 138
Korban meninggal: 29

Tahun 2019:
Jumlah kecelakaan: 64
Korban meninggal: 16

Total:
Tahun 2018:
Jumlah kecelakaan: 703
Korban meninggal: 148

Tahun 2019:
Jumlah kecelakaan: 284
Korban meninggal: 61

Sumber: Detikcom

29May/19

Mudik Lewat Trans Jawa? Waspada 4 Hal Ini

Jakarta, rsa.or.id — Kehadiran jalan Tol Trans Jawa yang menghubungkan Jakarta hingga ke Surabaya menjadi pilihan masyarakat yang hendak mudik Lebaran tahun ini. Tersambungnya jalan tol secara penuh ini tentunya memudahkan masyarakat yang hendak mudik, khususnya yang menggunakan kendaraan pribadi.

Meski begitu, ada sejumlah catatan atau hal penting yang perlu diketahui para pemudik bila menggunakan jalur Trans Jawa ini. Apa saja yang perlu diketahui pemudik?

1. Hati-hati Pemalakan di Rest Area Palikanci

Pemudik yang berhenti di rest area jalan Tol Palimanan-Kanci diminta berhati-hati terhadap aksi premanisme. PT Jasa Marga Cabang Palikanci, Cirebon, Jawa Barat selaku pengelola pun telah berupaya mengantisipasi premanisme tersebut.

Deputi General Manager PT Jasa Marga Cabang Palikanci Zakaria mengatakan premanisme kepada pemudik menjadi perhatian serius. Premanisme terhadap pemudik itu umumnya berupa pemalakan.

Contohnya pemudik yang melaksanakan ibadah, lalu sandal atau sepatunya dipindah ke penitipan. Setelah beribadah, pemudik mengambil sandal atau sepatunya dengan mengeluarkan uang.

“Mereka bergantian dan setiap kelompok rata-rata bisa dapat Rp 1 juta dalam sehari. Kalau dibagi anggota kelompok bisa dapat Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu sehari,” kata dia di Kantor PT Jasa Marga Cabang Palikanci, Cirebon.

Untuk itu, kata Zakaria, pihaknya kini telah bekerja sama dengan menggandeng pelaku. Jasa Marga, kata dia, mempekerjakan pelaku dengan memberi bayaran yang sesuai upah minimum, agar tak ada lagi pemalakan yang merugikan para pemudik.

“Mereka tidak keberatan ditertibkan, hanya yang diperlukan adalah solusi bagi pendapatan mereka,” katanya.

Manajemen Jasa Marga tetap memperbolehkan mereka melakukan aktivitasmya tersebut. Namun, mereka tak boleh memungut biaya apapun dari para pemudik. Pemudik juga diimbau untuk tak memberikan apapun terhadap pekerja.

“Tetapi free dan mereka mendapatkan pendapatan dari Jasa Marga,” ujar dia.

Pihaknya juga merekrut warga untuk membantu membersihkan sampah di sekitar rest area.”Kami juga mengimbau agar pemudik juga tidak membuang sampah sembarangan,” jelasnya.

2. Puncak Mudik Ruas Batang-Semarang Diprediksi H-5

Puncak arus mudik di ruas tol Batang-Semarang diprediksi terjadi pada 31 Mei 2019 atau H-5 Lebaran. Jasa Marga Semarang-Batang (JSB) pun melakukan percepatan penyiapan infrastruktur untuk melayani para pemudik yang melintasi jalur tersebut.

Direktur Utama Jasa Marga Semarang-Batang Arie Irianto mengungkapkan, ruas tol Semarang ini baru pertama kali dilewati pemudik dengan status beroperasi penuh pada Lebaran nanti. Di mana, pada tahun lalu ruas tol ini masih berstatus fungsional saat mudik Lebaran.

“Untuk mudik, balik Lebaran jauh lebih baik, dulu kita masih fungsional, masih banyak yang rigid belum selesai. Alhamdulillah akhir tahun 2018 sudah beroperasi dan sudah dapat sertifikat laik operasi,” kata Arie di kantor Jasa Marga Semarang-Batang, Semarang.

Karenanya, kata Arie, pihaknya menyiapkan sebanyak 38 gardu pembayaran untuk melayani pemudik yang melintas di Gerbang Tol Kali Kangkung untuk memperlancar arus kendaraan. Jumlah tersebut lebih banyak dibandingkan gardu eksisting sebanyak 13 gardu.

“Di ruas Semarang-Batang juga tersedia empat rest area yang bisa dimanfaatkan para pemudik. Baik di jalur A dari Jakarta, maupun di jalur B dari Semarang, masing-masing ada dua rest area,” kata Arie.

Selain itu, pihaknya juga menerjunkan petugas pembawa mobile reader yang akan mendatangi mobil-mobil pemudik saat akan masuk di Gerbang Tol Kali Kangkung.

“Untuk puncak arus mudik diperkirakan terjadi tanggal 31 Mei. Diperkirakan ada 55.000 kendaraan yang melintas di Gerbang Tol Kali Kangkung. Kalau untuk arus balik diperkirakan akan ada 47.000 kendaraan yang melintas,” katanya.

Lebih dari itu, Arie meminta kepada masyarakat yang hendak menggunakan jalan tol untuk mudik Lebaran nanti bisa mengisi uang elektroniknya. Hal itu diperlukan agar tak menghambat arus lalu lintas di gerbang tol.

“Jadi masyarakat harus pastikan kendaraan laik untuk digunakan, pengemudi juga fit, saldo e-money juga harus cukup. Kalau nggak cukup bakal menyusahkan orang-orang,” ujarnya.

3. Awas Kantuk di Ruas Ngawi-Kertosono

Ada yang harus diwaspadai saat pemudik melintas di tol Ngawi-Kertosono, baik dari arah Ngawi maupun sebaliknya. Ruas sepanjang 88 kilometer ini menjadi salah satu jalan yang paling sering terjadi kecelakaan lalu-lintas.

Dirut PT Jasa Marga Ngawi Kertosono Kediri, Iwan Moediatno mengungkapkan, ruas tol Ngawi-Kertosono menjadi titik lelah baik untuk perjalanan dari arah barat maupun timur.

“Karena kalau dari timur sudah terkuras di Semarang dan digenjot lagi di Solo, nah di Surabaya ke tempat kita. Kebetulan jalannya juga lurus, dan record kita, kita juara 1 dalam lalu-lintas kecelakaan. Kebanyakan tabrak belakang,” kata Iwan di Surabaya.

Iwan menjelaskan, kecelakaan biasanya terjadi karena kesalahan dan ketidakhati-hatian pengemudi sendiri. Yang menjadi faktor penyebab kecelakaan paling banyak ialah soal kantuk dan lelah.

“Kesalahan pengemudi, ngantuk, lelah. Kemudian faktor kendaraan, ban, rem, itu juga menonjol. Terutama ban, itu seringkali meledak,” ujarnya.

Untuk meminimalisir kecelakaan yang terjadi khususnya di musim mudik nanti, Iwan mengaku pihaknya telah menyiapkan sejumlah sarana keselamatan tambahan. Mulai dari penambahan rambu batas wilayah, rambu kecepatan, rambu menjelang rest area, hingga rambu awal masuk tol.

Selain itu, pemasangan rumble strip juga dilakukan di titik-titik sebelum rest area dan jalur utama.

“Untuk sarana keselamatan lainnya juga kita tambah warning light, LED biru, dan penambahan guardrail. Semoga ini agak ampuh ya,” katanya.

4. Titik Rawan Macet di Ruas Surabaya-Gempol

PT Jasa Marga (Persero) memperkirakan terdapat dua titik atau lokasi yang berpotensi menimbulkan kemacetan saat mudik Lebaran di ruas Tol Surabaya-Gempol.

General Manager (GM) Jasa Marga Cabang Surabaya-Gempol Bagus Cahya AB mengatakan dua titik tersebut yakni di Gerbang Tol (GT) Sidoarjo 2 dan GT Kejapanan. Bagus mengaku pihaknya telah menyiapkan strategi terkait kondisi tersebut.

“Apabila terjadi antrean panjang di GT Sidoarjo 2, maka arus lalu lintas dialihkan melalui GT Sidoarjo 1 bagi kendaraan yang menuju arah Porong,” jelasnya di Surabaya.

Untuk mengantisipasi kepadatan di GT Kejapanan Utama, lanjut Bagus, pihaknya berkoordinasi dengan Kepolisian akan melakukan pengaturan lalu lintas guna membagi beban transaksi, baik entrance maupun exit, melalui sistem buka/tutup.

Langkah lainnya ialah memfungsikan mobile reader untuk meningkatkan kapasitas transaksi.

Secara umum, kata Bagus, layanan transaksi yang dilakukan saat arus mudik tahun ini adalah menambah gardu operasi GT Kejapanan, GT Waru Utama, dan GT Sidoarjo 2, memanfaatkan 28 unit mobile reader, melayani top up tunai di tiga titik GT, dan menyediakan layanan gerak bekerja sama dengan bank terkait di Tempat Istirahat & Pelayanan (TIP) atau rest area.

Bagus juga mengatakan, sebagai bentuk pengaturan lalu lintas, pihaknya juga menghentikan pekerjaan proyek H-10 sampai H+10 untuk meminimalisir gangguan, mengatur waktu operasi angkutan barang oleh Kemenhub, menempatkan petugas di lokasi rawan kepadatan, dan meningkatkan kapasitas lajur dengan contraflow.

“Sementara itu, sarana penunjang yang disiapkan antara lain Variable Message Sign (VMS) sebanyak 12 unit, CCTV 60 unit, mobile VMS 1 unit,” tuturnya.

Sumber: Detik

20May/19

Penggunaan GPS Handphone, Menhub Setuju dengan Usulan RSA

Jakarta, rsa.or.id — Perkembangan teknologi informasi saat ini tidak dapat dibendung, oleh karena itu, kita sebagai pengguna harus juga bijak dalam menyikapinya.

Keputusan Mahkamah Konstitusi dalam menolak gugatan terhadap pasal 106 (1) kami rasa sudah tepat, apabila dilihat dari sisi hukum yang berlaku. Sebab, RSA selalu memperhatikan 3 aspek keselamatan berkendara, atau yang disebut segitiga RSA yang terdiri dari menaati aturan lalu lintas, memahami ketrampilan berkendara, dan beretika di jalan raya.

Dalam polemik GPS pada handphone ini, RSA memperhatikan dua aspek yang menjadi bahan analisa kami, pertama adalah, mengakomodir arus teknologi informasi yang mempermudah pengendara, dan juga faktor ketrampilan berkendara, dengan tetap menghargai aturan lalu lintas.

Seperti yang kita ketahui, bahwa instrumen berkendara ada beberapa hal, antara lain, kemudi, persneling, pedal gas, dan spion. Masing-masing dari instrumen tersebut memiliki fungsi yang berbeda, dalam hal ini, kami mencoba mengusulkan penggunaan GPS Handphone diperlakukan seperti spion. Dimana, kita memperlakukan spion dengan cara melirik, bukan dengan melihat secara intens.

Maka, bila dalam aturan berkendara dengan dengan konsentrasi, menambah kegiatan berkendara dengan cara melirik GPS mungkin bisa dipertimbangkan. Dengan catatan, pengendara tidak melakukan kegiatan operasional dari handhone, misalnya, merubah rute, merubah pengaturan aplikasi, apalagi sampai menjalankan aplikasi lainnya.

Hal ini secara lisan disetujui oleh Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, dalam interview singkatnya di radio Elshinta hari Selasa, 5 Februari 2019 lalu, yang juga narasumber lainnya adalah Rio Octaviano, Badan Kehormatan RSA.

Saat itu, Rio mengusulkan kepada Menhub tentang GPS pada handphone agar dapat disesuaikan, sehingga dapat mengakomodir derasnya arus teknologi saat ini. Menhub, menyetujui usulan GPS pada handphone ini diperlakukan seperti spion yang hanya dilirik bukan dilihat, tapi Menhub juga dengan tegas melarang kegiatan lainnya yang sampai mengganggu konsentrasi saat berkendara.

Rio juga mengatakan, bila saja pemerintah mau tetap melarang tanpa kompromi tentang penggunaan GPS pada handphone, maka, pemerintah wajib melarang mobil-mobil yang melengkapi fitur GPS, menelepon, bahkan mirroring handphone sehingga bisa menonton youtube. (*)

20May/19

Bukber RSA Sukses Dihadiri Stakeholder Keselamatan Jalan & Pengguna Jalan

Jakarta, rsa.or.id — Sabtu (18/5/2019) menjadi momen bersejarah bagi Road Safety Association (RSA) Indonesia. Pada hari itu digelar Buka Puasa Bersama dan Silaturahmi antar pengguna jalan. Acara sukses dihadiri oleh stakeholder keselamatan jalan, Korlantas Polri dan Kementerian Perhubungan, dan semua unsur pengguna jalan, mulai dari pejalan kaki, pesepeda kayuh, pesepeda motor, pengguna mobil, dan organisasi pegiat keselamatan jalan.

Acara yang digelar di Kedai Sinau, salah satu tempat ngopi di Jagakarsa, Jakarta Selatan, dimulai dengan paparan dari Badan Kehormatan RSA Indonesia, Rio Octaviano soal hasil Seminar Internasional NGO Road Safety seluruh dunia yang dihadiri RSA, berlangsung di Yunani beberapa waktu lalu.

Rio menyampaikan adanya perubahan pencapaian target penurunan angka kecelakaan lalu lintas di dunia sebesar 50% pada tahun 2030. “Untuk mencapai hal itu, Global Alliance NGO Road Safety mencanangkan program ‘Save Lives #SpeakUp’ yang bersamaan dengan Global Road Safety Week oleh United Nation atau #UNgrsw,” kata Rio menjelaskan.

Wujud nyata dari tagar #SpeakUp dilakukan di acara itu juga, dimana RSA meminta semua peserta untuk menuliskan ide, dan aspirasinya di atas signboard yang dibagikan. Banyak ide, dan aspirasi yang disampaikan peserta.

“Jumlah korban kecelakaan masih tinggi, saatnya kita lakukan action,” ujar salah satu peserta dari Save The Children yang diminta membacakan tulisan aspirasi di signboard.

“Karena sekarang bulan puasa, saya usulkan program PAHALA, yang artinya pakai helm di kepala,” kata peserta lain dari unsur pesepeda motor yang disambut tepuk tangan hadirin.

Sementara pegiat Koalisi Pejalan Kaki, Alfred mengingatkan kembali akan fungsi trotoar. “Mengingatkan lagi buat kawan kawan. Trotoar bukanlah dekorasi. Iya jalur buat pejalan kaki. Kita semua adalah pejalan kaki,” ujar Alfred.

Lain lagi yang disampaikan komunitas First Aid For Indonesia (FAFI). Eko, perwakilan FAFI yang hadir mengatakan pentingnya pertolongan pertama pada korban kecelakaan. “First aid first protection. Setiap korban kecelakaan patut mendapat pertolongan dari orang yang paham. Banyak kasus kematian korban laka justru dipicu oleh pertolongan pertama yang tidak benar,” tukas Eko.

Dari stakeholder keselamatan jalan, Korlantas Polri diwakili AKBP Halim Rasyid, dan dari Kemenhub dihadiri Bapak Avi, dari Subdit Manajemen Keselamatan, Bapak Elia Octo dari Dit. Sarana.

Dalam sambutannya, mereka menyampaikan perkembangan terkini terkait kesiapan Pemerintah dalam menghadapi arus mudik lebaran 2019. “Kami telah siap mengamankan, dan melayani perjalanan mudik dan arus balik rekan-rekan sekalian. Kami pastikan perjalanan mudik nanti akan aman, nyaman, lancar dan selamat,” katanya. (ls)